Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
67


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Alvino yang sudah mulai kembali bekerja, harus disibukkan dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Meskipun selama ia cuti kemarin, Davin yang menghandle pekerjaannya tapi nyatanya berkas itu masih saja membuat dirinya begitu sibuk.


"Tuan, apa Anda sudah menyiapkan kejutan untuk istri Anda?" tanya Kenan menghentikkan gerakan jari Alvino yang sedang bermain di atas keyboard.


"Astaga! Aku hampir saja lupa kalau kamu tidak mengingatkan. Nanti kita cari perhiasan untuk istriku. Bagaimana denganmu? Apa kamu jadi melamar Ana?" tanya Alvino balik.


"Tentu saja. Saya sudah menyiapkan kejutan untuknya besok malam."


"Bagus kalau begitu, Ken. Semoga semuanya berjalan lancar." Kenan hanya mengamini, mereka berdua kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.


Setelah selesai rapat, Alvino dan Kenan yang sudah tidak memiliki agenda apapun, pergi menuju ke mall untuk mencari kado sebagai hadiah untuk Rania. Sesampainya di mall, Alvino langsung menuju ke toko perhiasan, kedua bola matanya menyapu seluruh perhiasan yang terpajang di sana.


"Anda ingin perhiasan yang seperti apa, Tuan?" tanya salah seorang pegawai toko.


"Aku ingin satu set perhiasan bermahkotakan berlian yang limited edition," sahut Alvino. Pegawai itu pun mengambilkan apa yang Alvino inginkan. Setelah memilih apa yang sesuai dengan keinginannya, Alvino segera membayar dan pergi dari toko itu.


"Ana." Alvino yang mendengar Kenan memanggil nama Ana, segera menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah pandang Kenan.

__ADS_1


Kedua tangannya mengepal kuat saat melihat keempat anggota 'Four Angels' sedang duduk di sebuah meja makan, yang membuat emosi Alvino naik adalah saat melihat dua orang lelaki baru saja bergabung dan salah satu di antara mereka, duduk di samping Rania, bahkan tangan lelaki itu terlihat menepuk pundak Rania.


Alvino segera melagkahkan kakinya lebar mendekati mereka, sedangkan Kenan hanya mengekor di belakang. Rania yang menyadari kedatangan Alvino, menghentikan suapannya dan diam terpaku pada posisinya.


"Hai, Sayang. Kamu di sini?" tanya Alvino sambil mengecup pipi Rania tanpa rasa malu. Wajah Rania seketika terlihat seperti kepiting rebus.


"Ka-Kak Al," panggil Rania terbata. Sementara yang lain hanya melihat mereka berdua bergantian. Nadira memutar bola matanya malas, karena ia yakin kalau saat ini kakaknya pasti sedang salah paham.


"Kenapa kamu begitu gugup? Apa aku salah kalau menyapa istriku sendiri?" Alvino menekankan kata istri sambil mengusap pundak Rania, seolah menghilangkan bekas tepukan tangan lelaki tadi di pundak istrinya.


"Kak, aku minta maaf sudah pergi tanpa seizinmu," kata Rania lirih saat melihat sorot mata Alvino terlihat memunculkan amarah dan kekecewaan.


Rania menatap gelisah pada wajah suaminya yang terlihat begitu datar, bahkan keberaniannya seolah menghilang hingga ia hanya diam membisu. Setelah memberi perintah pada adiknya, Alvino kembali mengecup pipi Rania dan berlalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kak Kenan, apa Al marah dengan Rania?" tanya Ana pada Kenan yang masih berdiri di dekat mereka. "Bilang sama Al, kalau semua bukan salah Rania. Aku yang memaksanya ikut ke sini," imbuhnya.


"Nanti biar aku jelaskan pada Al. Aku pergi dulu," pamit Kenan sambil berjalan cepat mengejar langkah kaki Alvino yang hampir tidak lagi terlihat.


"Nad, apa Kak Al marah padaku?" tanya Rania lirih.

__ADS_1


"Sudah jangan sedih seperti ini. Mungkin Kak Al memang lagi ada pekerjaan penting," sahut Nadira berusaha menenangkan Rania yang terlihat begitu muram.


"Baby, apa kakakmu memang sudah menikah dengan Rania?" tanya Dion.


Nadira mengangguk cepat. "Iya, Sayang. Mereka sudah menikah satu minggu yang lalu." Dion sontak membuka kedua bola matanya saat mendengar jawaban dari kekasihnya.


"Serius?!" tanya Dion tidak percaya. Nadira hanya mengangguk cepat karena dia sedang menyeruput jus mangga di depannya.


"Awas kalau sampai mulut kamu ember kemana-mana!" Cacha yang sedari tadi diam, menunjukkan garpu di tangannya ke arah Dion.


"Ya Tuhan. Baby, kenapa kamu selalu mengajak herdermu kemana-mana?" tanya Dion pada Nadira yang terlihat sedang berusaha menahan tawanya.


"Dion! Jaga bicaramu! Atau kamu ingin aku memisahkan kamu dengan Nadira!" bentak Cacha marah.


"Jangan dong, aku tidak bisa jika harus jauh dari kekasihku tercinta," kata Dion sambil menatap wajah Nadira yang sudah merona merah. Dion mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Nadira, tapi tangan Cacha berhasil menonyor kepalanya.


"Cacha! Kamu kok jahat banget!" pekik Nadira kesal sambil mengusap kepala Dion dengan lembut.


"Kalian tuh belum halal! Jangan main cium sembarangan. Ku laporin ke daddy kamu, mau?" Nadira menggeleng cepat saat mendengar pertanyaan mengancam dari Cacha. Mereka pun kembali diam dan menghabiskan makanannya.

__ADS_1


Nadira memandang Cacha dengan kesal karena sahabatnya itu selalu saja menganggu dirinya saat hendak bermesraan dengan Dion. Sementara Cacha menjulurkan lidahnya, mengejek ke arah Nadira. Ia terlihat sangat puas sudah membuat Nadira menjadi begitu kesal.


__ADS_2