
Nadira masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan sprei berwarna merah muda. Dia merubah posisinya ke samping untuk mencari posisi ternyaman bagi tubuhnya, pandangan mata Nadira menatap ke arah nakas, dia menatap foto keluarganya yang terpajang di atas nakas bersebelahan dengan foto dirinya dengan para sahabatnya. Nadira menghembuskan napasnya panjang saat menatap kedua bingkai foto itu bergantian.
"Apa yang harus lakukan saat ini?" gumam Nadira. Ingatannya kembali ke saat di mana dia melihat Alvino dan Rania saat berada di taman malam itu.
Ya, dia melihat bahkan mendengar semuanya, tetapi dia takut jika mengatakan semuanya saat ini, kesalahpahaman yang sedang terjadi saat ini justru akan semakin berlarut. Nadira memang melihat semuanya, tetapi dia tidak mengambil sedikitpun gambar saat Alvino dan Rania berperlukan seperti itu. Otak Nadira mencoba mengingat dengan keras, dia tidak melihat siapapun saat itu kecuali mereka berdua, tetapi kenapa bisa ada foto mereka yang sampai ke tangan Febian hingga menyebabkan kesalahpahaman seperti ini?
"Bi, andai kamu tahu bagaimana kak Al berkorban demi kamu, aku yakin kamu pasti akan sangat menyesal telah berkata sekasar itu kepada kak Al." Airmata Nadira perlahan menetes, dia mengingat bagaimana Alvino harus mengorbankan perasaannya hanya karena dia tidak ingin menyakiti hati adik dan sahabatnya. Nadira buru-buru mengusap airmatanya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk, dia segera bangun dan membuka pintu kamarnya. Tubuh Nadira terdiam saat melihat Alvino berdiri di depan pintu kamarnya sambil tersenyum tipis.
"Kak Al," panggil Nadira, suaranya masih terdengar sedikit parau.
"Bolehkah Kakak masuk?" tanya Alvino meminta izin. Nadira mengangguk perlahan dan membuka pintu kamarnya lebih lebar, memberi jalan untuk kakaknya masuk ke dalam kamar diikuti Nadira yang berjalan di belakangnya. Langkah kaki Alvino terhenti saat adiknya memeluk tubuhnya dari belakang, setelah itu dia mendengar sebuah isak tangis dari keluar dari mulut Nadira.
"Kak, kenapa Kakak rela mengorbankan perasaan Kakak untuk orang lain?" tanya Nadira di sela isak tangisnya. Alvino melepaskan tangan adiknya yang melingkar di perutnya, setelah itu di berbalik dan menatap adik perempuannya yang masih terisak itu.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya balik Alvino, dia belum paham maksud pertanyaan Nadira.
"Aku tahu Rania adalah gadis yang Kakak cari selama ini dan Kakak sangat mencintainya, tetapi Kakak mengalah hanya karena Kakak tidak ingin menyakiti hati Febian dan Kak Kenan." Alvino terdiam mendengar ucapan Nadira, dia memegang kedua bahu adiknya sembari menghembuskan napasnya secara perlahan.
"Kamu tahu dari mana?"
"Aku melihat Kakak dan Rania di taman malam itu, tetapi Kakak harus percaya kalau bukan aku yang mengirim foto itu, aku tidak tahu siapa yang mengirimnya karena saat itu aku sendirian, Kak," sahut Nadira, dia mengusap airmata yang masih mengalir dari sudut matanya.
"Kakak percaya sama kamu. Sudahlah biarkan saja, suatu saat pasti kebenaran akan terungkap. Kita hanya harus bersabar menunggu waktunya saja," ucap Alvino lirih, dia melepaskan tangannya dari bahu Nadira.
"Justru Kakak bahagia, itu artinya Febian benar-benar mencintai Rania. Dia bisa menjaga dan membahagiakan Rania," ucap Alvino getir, dia sengaja menghindari tatapan mata Nadira karena dia tidak ingin adiknya bisa melihat luka hati di dalam hatinya.
"Kak ...."
__ADS_1
"Sudah. Jangan terlalu di pikirkan, Kakak tidak mau kamu sakit." Alvino menyela ucapan adiknya. "Oh iya Nad, bolehkah Kakak meminjam ponselmu untuk menghubungi Nathan, ada sesuatu hal yang sangat penting dan ponsel Kakak sedang kehabisan baterai," kata Alvino meminta izin.
"Ambil saja tuh, di atas kasur. Aku mau cuci muka, wajahku sangat jelek kalau habis menangis." Nadira menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas kasur, setelah itu dia berjalan menuju ke kamar mandi, sedangkan Alvino mengambil ponsel milik adiknya dan segera menghubungi Nathan.
Setelah selesai menghubungi Nathan, Alvino meletakkan ponsel milik adiknya di atas nakas. Dia melihat dua bingkai foto yang berada di atas nakas itu, matanya menatap lekat foto Nadira bersama sahabatnya dan ada Rania di sana. Tangannya tanpa sadar mengambil foto itu dan mengusap gambar wajah Rania yang berada paling ujung. Dia tersenyum tipis saat melihat foto Rania yang sedang tersenyum dengan lebar.
"Kamu cantik sekali saat tersenyum seperti ini," gumamnya.
"Kak." Alvino terjengkit kaget saat mendengar adiknya yang memanggilnya, dia segera meletakkan foto itu dan beralih menoleh ke arah adiknya yang sedang menatapnya penuh arti.
"Terima kasih sudah meminjamkan ponselmu, Nad. Kakak balik kamar dulu," ucap Alvino gugup, dia segera berjalan cepat hendak keluar dari kamar Nadira.
"Kak, aku mau jujur sama Kakak kalau sebenarnya Rania juga sangat mencintai Kakak." Ucapan Nadira mampu membuat langkah kaki Alvino terhenti dan tubuhnya mematung di posisinya.
__ADS_1
"Kak, setelah kepergian Kakak malam itu, aku melihat Rania yang menangis dan bergumam kalau dia sudah mencintai Kakak sejak dulu. Dia tidak mungkin membuka hatinya untuk orang lain, karena dia merasa cintanya telah habis untuk Kakak. Aku mohon Kak, jujurlah kepada Febian dan Kak Kenan kalau kalian saling mencintai. Sebelum mereka berdua terlanjur semakin mencintai Rania."
"Kakak tidak akan bersikap egois walaupun terkadang Kakak ingin sekali bersikap egois. Bukankah berkali-kali Kakak bilang kalau Kakak tidak ingin menyakiti hati adik dan sahabat Kakak. Kakak mohon, hargailah keputusan Kakak." Suara Alvino terdengar begitu berat, dia terdiam merasakan rasa sesak di dadanya seolah terhantam batu yang begitu besar. Alvino segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar adiknya, sedangkan Nadira hanya menatap punggung Alvino yang perlahan menjauh darinya.