
Sepulang dari kuliah, Nadira dan Cacha serta Febian pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Rania. Tidak lupa mereka membawa parsel buah yang sangat lengkap untuk Rania. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, mereka bertiga menuju ke ruangan VVIP di mana tempat Rania dirawat.
"Hai, Ran. Bagaimana kabarmu?" sapa Nadira yang baru saja memasuki ruangan.
"Wah, kalian datang." Wajah yang tadi nampak murung kini langsung terlihat sangat semringah.
"Selamat siang, Om." Mereka bertiga menyalami tangan Tuan Sandi secara bergantian.
"Siang juga. Kalian sudah pulang kuliah?" tanya Tuan Sandi dengan lembut.
"Sudah, Om," sahut mereka bertiga kompak.
"Oh iya Ran, karena sudah ada temanmu. Papa mau jenguk Ana dulu ya, kamu tidak apa-apa kan kalau Papa tinggal?" Mereka bertiga saling menatap penuh tanya mendengar pertanyaan Tuan Sandi untuk Rania.
"Tidak apa-apa, Pa. Salam buat Kak Ana, besok kita akan selesaikan semuanya."
"Baiklah, yang terpenting sekarang adalah kesembuhanmu terlebih dahulu. Papa sayang kamu." Tuan Sandi mengecup puncak kepala Rania lalu berpamitan pergi dari sana. Setelah kepergian Tuan Sandi, mereka bertiga segera mendekati Rania untuk menanyakan perihal Ana karena mereka sudah sangat penasaran.
__ADS_1
"Ran, memang Ana ke mana?" tanya Cacha ingin tahu, Rania hanya diam membisu karena dia masih ragu untuk menceritakan semuanya.
"Ran," panggil Nadira menyadarkan Rania dari lamunannya.
"Aku akan ceritakan semuanya, tetapi kalian jangan terkejut dan kalian juga harus berjanji kalau kalian akan tetap bersikap biasa saja kepada Ana dan berpura-pura tidak mengetahui apapun."
"Baiklah, kita janji." Jari mereka berempat saling bertautan yang menandakan mereka tidak akan mengingkari janjinya. Sebelum mengatakan semuanya, Rania berkali-kali menghembuskan napasnya secara kasar, sedangkan mereka bertiga tidak sabar menunggu cerita dari Rania, apalagi saat mereka melihat sudut bibir Rania yang masih sedikit membiru.
"Ana sekarang di penjara," kata Rania lirih.
"What?!" pekik mereka bertiga tidak percaya. "Bagaimana bisa?" sambung Nadira.
"Aku tidak menyangka kalau Ana akan setega itu kepadamu, Ran," kata Cacha saat Rania sudah selesai menceritakan semuanya.
"Semua bukan salah Ana sepenuhnya. Aku dan papa juga bersalah." Wajah Rania terlihat begitu sedih. Dia sadar, tidak seharusnya semua kesalahan dilimpahkan kepada Ana, karena baginya wajar kalau Ana cemburu dengan dirinya yang lebih di perhatikan oleh sang papa.
"Sabar ya, Ran. Aku yakin semua pasti akan cepat selesai dan kita akan berkumpul bersama Ana lagi." Nadira mengusap punggung Rania dengan lembut untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Kalian bisa kan menepati janji kalian kalau kalian akan berpura-pura tidak tahu," ucap Raina dengan khawatir.
"Kamu tenang saja, Ran. Kita akan menepati janji kita," kata Febian mantap, Rania menarik kedua sudut bibirnya menampilkan senyum simpulnya.
"Terima kasih," ucap Rania bahagia.
"Tidak perlu berterima kasih," balas Nadira. Mereka berempat saling mengobrol dan saling berbagi candaan.
"Ran, ada sesuatu yang akan aku bicarakan sama kamu," kata Febian dengan serius saat mereka hendak berpamitan pulang.
"Apa yang mau kamu bicarakan, Bi?" tanya Rania sambil menatap Febian yang juga sedang menatapnya.
"Bi, aku tunggu kamu di kantin ya. Aku sudah sangat lapar." Nadira menarik tangan Cacha untuk keluar dari ruangan itu, karena dia tahu kalau Febian pasti akan berbicara hal yang serius dengan Rania.
Setelah Nadira dan Cacha keluar dari ruangan itu, Febian mendudukkan tubuhnya di samping Rania dan menggenggam tangan Rania dengan erat, sedangkan Rania hanya diam menurut tanpa menolak genggaman tangan Febian.
"Ran, bolehkan aku bertanya satu hal padamu sekali lagi?" tanya Febian. Rania tidak menjawab, dia hanya menatap penuh tanya ke arah Febian.
__ADS_1
"Apa kamu yakin tidak memiliki sedikit pun perasaan kepadaku selain perasaan sebagai sahabat, Ran?" Rania menggeleng pelan menanggapi pertanyaan dari Febian.
"Maaf, Bi. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku dan perasaanku tidak pernah lebih dari itu," sahut Rania lirih, dia menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap Febian. Suasana di ruangan itu mendadak hening, karena mereka berdua sama-sama diam membisu, bahkan Rania bisa mendengar helaan napas panjang dari Febian.