Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
70


__ADS_3

Alvino yang baru saja sampai tempat acara, memarkirkan mobilnya secara sembarangan dan bergegas masuk ke dalam. Sesampainya di ruangan dia terkejut karena Kenan baru saja selesai melamar Ana, tepuk tangan riuh terdengar menggema di ruangan itu. Tangan Alvino mengepal erat, bahkan rahangnya terlihat mengeras. Bagaimana bisa mereka tetap berbahagia sementara Rania, istrinya sedang terluka.


Ketika Alvino hendak mendekati Kenan, langkah kakinya terhenti saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ia menoleh dan melihat Nathan yang sedang menatap bingung ke arahnya.


"Kamu kok disini, Al? Katanya tidak bisa datang?" tanya Nathan heran.


"Di mana Rania?" Bukannya menjawab, Alvino justru bertanya penuh dengan penekanan.


"Rania sedang makan tuh." Alvino mengikuti arah telunjuk Nathan yang mengarah ke tempat Rania duduk. Ia melangkahkan kakinya lebar mendekati Rania.


"Kak Al?" panggil Rania, kedua alisnya terlihat menaut saat melihat kedatangan suaminya yang katanya sedang keluar kota. Alvino tidak menjawab, dia menarik tubuh Rania masuk ke dalam dekapannya dan menciumi puncak kepala istrinya berkali-kali.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Alvino lembut, dia melerai pelukannya dan menangkup kedua pipi Rania.


"Aku baik-baik saja. Apa Kak Al masih marah padaku?" tanya Rania lirih. Dia menatap ke arah lantai, tidak berani menatap ke arah suaminya yang terlihat sangat khawatir.


"Aku tidak marah padamu, tidak pernah bisa marah padamu. Maafkan aku." Rania menarik kedua sudut bibirnya, dia tersenyum manis ke arah Alvino hingga membuat Alvino gemas dan mencium bibir Rania begitu saja. Wajah Rania terlihat merona merah dan juga malu, karena ia sangat yakin pasti sekarang dirinya sedang menjadi pusat perhatian.


"Ehem!" Alvino melepas ciumannya saat mendengar dehaman dari sampingnya.

__ADS_1


"Auw, Auw. Sakit, Dad!" pekik Alvino sambil memegangi telinganya yang ditarik oleh sang ayah.


"Kamu ini tidak tahu malu! Ciuman di tempat umum, kamu tidak lihat ada adik-adikmu? Mereka masih kecil jangan cemari mata polos mereka!" omel Davin tanpa melepas jewerannya padahal telinga Alvino sudah terlihat memerah.


"Dad, aku hanya meniru Daddy, bukankah Daddy juga sering mencium mommy di depan umum?" tanya Alvino memojokkan. Seketika jeweran telinga tangan Davin terlepas begitu saja. Memang benar apa yang dikatakan anak sulungnya itu, dia terkadang tanpa sadar mencium istrinya di manapun tanpa peduli tempat saat sedang merasa begitu gemas.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau jatuhnya jauh, bisa jadi buah itu mengkhianati sang pohon," ucap Jo santai sambil menyeruput secangkir kopi hitam di tangannya. Tatapan Davin ke arah Jo menajam, tapi Jo seolah tidak peduli dan tetap duduk santai.


"Kamu selalu saja menyebalkan, Jo! Ku kutuk kamu ...."


"Jangan mengutuk sembarangan, Tuan! Belajarlah dari masa lalu," sela Jo memotong ucapan Davin. Karena merasa begitu kesal, Davin menendang kursi yang di duduki Jo dan hanya membuat Jo tergelak keras.


"Daddy!" Davin menghentikkan gerakannya saat mendengar teriakkan dari anak-anaknya.


"Sorry Daddy lupa." Mereka pun memutar bola matanya malas melihat Davin yang sedang menunjukkan rentetan gigi putihnya.


Alvino mengepalkan tangannya saat melihat Kenan berjalan mendekat ke arahnya sambil bergandengan tangan dengan Ana.


"Ken! Bisa kamu jelaskan semuanya?" tanya Alvino penuh penekanan.

__ADS_1


"Apa yang harus kujelaskan?" tanya Kenan berpura-pura tidak tahu.


"Kamu bilang Rania terluka dan tidak sadarkan diri, tapi lihatlah istriku baik-baik saja!"


"Kalau istrimu baik-baik saja, kenapa kamu malah sewot begitu? Apa kamu mau kalau istrimu benar-benar terluka?"


"Kenan!"


"Hahah, maafkan aku, Al. Aku hanya menuruti apa yang orang tuamu perintahkan." Mendengar ucapam Kenan, Alvino segera menatap penuh tanya ke arah Davin dan Aluna secara bergantian.


"Maaf Mommy terpaksa melakukannya, karena Mommy tidak ingin melihat Rania yang sedih. Kamu keterlaluan, Al!" Suara Aluna terdengar meninggi, sedangkan Alvino menghembuskan napasnya secara kasar.


"Mommy, bukankah semalam sudah kuceritakan sama Mommy?" tanya Alvino dengan lesu.


"Yes, tapi bukan begitu caranya. Mommy tidak tega melihat Rania yang sedih," sahut Aluna. Alvino pun hanya diam, dia tidak berani mendebat lagi. Karena siapapun yang mendebat Aluna, pasti akan kalah telak.


...🍫🍫🍫🍫...


Kasih Author penyemangat dong 🙊🙊

__ADS_1


__ADS_2