
Alvino baru saja pulang mengantar Anin ke Mansion Bagaskara, dia memasuki pelataran mansion bersamaan dengan Febian yang juga baru saja sampai di Mansion. Mobil mereka berdua terparkir bersebelahan.
"Kamu dari mana Bi, kenapa baru pulang?" tanya Alvino saat dia dan Febian keluar dari mobil bersamaan. Febian menatap kakaknya dengan raut wajah datar.
"Bukan urusan Kakak!" sahut Febian ketus. Dia berjalan cepat meninggalkan Alvino yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Kamu sudah pulang, Al?" tanya Aluna menyambut anak sulungnya di ambang pintu. Alvino segera melangkahkan kakinya mendekati Aluna dan mencium kedua pipi mommy nya bergantian.
"Sudah Mom, Al baru saja mengantar Anin ke Mansion Bagaskara." Mereka berdua berjalan bersama memasuki Mansion Alexander.
"Al, bisakah kamu jelaskan yang sebenarnya ke Febian agar dia tidak terus menerus salah paham sama kamu," ucap Aluna lirih. Alvino merangkul bahu Aluna dan mengusapnya perlahan.
"Aku ke kamar dulu, Mom. Al sudah sangat lelah," pamit Alvino berusaha menghindari pembicaraan dengan Aluna. Dia melangkahkan kaki lebarnya menuju ke kamar sebelum Aluna menghentikan langkah kakinya, sedangkan Aluna hanya bisa memandang kepergian anak sulungnya dengan wajah yang begitu sedih.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Davin yang baru saja masuk ke dalam Mansion. Mendengar suara suaminya, Aluna segera berlari menghamburkan pelukannya ke tubuh Davin, sedangkan Davin tersenyum simpul seraya membalas pelukan itu, tidak lupa dia berikan banyak kecupan di puncak kepala istrinya.
"Ayo kita ke kamar," ajak Davin membuat Aluna mendengus sebal sembari melepas pelukannya.
"Aku tuh lagi sedih, Mas." Aluna mengerucutkan bibirnya, membuat Davin merasa begitu gemas. Dia menangkup kedua pipi istrinya dan menciumi seluruh wajah Aluna.
"Sedih kenapa, Sayang?" tanya Davin lembut, dia menatap lekat kedua bola mata istrinya.
"Kapan Al dan Bi bisa kembali berbaikan, aku merindukan kebersamaan mereka berdua." Suara Aluna terdengar begitu berat, Davin menarik tubuh Aluna masuk ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Tenanglah, sebentar lagi semua akan baik-baik saja." Davin berusaha menenangkan hati istrinya. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu, Sayang. Ayo kita bicarakan di kamar saja," sambung Davin, dia menggenggam tubuh istrinya dan mengajak ke kamar.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Bagaimana pekerjaanmu, Nat?" tanya Johan.
"Biasa saja, Yah. Sementara ini belum ada yang membuat kepala Nathan seperti mau pecah," sahut Nathan santai, dia memainkan jarinya dengan lincah di layar ponselnya dengan sesekali bibirnya tersenyum simpul.
"Kak Nathan sedang sibuk chat dengan siapa? Kenapa Kakak tersenyum sendiri seperti orang yang tidak waras." Nathan mengalihkan pandangannya ke arah Cacha yang sedang tersenyum meledek ke arahnya.
"Bisakah kamu mengontrol mulutmu, Cha!" ketus Nathan, bukannya takut tetapi Cacha justru tertawa lebar.
"Aku tahu, Kak Nathan pasti sedang chat dengan Nadira kan? Hati-hati Kak, Nadira itu sudah punya pacar dan dia cinta mati pada pacarnya. Jangan sampai Kakak menjadi perusak hubungan orang lain." Nathan menatap tajam ke arah Nadira, sedangkan Mila dan Johan hanya tersenyum simpul melihat kedua anaknya itu.
"Betul, Nat. Bunda seribu persen mendukungmu!" teriak Mila sampai Johan yang duduk di sampingnya menutup telinganya yang berdenging.
"Bisakah kamu sedikit pelan saat berteriak. Kamu bisa membuat telinga tuaku ini menjadi tuli," cebik Johan dengan kesal. Sebuah kecupan mendarat di pipi Johan dengan mesra, membuat dia harus memalingkan wajahnya karena malu.
"Maafkan aku sayang," ucap Mila dengan manja.
"Bunda, bisakah Bunda ingat umur. Kalian berdua sudah tidak muda lagi tetapi kalian suka sekali bermesraan di depan kita anak muda yang jomlo ini," sindir Cacha sambil memasang wajah sebal.
"Bunda tidak melarang kamu berpacaran, Cha. Asal kamu harus ingat batasannya."
__ADS_1
"Tidak! Ayah melarang kamu berpacaran untuk saat ini. Kamu harus fokus pada kuliahmu terlebih dahulu." Johan menolak dengan keras ucapan Mila.
"Tapi Mas ...." Mila tidak meneruskan kata-katanya saat mendapat tatapan tajam dari suaminya.
"Sudahlah, Ayah Bunda tidak perlu berdebat seperti itu. Cacha juga belum berniat menjalin hubungan dengan siapapun. Cacha tidak mau sebentar nangis sebentar tertawa." Johan dan Mila menatap ke arah putri bungsunya yang sedang fokus dengan laptop di depannya.
"Ayah bangga sama kamu, Cha," puji Johan dengan senyum lebar.
"Tapi kalau ada cowok tampan, kaya dan baik hati yang nembak Cacha, maka aku dengan senang hati menerimanya." Cacha menaik-turunkan alisnya dengan senyum menggoda, sedangkan senyum Johan langsung memudar begitu saja.
"Bilang saja kamu belum laku, Cha." Nathan menonyor kepala adiknya membuat bibir Cacha seketika mengerucut.
"Kak Nathan jahat banget sih!" ketus Cacha sambil mengusap bekas tonyoran tangan kakaknya. "Memang Kak Nathan sudah laku?" tanya Cacha meledek.
"Aku?" Jari telunjuk Nathan menunjuk ke dirinya sendiri, Cacha mengangguk mengiyakan. "Aku mah ya jelas .... belum juga!" imbuh Nathan di ikuti tawa lebar.
"Kak Nathan menyebalkan!" cebik Cacha kesal.
"Iya aku tahu kalau aku tampan," ucap Nathan percaya diri. Cacha semakin mendengus kesal, sedangkan kedua orang tua mereka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya.
Untuk cerita ini, Asisten Jo author rubah jadi Johan ya, walaupun dengan berat hati karena author udah cinta banget sama panggilan Asisten Jo 😂
Yuk jangan lupa dukungannya ya, kalau banyak dukungannya nanti author kasih up yang ketiga
__ADS_1
salam sayang dari author recehan