Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
89


__ADS_3

"Mom ...." Nadira menatap memelas ke arah Aluna.


"Baiklah, maafkan Mommy. Apa kamu sudah siap dan sangat yakin akan menerima lamaran Dion?" tanya Aluna memastikan. Namun, Nadira kembali terdiam.


"Yakinlah pada pilihanmu sendiri, Nad. Mommy dan daddy tidak pernah menuntutmu harus mengikuti kemauan kami."


"Baik, Mom. Bukankah Kak Anin juga akan lamaran minggu depan?"


"Ya, kamu sudah tahu?" Nadira mengangguk menanggapi pertanyaan Aluna.


"Aku kemarin bertemu dengan Kak Anin dan Kak Nathan waktu mau mengambil cincin tunangan. Kata Kak Anin, mereka baru saja memesan cincin tunangan. Mom, apa Kak Anin akan bertunangan dengan Kak Nathan?" tanya Nadira penasaran. Aluna tersenyum saat melihat wajah Nadira yang nampak muram dan terlihat tidak rela.


" Apa kamu cemburu, Nad? Seandainya Nathan dan Anin menikah."


"Tidak juga, Mom. Hanya saja, aku tidak menyangka kalau Kak Nathan bakalan secepat itu pindah ke lain hati. Berarti Kak Nathan cuma mempermainkan perasaanku saja. Benar 'kan Mom, yang aku katakan kalau Kak Nathan itu buaya," celoteh Nadira.


"Syukurlah kalau kamu tidak cemburu, persiapkan dirimu untuk mengucapkan selamat pada mereka," kata Aluna masih dengan mengusap rambut Nadira yang sedang memejamkan mata. Namun, airmata Nadira tanpa sadar kembali menetes dari sudut matanya.


Maafkan aku, Mom. Aku sudah berbohong. Sebenarnya, ada perasaan tidak rela. Saat aku harus melihat Kak Nathan dan Kak Anin bersama.


Semoga kamu tidak menyesal dengan keputusanmu, Nad. Setelah ini, kamu akan tahu siapa yang benar-benar mencintaimu dengan tulus.


"Sayang, kenapa kamu keluar kamar tidak berpamitan?" Aluna dan Nadira menoleh ke arah pintu dan melihat Davin yang berjalan memasuki kamar Nadira dengan terburu-buru.


"Mas, kamu kenapa panik gitu?" tanya Aluna heran.

__ADS_1


"Aku mencarimu, Sayang," sahut Davin. Dia mengecup puncak kepala dan kedua pipi Aluna.


"Dad, bisakah Daddy tidak pamer kemesraan di depanku? Aku masih kecil, Dad," protes Nadira sambil beranjak bangun dari pangkuan Aluna.


"Kamu sudah besar, Nad. Bukankah sebentar lagi kamu akan menikah?" tanya Davin menggoda.


"No, aku mau menikah setelah lulus kuliah. Sekarang aku hanya akan tunangan saja, itu aja karena Mommy yang memaksa," rajuk Nadira.


"Baiklah, yang terpenting kamu sudah yakin dengan pilihanmu. Ayo sayang, kita ke kamar. Kita cetak adik untuk Febian," kata Davin sambil membantu Aluna berdiri.


"Yang benar saja, Dad!" pekik Nadira kesal. Davin dan Aluna hanya terkekeh geli melihat wajah putrinya.


"Mas!" Aluna berteriak saat Davin tiba-tiba membopongnya ala bridal style dan membawanya keluar dari kamar.


"Selamat tidur, Princess'nya Daddy," kata Davin tanpa menoleh ke belakang. Nadira tersenyum simpul melihat kepergian kedua orang tuanya.


Nadira berusaha memejamkan kedua matanya. Namun, baru saja matanya hendak terpejam, ponselnya tiba-tiba berdering. Kening Nadira mengerut saat melihat nama kekasihnya tertera di layar. Nadira segera memencet tanda hijau untuk menerima panggilan itu.


"Hallo, Sayang," sapa Nadira begitu panggilan sudah terhubung.


"Hallo, Baby. Kamu tahu, mantan tunanganmu si Nathan barusan menemuiku dan dia memukuliku hingga babak belur."


"Apa! Bagaimana bisa Kak Nathan memukulmu?" tanya Nadira dengan suara melengking karena dia begitu terkejut.


"Dia tidak rela, kalau kita sebentar lagi akan bertunangan bahkan menikah. Dia merasa sakit hati, lalu menemuiku dan memukulku dengan membabi-buta. Aku hampir saja dirawat di rumah sakit, tapi aku menolak."

__ADS_1


"Kenapa Kak Nathan sekejam itu?" tanya Nadira tidak percaya.


"Aku juga tidak tahu, Baby."


"Ya sudah, besok aku akan temui Kak Nathan, aku akan membuat perhitungan karena sudah berani memukulmu. Sekarang lebih baik kamu istirahat."


"Baiklah, sampai bertemu dua hari lagi di acara pertunangan kita, Baby. Rasanya aku sudah tidak sabar."


"Ya, aku juga sudah tidak sabar. Tidurlah," suruh Nadira dengan suara lirih. Setelah mendengar sahutan dari Dion, Nadira segera mematikan panggilan itu. Dia menghembuskan napasnya secara kasar dan melemparkan ponselnya ke samping tubuhnya.


"Aku tidak menyangka kalau Kak Nathan sekarang jadi sekejam itu. Besok aku harus menemuinya," geram Nadira dengan tangan yang mengepal erat.


...🍫🍫🍫🍫...


Hai, adakah yang merindukan aku?


Uh aku juga kangen banget sama kalian lohh.


Yukk beri dukungan buat Othor Kalem.


Like, Komen, Hadiah dan Vote jangan lupa


Eh, cek profil Othor yukk


Ada kisah baru lohh, judulnya 'Arraya Queenbee'

__ADS_1


Siapa tahu sukaa😁


Salam sayang dari Othor Kalem buat kalian semua yang Luar Biasaaaaaa 😁


__ADS_2