Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
54


__ADS_3

"Ran, aku tidak akan pernah memaksamu untuk membalas perasaanku lagi." Suara Febian terdengar begitu lirih. "Aku juga hanya akan menganggapmu sebatas sahabatku, meskipun aku harus merelakanmu dengan berat hati dan belajar mengurangi perasaanku padamu yangn lebih dari sahabat." Rania sedikit mendongak dan melihat wajah Febian yang nampak sendu.


"Maafkan aku, Bi." Rania benar-benar merasa tidak enak hati.


"Tidak apa, Ran. Justru aku senang kalau kamu bersedia jujur tentang perasaanmu, karena aku juga tidak ingin menjalani hubungan dengan dasar keterpaksaan. Aku akan bahagia jika melihat orang yang aku sayangi juga bahagia walaupun bukan aku sumber kebahagiaannya." Febian menjeda ucapannya, dia kembali menghela napasnya sedangkan Rania hanya diam mendengarkan.


"Ran, aku berharap kamu akan bahagia dengan orang yang kamu sayang." Rasanya Febian begitu berat mengatakan semua itu, tetapi bagaimanapun juga dia tidak akan pernah memaksa Rania untuk membalas perasaannya.


"Bi, aku akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu dan kamu bisa bertemu dengan gadis yang juga mencintaimu dengan tulus, Bi." Rania menarik senyum di kedua sudut bibirnya membuat Febian ikut tersenyum simpul.


"Kamu sangat menggemaskan, Ran." Febian mengacak-acak rambut Rania dengan gemas, sedangkan Rania mencebikkan bibirnya karena merasa kesal. Febian terkekeh geli saat melihat bibir Rania yang terlihat mengerucut.


"Ran, bolehkah aku memelukmu sekali saja," pinta Febian lirih. Dia tersenyum simpul saat melihat Rania yang menganggukkan kepalanya tanda setuju, dengan segera Febian menarik tubuh Rania dalam dekapannya.


Rania, sebenarnya aku sangat sakit saat harus melepasmu seperti ini, tapi aku juga tidak ingin melukaimu dengan memaksamu untuk membalas perasaanku. Karena aku tahu kalau perasaanmu hanyalah untuk Kak Al. Batin Febian sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Rania.


"Alvino," gumam Rania, dengan segera dia melepaskan tubuhnya dari Febian saat melihat Alvino berdiri di dekat pintu sambil menatapnya ke arahnya dengan tatapan penuh arti. Mendengar Rania memanggil nama kakaknya, Febian menoleh ke belakang dan melihat kakaknya sedang berdiri dengan senyum yabg terlihat sangat dipaksakan.

__ADS_1


"Maaf, aku sudah menganggu kalian berdua. Aku pergi dulu," pamit Alvino. Dia memegang handle pintu dan hendak keluar dari ruangan itu.


"Kak Al, tunggu!" panggil Febian berteriak untuk menghentikan gerakan tangan kakaknya yang sedang membuka pintu ruangan.


"Masuklah, Kak. Aku akan pulang dan temanilah Rania, kasihan kalau dia sendirian di sini." Febian berjalan mendekati Alvino dan menyuruh Alvino untuk masuk kembali ke ruangan.


"Aku yang akan pulang, Bi. Kamu yang menemani Rania karena aku masih ada rapat setelah ini. Maaf sudah mengganggu," kata Alvino beralasan.


"Aku tahu Kak Al berbohong. Aku sudah daritadi di sini, Kak. Urusanku dengan Rania juga sudah selesai, lagipula Nadira dan Cacha sudah terlalu lama menungguku." Febian menyingkirkan tangan Alvino dari handle pintu dan sedikit mendorong tubuh kakaknya agar masuk ke dalam.


"Kakak masih ingatkan apa yang aku katakan semalam. Jadi, aku mohon jangan menjadi seorang pecundang, Kak Al harus memperjuangkan perasaan Kak Al untuk Rania. Kak Al tenang saja, aku yakin pasti akan segera menemukan pengganti Rania. Aku harap kalian bahagia." Alvino melihat sebuah luka dari sorot mata Febian. "Ran, aku pamit ya, semoga lekas sembuh," pamit Febian sembari menatap Rania yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Kalau sampai Kak Al dan Rania tidak bersatu, jangan salahkan aku kalau aku benar-benar akan pergi dari kalian semua!" ancam Febian dengan setengah berbisik karena dia tidak ingin Rania mendengarnya.


Setelah mengucapkan itu, Febian berjalan keluar ruangan meninggalkan Alvino yang masih diam berdiri di posisinya. Begitu pintu ruangan itu tertutup rapat, Alvino membalikkan badannya dan melihat Rania yang sedang menundukkan kepalanya dengan jari yang saling bertautan. Rania semakin menundukkan kepalanya saat melihat Alvino yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alvino mendudukkan tubuhnya di samping Rania yang masih menunduk.

__ADS_1


"Su-sudah mendingan, Tuan," sahut Rania terbata karena dia merasa sangat gugup saat ini.


"Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan tuan? Aku bukan tuanmu!" ucap Alvino dengan suara yang terdengar sangat kesal tetapi dia mencoba terlihat biasa saja.


"Lantas saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa?" tanya Rania mencoba memberanikan diri.


"Tatap lawan bicaramu saat berbicara!" Mendengar perintah Alvino, Rania mendongak dan tatapan mata mereka berdua akhirnya bertemu.


Baik Alvino maupun Rania sama-sama terpaku pada posisi mereka tanpa ada satu pun yang berniat memutus tatapan mata mereka terlebih dahulu. Mereka berdua saling terdiam, terhanyut dalam tatapan yang penuh kerinduan dan cinta.


...🍫🍫🍫🍫...


Jempol dan otak Author udah kram 😂😂


Kalian tidak lupa kan? buat kasih dukungan untuk Author.


Tenang masih ada satu bab lagi setelah ini yaa

__ADS_1


__ADS_2