
Sementara itu di salah satu ruangan yang lain, Kenan sedang menggeram kesal karena sedari tadi mendengar teriakan Nathan yang begitu memekik di telinganya.
"Ah sakit!" pekik Nathan sambil menyingkirkan tangan perawat yang sedang berusaha membuka sapu tangan yang terbalut di lengannya.
"Nat! Jangan seperti bocah deh!" ketus Kenan sambil menatap sebal ke arah Nathan.
"Kamu tidak tahu sakitnya kaya apa Ken, rasanya kaya perawan yang sedang di jebol," sahut Nathan asal, Kenan menepuk luka di lengan Nathan karena saking kesalnya.
"Kenan sakit! Huaaa bunda." Nathan berpura-pura menangis hingga membuat perawat yang hendak membuka sapu tangan itu menghentikan gerakannya dan menutup mulutnya untuk menutupi tawanya.
"Menangislah yang keras, Nat. Aku akan merekammu dan mengirimkannya pada Nadira," ancam Kenan sambil mengeluarkan ponselnya.
"Jangan, Ken. Kamu mau merusak reputasiku di depan Nadira?!" ketus Nathan sedangkan Kenan hanya menunjukkam senyum meledek ke arah Nathan.
"Lagian kamu ini lucu Nat. Luka sekecil ini saja sudah teriak-teriak, kalah sama bocah lima tahun kamu, Nat." Nathan hanya mendengus kasar saat Kenan meledeknya, pandangan matanya tiba-tiba teralihkan ke arah pintu.
"Kak Queen!" panggil Nathan berteriak hingga Kenan dan perawat yang berada di ruangan itu menoleh ke arah pintu. Queen yang merasa terpanggil segera menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke dalam ruangan.
"Nathan?" Queen berjalan masuk ke dalam ruangan dan mendekati brankar tempat Nathan duduk.
"Kamu kenapa?" tanya Queen khawatir.
"Sakit Kak, aku terluka dan berdarah." Suara Nathan terdengar merengek seperti anak kecil dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat sedangkan Queen hanya menggelengkan kepalanya.
"Ingat! Kamu ini pemimpin perusahaan Nat, jadi tidak pantas bertingkah seperti seorang balita!" Kenan yang kesal kembali memukul lengan Nathan dengan perlahan tapi mampu membuat mulut Nathan kembali berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Nat? Suaramu benar-benar bisa merusak telinga semua orang yang di sini!" Alvino yang baru saja masuk segera duduk di samping Nathan dan melihat luka Nathan yang masih terbalut sapu tangannya yang sudah sedikit terbuka.
"Tuan Muda, bisakah kamu memotong gaji asistenmu ini? Dia sudah berbuat kejahatan padaku," adu Nathan.
"Kejahatan apa?" tanya Alvino seraya menautkan kedua alisnya.
"Dua kali dia memukul lukaku tanpa perasaan. Kamu tahu Al, rasanya seperti adik kandung kecilku terjepit pintu!" sahut Nathan asal, semua yang berada di dalam ruangan pun tak bisa lagi menahan tawanya sedangkan tangan Alvino dengan refleks menonyor kepala sahabatnya dengan cukup kencang.
"Kamu benar-benar seperti aunty Mila, Nat. Aku yakin uncle Jo pasti akan sakit kepala jika menghadapi kalian berdua secara bersamaan." Alvino bicara dengan ketus tapi senyum tipis terlihat dari sudut bibirnya.
"Sudahlah, kram perutku kalau berada di antara tiga pria yang kadang tidak normal seperti kalian. Aku mau mengecek pasienku lagi."
"Kamu jaga malam, Kak?" tanya Alvino setelah dia menyadari keberadaan Queen.
"Iya Al, ada pasien yang mau melahirkan tapi masih pembukaan tujuh. Aku pergi dulu," pamit Queen sambil berjalan menuju ke arah pintu.
"Kamu benar-benar membuang waktu ku, Nat!" kata Queen dengan jutek, dia pergi keluar dari ruangan tanpa peduli pada teriakan Nathan yang memanggilnya.
"Bisakah kamu tidak berteriak, Nat! Kita sedang berada di rumah sakit."
"Yang mengatakan kita sedang di kuburan siapa, Al?" tanya Nathan berusaha menggoda Alvino, sedangkan Kenan menghembuskan napas kasar karena dia tahu apa yang akan terjadi saat dua manusia itu sudah bersama.
"Segera obati lukamu atau aku akan benar-benar membuatmu tinggal di kuburan Nat!" ancam Alvino, membuat Nathan dengan segera mengulurkan tangannya ke arah perawat.
"Tuan Muda memang menyebalkan!" gerutu Nathan tetapi telinga Alvino masih mampu mendengarnya.
__ADS_1
"Aku belum tuli!" Nathan hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya saat melihat wajah Alvino yang sudah terlihat merah padam.
Perawat yang akan mengobati luka Nathan segera membuka sapu tangan yang masih setengah terbalut di lengan Nathan, dengan telaten dia membersikan luka itu sedangkan Kenan menatap heran ke arah Nathan yang diam dan hanya terlihat meringis menahan sakit.
"Kenapa kamu tidak lagi berteriak, Nat?" tanya Kenan heran.
"Diamlah Ken, aku sedang jaga image aku di depan calon kakak ipar. Ya Tuhan!" Nathan kembali memekik saat Alvino memukul bahunya cukup keras.
"Aku tidak sudi punya adik ipar seperti kamu."
"Jangan seperti itu, Al. Walaupun kamu tidak sudi kalau aku dan Nadira berjodoh dan semesta merestui hubungan kita, kamu bisa apa Al."
"Nathan aku benci ...."
"Diamlah Al, biar lukaku di obati terlebih dahulu," ucap Nathan memotong ucapan Alvino. "Simpan amarahmu dan jangan lagi melukai ku dengan tanganmu yang penuh dosa." Kedua bola mata Alvino menatap ke arah Nathan dengan tatapan yang tajam.
"Tangan kamu tuh yang penuh dosa. Tanganku masih suci!"
"Kamu yakin masih suci? Aku meragukan kesucian tanganmu, aku yakin dia pasti sering di ajak bersolo karir walau kamu masih perjaka!" ceplos Nathan.
"Aku benci mulut sialanmu Nat!" Alvino berjalan keluar dari ruangan karena berada di samping Nathan benar-benar bisa membuat otaknya rasanya mau pecah.
...🍫🍫🍫🍫🍫...
Bagaimana jempol kalian? Tidak lupa dukungan buat Author kan?
__ADS_1
Masih Author tunggu terus yaa.