
Di bawah selimut, dua manusia terlelap dengan tubuh yang saling berpelukan. Napas mereka baru saja bisa teratur, bahkan tubuh mereka terasa begitu lengket. Alvino mendaratkan ciuman di kening Rania setelah melakukan percintaan panas mereka. Namun, kedua alis Alvino terlihat saling menaut saat melihat wajah Rania yang terlihat sendu.
"Sayang, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Alvino heran. Rania tidak menjawab, ia hanya menggeleng pelan. "Jangan membohongiku," ucap Alvino, ia merengkuh tubuh Rania masuk ke dalam dekapannya.
"Kak ... bolehkah aku KB? Aku belum siap memiliki anak."
"Kenapa kamu belum siap?" tanya Alvino. Pelukannya terasa merenggang dan suaranya terdengar begitu datar. Rania tahu, suaminya sedang marah saat ini.
"Kak Al kan tahu, aku masih kuliah. Aku takut tidak bisa membagi waktuku, Kak. Bisakah kita menundanya sampai aku lulus kuliah?" Rania sangat hati-hati dalam berbicara, karena masalah anak adalah hal yang sangat sensitif untuk Alvino.
"Aku tidak akan pernah menundanya lagi. Sayang, percayalah kamu pasti bisa membagi waktumu. Aku akan selalu membantumu dan tidak akan pernah membiarkanmu kesusahan sendirian." Alvino mengusap pipi Rania dengan sangat lembut. "Kebahagiaanku terasa sangat sempurna karena kehadiranmu dan aku ingin menjadi semakin sempurna karena ada malaikat kecil di antara kita."
Rania tersenyum saat melihat Alvino yang tersenyum simpul ke arahnya. Dia juga selalu membayangkan kehidupan rumah tangganya semakin sempurna karena kehadiran bayi-bayi lucu di antara mereka. Namun, wajah Rania mendadak muram kembali saat teringat obrolannya dengan Felisa tadi siang.
"Kak, kata Felisa punya anak itu ribet dan aku akan menjadi sangat sibuk, bahkan bisa saja kuliahku terhenti," adu Rania tanpa sadar. Raut wajah Alvino kembali terlihat datar.
"Sayang, bisakah kamu tidak mendengarkan perkataan orang lain? Apalagi Felisa belum pernah menikah. Aku mohon, berhati-hatilah dengan orang lain meskipun orang itu berada di sekitar kita," kata Alvino. Rania hanya terdiam karena hatinya masih merasa begitu bimbang. "Lebih baik begini saja. Aku tidak akan memintamu untuk segera memiliki anak, tapi kamu jangan pernah sekalipun melakukan progam KB."
"Kalau dalam waktu dekat aku hamil, bagaimana Kak?" tanya Rania yang masih begitu ragu.
"Itu artinya rezeki kita memang dekat," sahut Alvino. Ia kembali mengungkung tubuh Rania, membenamkan ciuman di bibir istrinya yang sudah menjadi candu untuknya.
"Kak, aku lelah," tolak Rania saat ciuman itu terlepas. "Kita baru saja selesai melakukannya."
__ADS_1
"Melakukan lagi 'kan tidak apa, Sayang. Bukankah ini namanya ibadah? Kamu cukup diam, biar aku yang bekerja." Rania hanya bisa pasrah saat Alvino mengeksploras leher jenjangnya hingga membuat tubuhnya terasa meremang. Ia hanya menikmati percintaan panas mereka saat Alvino dengan ahli membuat dirinya terbang ke Nirwana. Akhirnya, percintaan panas yang baru saja selesai, kini terulang lagi.
***
Rania yang sedang menyiapkan sarapannya merasa begitu heran saat melihat Alvino menuruni tangga dengan langkah yang sangat tergesa. Alvino sudah memakai kaos, celana jeans dan sepatu dengan rapi.
"Kamu mau ke mana, Kak?" tanya Rania heran.
"Sayang, maaf aku tidak sarapan di rumah. Sekarang aku akan bertemu klien ku, karena ada kerjasama yang sangat penting. Kamu tahu, keuntungan yang aku dapat bisa sangat besar," sahut Alvino antusias.
"Tapi inikan hari libur, Mas. Apa kamu juga masih harus bekerja?" tanya Rania lagi. Dia merasa sangat tidak ikhlas jika suaminya pergi. Padahal dia sudah berencana ingin bermanja dengan suaminya seharian ini.
"Maaf, Sayang. Aku sudah ditunggu Nona Katty." Alvino mendaratkan ciuman di seluruh wajah Rania. Setelah itu dia pergi begitu saja tanpa peduli pada Rania yang masih ingin bertanya.
"Felisa!" panggil Rania saat melihat Felisa yang sedang berjalan menuju ke arah dapur. Merasa dipanggil, Felisa segera melangkah mendekati Rania.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Felisa dengan sopan.
"Temani aku sarapan. Aku tidak suka jika sarapan sendirian," perintah Rania. Dia mendudukkan tubuhnya di atas kursi dan menyuruh Felisa duduk di dekatnya. Namun, Felisa tetap berdiri di posisinya.
"Duduklah atau kamu mau aku pecat, Fel," kata Rania mengancam. Felisa pun segera menuruti perintah Rania.
"Maaf, Nyonya. Kalau boleh tahu memang Tuan Muda ke mana?" tanya Felisa di sela makannya.
__ADS_1
"Dia ada pertemuan mendadak dengan Nona Katty," sahut Rania malas. Tanpa Rania tahu, sebuah senyum licik tersungging di sudut bibir Felisa.
"Apa Anda tidak curiga dengan mereka berdua?"
"Maksud kamu?" tanya Rania tidak mengerti.
"Tuan Muda dan Nona Katty bertemu sepagi ini, bahkan di saat jam kantor libur. Saya tadi juga melihat Tuan Muda yang terlihat berdandan rapi. Harusnya kalau memang mereka mau membahas masalah pekerjaan, mereka bisa membahasnya besok saat jam kerja." Rania meletakkan sendoknya setelah mendengar ucapan Felisa. Napsu makannya mendadak hilang begitu saja, bahkan makanan yang masih berada dalam kunyahannya menjadi terasa hambar.
" Nyonya, bagaimana kalau kita awasi mereka dari jauh saja," saran Felisa. Rania menatap wajah Felisa yang terlihat begitu meyakinkan. Rania pun mengangguk mengiyakan. Akhirnya, mereka menyusul ke tempat Alvino bertemu dengan Katty.
...🍫🍫🍫🍫...
Felisa pelakor? Jangan ada pelakor dong thor.
Jangan lupa terus pantengin kisah Alvino dan Rania, maka kalian akan tahu jawabannya.
Nathan Nadira mana thor?
Maaf, untuk sementara mereka akan jarang terlihat ya, Othor kembali fokus pada Alvino dan Rania, semoga tidak mengecewakan kalian yaa.
Follow sosmed Othor yuk
Fb : Rita Anggraeni(Tatha)
__ADS_1
Ig : @tathabeo