Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
61


__ADS_3

Satu hari sebelum acara ijab, Alvino sedang berada di sebuah butik ternama bersama dengan Kenan dan Nathan. Dia sedang mencoba tuxedo berwarna putih tulang yang akan dia gunakan saat prosesi ijab kabul nanti, di sebelahnya ada sebuah gaun pengantin berlengan panjang berwarna sama dengan tuxedo yang sedang di cobanya saat ini.


"Calon mempelai perempuannya di mana?" tanya pemilik butik yang melayani Alvino secara langsung.


"Mungkin sedang dalam perjalanan." Alvino tetap fokus menatap pantulan tubuhnya di kaca yang berada di depannya. Senyum simpul tercetak jelas di bibirnya saat melihat dirinya yang terlihat sangat tampan.


"Cuaca hari ini sangat cerah ya, Ken. Banyak bunga bertebaran di mana-mana hingga mengeluarkan aroma yang semerbak," ucap Nathan dengan menahan tawanya, sementara senyum Alvino seketika memudar dan dia berbalik menatap Nathan dengan tajam.


"Hehe. Anak ganteng calon manten, jangan marah-marah. Nanti ketampananmu berkurang loh, Al." Nathan berusaha menggoda Alvino agar tidak marah.


"Jonathan Saputra!" panggil Alvino penuh penekanan.


"Saya," sahut Nathan cepat, Kenan yang berada di sampingnya terkekeh mendengar kelatahan Nathan.


"Kenapa kamu selalu saja menyebalkan, Nat!"


"Memang apa salahku, Tuan Muda? Kenapa kamu selalu menatapku penuh benci, sedangkan aku selalu menatapmu penuh cinta."


"Nathan! Rasanya aku benar-benar ingin membabat habis mulutmu dan kujadikan makanan hiu!" Nathan refleks menutup mulutnya saat mendengar ancaman dari Alvino.


"Kamu itu selalu saja ...."


"Ini ada apa?" Alvino menghentikan omelannya, dia menoleh ke arah pintu dan melihat empat anggota geng 'Four Angels' sedang berdiri di pintu masuk butik. Kemarahan Alvino langsung lenyap seketika, apalagi saat dia melihat wajah cantik gadis yang akan dinikahinya besok.


"Selamat, selamat." Nathan bernapas lega sambil mengusap dadanya berkali-kali. Alvino menoleh ke arah Nathan lagi dan kembali memberikan tatapan tajam. Melihat masih ada amarah di sorot mata Alvino, Nathan segera berjalan cepat menuju ke arah pintu dan berdiri di belakang Nadira.


"Calon teman hidupku, tolong Babang Nathan mu ini." Nathan berusaha meminta pembelaan dari Nadira.


"Apaan sih, Kak! Jangan sentuh aku!" Nadira bicara dengan ketus sambil menyingkirkan tangan Nathan dari kedua pundaknya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kakak adik sama-sama judes. Lihat saja Nad, nanti kalau kamu sudah ku sentuh, kamu pasti akan meminta lebih."


"Kak Nathan bicara apa sih! Tidak jelas sekali," decak Nadira sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Nanti kalau kamu sudah resmi jadi istri aku,"


"Siapa yang mau jadi istri Kak Nathan?!" Nadira menyela ucapan Nathan begitu saja.


"Sudahlah, aku pusing dengar kalian yang selalu berdebat saat bertemu, padahal kalau di chat kalian sayang-sayangan." Cacha berusaha menengahi.


"Mana ada!" sewot Nadira tidak terima. Mereka yang melihat hanya menghembuskan napasnya secara kasar.


"Lebih baik kalian semua pulang saja, daripada cuman bikin ribut," suruh Alvino sambil berjalan mendekat ke arah pintu, setelah sampai di dekat Rania, dia segera menggandeng tangan Rania dan mengajaknya mendekati gaun pengantin yang masih terpasang cantik di manekin.


"Kamu coba gaunnya, Ran. Kalau ada yang tidak pas, biar segera di perbaiki." Rania yang barusan menatap Alvino, segera mengalihkan pandangannya ke arah gaun pengantin berwarna putih tulang di samping Alvino. Kedua bola mata Rania melebar saat melihat gaun pengantin yang sangat cantik itu.


"Iya, apa kamu tidak suka? Kalau tidak suka, biar aku carikan yang lebih mewah lagi."


"Tidak perlu, Kak. Justru ini terlalu mewah untukku. Kita hanya akan melakukan ijab kabul saja. Jadi, lebih baik aku memakai gaun yang sederhana saja," tolak Rania dengan pelan.


"Walaupun hanya acara ijab kabul dan sederhana, tapi aku ingin acara kita ini menjadi acara yang sangat berkesan," ucap Alvino lembut sambil menangkup kedua pipi Rania. Mereka berdua saling beradu tatapan, melihat tatapan Alvino yang terlihat begitu penuh cinta, akhirnya Rania menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Aku mencintaimu. Cup!" Alvino tanpa sadar mengecup bibir Rania hingga tubuh Rania terasa membeku dengan gerakan Alvino yang tiba-tiba.


"Ehem! Hem! Aku butuh permen penyegar mulut." Alvino menatap ke arah Nadira yang sehabis berdeham dan mengelus tenggorokannya.


"Kalian masih di sini?" tanya Alvino heran, karena setahunya mereka sudah ia suruh pergi dari butik itu.


"Tentu saja. Kalau kita tidak di sini aku yakin kamu sudah pasti tidak bisa mengontrol nafsumu," sahut Nathan asal tanpa penyaring.

__ADS_1


"Diamlah, Nat!" Suasana hati Alvino mendadak menjadi sangat buruk.


"Lagian kamu, Al. Mau mantenan bukannya di pingit malah di kecup-kecup," cerocos Nathan tanpa dosa. Wajah Rania seketika merona merah karena merasa sangat malu, sedangkan Alvino semakin terlihat sangat kesal dengan sahabatnya itu.


"Tuan Muda Alvino yang terhormat dan Tuan Jonathan Saputra yang paling tampan. Hentikanlah perdebatan kalian yang kekanak-kanakan ini. Ingat! Sebentar lagi kalian akan jadi ipar." Kenan berusaha menengahi pedebatan kedua sahabatnya itu.


"Ogah!"


"Alhamdulillah."


Alvino dan Nathan menyahuti ucapan Kenan secara bersamaan, setelah itu mereka pun akhirnya terdiam dan tidak ada yang mendebat lagi. Namun, saat Rania sedang hendak mencoba baju pengantinnya, Alvino harus buru-buru pergi karena dia sudah di tunggu rekan bisnis yang sangat penting di kantornya. Meskipun Rania terlihat kecewa, tetapi dia mencoba memaklumi.


Setelah mencoba gaun pengantin yang sudah Alvino siapkan. Keempat anggota geng 'Four Angels' mengadakan acara bridal shower untuk melepas masa lajang Rania. Mereka semua merasa sangat bahagia karena cinta Alvino dan Rania akhirnya bersatu setelah melewati masa-masa sulit.


Berakhir sudah, byeeee


...🍫🍫🍫🍫🍫🍫...


eh thor udah tamat kah? kok berakhir?


jangan gantung thorr


eitsss, sabaaar ya


maksud author berakhir sudah untuk hari ini


jumpa lagi esok harii


ayoo ditunggu kadonya buat pernikahan Alvino dan Rania yaa

__ADS_1


__ADS_2