
Nathan baru saja memasuki Mansion Alexander setelah Alvino menyuruhnya untuk datang. Saat langkah kaki Nathan baru saja memasuki ruang tamu di mansion itu, Alvino sudah berdiri menyambutnya.
"Tumben sekali kamu memanggilku, ada hal penting apa?" tanya Nathan saat sudah berada tidak jauh dari tempat Alvino berdiri.
"Ikut Aku, Nat." Alvino tidak menjawab, dia melangkahkan kakinya keluar dari mansion diikuti Nathan yang berjalan di belakangnya. Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Alvino segera melajukan mobil Nathan keluar dari area mansion. Selama dalam perjalanan, suasana di dalam mobil terasa begitu hening karena mereka berdua sama-sama tidak ingin membuka suaranya.
"Jangan bilang kamu mau mabuk lagi, Al." Nathan menatap penuh selidik ke arah Alvino saat mobil mereka berhenti di sebuah club malam. Alvino sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Nathan membuat Nathan menjadi begitu heran dengan sikap Alvino yang tidak seperti biasanya.
Mereka berdua memasuki ruangan yang penuh dengan gemerlap lampu kelap-kelip yang berpadu dengan musik yang keras. Nathan menutup telinganya untuk melindungi gendang telinganya agar tidak pecah seraya berjalan mengikuti langkah kaki Alvino.
Sementara Alvino melangkahkan lebar kakinya menuju ke lantai atas di club malam itu. Ketika mereka telah sampai di ruangan VIP, Alvino segera memutar knop pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Melihat kedatangan Alvino, Max segera bangkit berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan tuan mudanya itu.
"Tuan Muda," sapa Max dengan sopan.
"Duduklah Max," suruh Alvino, mereka bertiga duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
"Ada tugas apa lagi, Tuan Muda?" tanya Max santai, sedangkan Nathan hanya menatap bingung ke arah mereka.
"Besok tanggal dua puluh lima aku ada balapan dengan Jack dan Ana tetapi aku ingin kamu menjaga keselamatan Rania. Jangan sampai dia lecet sedikit pun." Max menatap bingung ke arah Alvino karena dia belum memahami arah pembicaraan bosnya.
Melihat raut wajah Nathan dan Max yang terlihat kebingungan, Alvino segera mengeluarkan ponselnya dan menyetel rekaman yang sudah dia copy dari ponsel Anin.
Bola mata Max dan Nathan membola dengan sempurna ketika mendengar rekaman itu. Nathan mengalihkan pandangannya menatap ke arah Alvino seolah meminta penjelasan.
"Ini asli, Al?" tanya Nathan memastikan.
"Aku tidak percaya mereka mengatur rencana sejahat itu, padahal target mereka adalah saudaranya sendiri." Nathan benar-benar belum percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Aku juga punya tugas untukmu, Nat," ucap Alvino. Sebelum Nathan menyahuti, Alvino sudah berbisik di telinga Nathan untuk memberi tahu apa rencananya. Kepala Nathan hanya mengangguk-angguk perlahan saat mendengar bisikan dari sahabatnya.
"Apa kamu tidak ingin memberi tahu Kenan tentang ini?" tanya Nathan setelah Alvino selesai berbisik padanya.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kalian harus ingat, jangan sampai ada seorang pun yang mengetahui semua ini!"
"Baiklah, aku akan laksanakan tugas dari Anda wahai paduka raja." Tangan Alvino refleks menonyor kepala sahabatnya setelah mendengar ucapan Nathan.
"Tanganmu jahat sekali, Al. Aku berada di dekat kamu bisa jadi pikun sebelum menua." Alvino tidak menanggapi ucapan sahabatnya.
"Tuan Muda, lebih baik Anda menyuruh Tuan Ronal untuk menunda atau bahkan meliburkan balapan itu saja demi keselamatan Nona Rania," saran Max, Alvino memijat pelipisnya dengan perlahan.
"Sepertinya tidak mungkin balapan ini di liburkan, pokoknya kalian harus benar-benar memastikan keselamatan Rania kalau tidak maka nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya," ucap Alvino penuh dengan penekanan.
"Sebegitu dalamnya rasa cintamu untuk Rania, Al?"
"Diamlah Nat, kalaupun aku tidak bisa memiliki Rania setidaknya aku masih bisa menjaganya dari jauh Nat." Alvino menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan.
"Aku benar-benar salut memiliki sahabat semulia kamu meskipun sering menyebalkan dengan sikap pemarahmu," ucap Nathan seolah tanpa dosa.
__ADS_1
Alvino tidak menanggapi ucapan Nathan, dia masih setia memejamkan matanya. Aku akan berusaha sekuat mungkin agar kamu tidak terluka sedikit pun. Semoga kamu selalu baik-baik saja, Ran. Aku mencintaimu.