Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
94


__ADS_3

Wajah-wajah cemas terlihat dari beberapa orang yang sedang duduk di depan ruang operasi. Jo sedari tadi memeluk tubuh Mila yang sudah begitu lemas karena terlalu banyak menangis, sedangkan Rayhan memeluk tubuh Cacha dengan erat. Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya operasi itu selesai. Mereka segera mendekati dokter yang keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Jo tidak sabar.


"Saya sudah berhasil mengambil peluru yang hampir mengenai jantungnya. Namun, kalian harus bersabar karena Tuan Nathan sekarang justru koma," terang dokter itu.


"Mas," ucap Mila. Dia memeluk erat tubuh suaminya dan menangis di sana. "Aku takut, Mas."


"Tenanglah, Mil. Aku yakin Nathan akan segera sadar dan sembuh. Bukankah kamu tahu kalau putra kita itu anak yang kuat," ucap Jo berusaha menenangkan Mila, meskipun di dalam hatinya, dia sedang sangat gelisah saat ini. Dokter itu pun berpamitan karena masih ada pekerjaan yang harus di lakukan.


Cacha yang juga sedang menangis di pelukan Rayhan, tiba-tiba melepas paksa pelukan itu dan menatap benci ke arah Nadira dan keluarganya yang sedang berjalan mendekat.


"Aku benci kamu, Nad!" kata Cacha dengan lantang. "Gara-gara kamu Kak Nathan terluka. Puas kamu!" Cacha menunjuk wajah Nadira dengan sorot mata penuh kemarahan.


"Maafkan aku, Cha." Nadira menunduk, airmatanya kini telah mengalir membasahi wajahnya.


"Aku benci kamu! Hati Kak Nathan sudah sangat terluka dan sekarang dia sekarat. Kenapa Kak Nathan tidak membiarkan kamu saja yang tertembak! Kenapa Kak Nathan masih saja berkorban untuk orang seperti kamu yang tidak memiliki hati. Kenapa bukan kamu saja yang mati, Nad!


"Cacha!" bentak Jo tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Mila. "Ayah tidak pernah mengajarimu berbicara sekurang ajar itu!" geram Jo. Dia bisa melihat Cacha yang sedang dipenuhi dengan emosi.

__ADS_1


Nadira menghapus airmatanya, dia berjalan mendekati Mila dan Jo lalu bersimpuh di depan mereka. "Aunty, Uncle, maafkan Nadira," ucap Nadira terisak. Mereka menatap tidak percaya atas apa yang dilakukan Nadira.


"Bangunlah, Sayang," suruh Mila, tapi Nadira tetap bersimpuh dengan wajah yang dipenuhi derai airmata.


"Aunty, Nadira sudah menyakiti hati semua orang, termasuk Kak Nathan. Maukah Aunty membunuh Nadira saat ini?" Mereka semua tercengang mendengar ucapan Nadira. Davin memeluk Aluna yang sedang menangis.


"Aunty tidak akan melakukan hal sekotor itu, Sayang." Mila melepaskan pelukan Jo dan duduk bersimpuh di depan Nadira.


"Maafkan Nadira, Aunty." Tangis Nadira belum sedikit pun surut.


"Aunty sudah memaafkanmu. Kamu jangan sedih, Nathan pasti akan sangat sedih kalau melihat kamu menangis," kata Mila dengan suara yang terdengar begitu berat. Nadira memeluk tubuh Mila dengan erat.


***


"Mom, apakah Mommy mau memaafkan Nadira?" tanya Nadira pelan. Aluna mengusap rambut hitam milik Nadira dengan lembut. Sekarang mereka sudah berada di taman belakang Mansion Alexander.


"Tentu saja. Mommy juga minta maaf sudah berkata kasar kepadamu kemarin," balas Aluna. Jujur, Aluna sangat menyesal sudah berkata sekasar itu kepada Nadira.


"Yes, Mom. Kalau Nadira tidak keterlaluan, Mommy juga tidak akan semarah itu. Daddy ke mana?" tanya Nadira lagi. Karena sejak ia bangun tidur, dia tidak melihat keberadaan sang daddy.

__ADS_1


"Daddy sedang di kantor polisi bersama Uncle Jo. Mereka sedang mengurus Andre dan lainnya," sahut Aluna.


"Memang Andre itu siapa, Mom? Kenapa sepertinya sangat dendam dengan Mommy dan daddy?" tanya Nadira begitu penasaran. Aluna menghela napas panjang dan menghembuskan secara perlahan. Dia pun menceritakan kejadian masa lalu yang membuat Andre menjadi begitu dendam dengan mereka.


"Nad, apakah kamu tidak mencintai Nathan?" tanya Aluna setelah dia selesai bercerita. Nadira hanya membisu dengan kedua mata yang terlihat berkaca-kaca.


"Memang cinta itu seperti apa, Mom? Aku tidak tahu apakah aku mencintai Kak Nathan atau tidak."


"Memangnya dulu saat kamu bersama Dion, apa yang kamu rasakan? Kenapa kamu bilang sangat mencintai Dion?" Aluna menatap wajah Nadira dengan lekat.


"Dion itu baik, Mom. Dia selalu memberi aku kasih sayang dan perhatian. Kalau sama Kak Nathan aku rasanya mau emosi terus, bahkan tensi darahku selalu terasa naik sampai ke ubun-ubun. Tapi ...." Nadira terdiam tidak meneruskan kata-katanya.


"Tapi kenapa?"


"Saat aku dekat dengan Dion, jantungku tidak berdebar-debar seperti saat aku dekat dengan Kak Nathan." Aluna tersenyum lebar saat mendengar perkataan Nadira.


🍫🍫🍫🍫


Dukungannya masih Othor Talas tunggu yaa 😂

__ADS_1


__ADS_2