
Perusahaan Saputra.
Di ruangan Presiden Direktur Saputra Group, Nathan duduk bersandar di kursi kebesarannya. Pandangannya menatap ke arah meja yang tidak jauh darinya, meja yang kini sudah kosong tidak berpenghuni. Berkas-berkas yang harusnya ia kerjakan, justru hanya tergeletak di atas meja begitu saja.
"Aku sangat merindukanmu. Biasanya aku bisa melihat wajah cantikmu, apalagi wajah kesalmu yang terlihat begitu menggemaskan." Nathan menghela napas panjang.
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, dia tidak berkomunikasi dengan Nadira maupun Alvino. Nathan memang sengaja menjauh dari mereka, belajar menerima keputusan Nadira walau sebenarnya dia tidak tega jika suatu saat nanti akan melihat Nadira terluka.
Nathan memejamkan kedua matanya, berusaha menghilangkan bayangan Nadira yang terus saja menghantui pikirannya. Namun, kedua bola matanya terbuka lebar saat melihat Anin mengetuk meja kerjanya dengan keras.
"Anin, bagaimana bisa kamu sudah berdiri di sini? Bisakah kamu mengetuk pintu sebelum masuk," kata Nathan ketus.
"Aku sudah mengetuk pintu sampai tanganku rasanya mau patah, Nat. Kamu hanya sibuk dengan lamunanmu, sampai aku terabaikan begitu saja." Anin berpura-pura marah. Dia mendudukkan tubuhnya dengan kasar di atas kursi milik Nadira dulu.
"Ada perlu apa kamu datang ke sini?" tanya Nathan sambil menatap lekat wajah cantik Anin.
"Ayo, kita cari cincin pertunangan," ajak Anin. Nathan menghembuskan napasnya secara kasar.
"Buat apa, Nin? Aku sudah ada tuh, cincin pertunangan yang kemarin sudah dibuang." Suara Nathan terdengar begitu sedih. Bayangan saat Nadira membuang cincin itu, kembali membuat hatinya begitu terluka.
"Nathan! Namaku itu Anindita bukan Nadira. Kedua mataku masih bisa melihat dengan jelas di cincin itu terukir inisial NN. Pokoknya kita cari cincin tunangan sekarang juga, atau aku tidak akan menemani kamu menemui Monica si Janda Seksi," ancam Anin sambil bergaya centil, menunjukkan lekukan tubuhnya. Seketika Nathan tergelak keras, apalagi saat ia melihat Anin yang mengerlingkan mata ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar gila, Nin! Apa kamu rela kalau wajah tampanku ini dibelai sama si Monica? Bayangin aja aku sudah tidak sanggup." Nathan bangkit berdiri dan menggandeng tangan Anin keluar dari ruangannya.
"Ayo, Sayang. Aku turuti keinginanmu, tapi kamu juga harus penuhi janjimu padaku," ucap Nathan. Anin hanya mencebikkan bibirnya dengan kesal sambil memukul lengan Nathan yang sekarang sedang di gandengnya. Mereka berdua seolah tidak perduli saat banyak karyawan yang memandang mereka dengan heran.
***
"Bagaimana, Nat? Apa ini cocok untukku?" tanya Anin sambil menunjukkan sebuah cincin tunangan yang sedang ia coba di jari manisnya.
"Nin, kamu mau memakai apa saja, semua pasti cocok," rayu Nathan. Wajah Anin seketika terlihat merah merona. "Nih, pas 'kan," ucap Nathan. Dia meletakkan tangannya di sebelah tangan kiri Anin, hingga cincin tunangan itu terlihat sangat serasi.
"Bagus banget, Nat." Wajah Anin nampak begitu semringah. "Mbak, aku mau yang ini saja. Barangnya aku ambil sekitar dua minggu lagi. Aku minta ukir inisial AN di dalamnya," ucap Anin, pegawai toko itu hanya mengangguk paham dan segera mencatat pesanan Anin dan Nathan.
Setelah selesai dengan urusan cincin pertunangan, mereka berdua segera keluar dari toko itu. Namun, langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan Nadira dan Dion yang hendak masuk ke dalam toko. Nathan segera memalingkan wajahnya, menghindari tatapan matanya dengan Nadira.
"Baby, kenapa kamu melamun?" Dion menyadarkan Nadira dari diamnya.
"Ma-maaf. Kak Anin kok di sini, habis nyari perhiasan?" Nadira berusaha menetralkan kegugupannya.
"Aku dan Nathan baru saja memesan cincin tunangan." Deg. Hati Nadira terasa mencelos sakit setelah mendengar jawaban Anin. Dia mengigit bibir bawahnya saat merasakan rasa sakit yang terasa kembali menghujami jantungnya. "Kamu ada perlu apa?"
"Aku mau mengambil cincin tunanganku. Kak Anin jangan lupa datang ke acara pertunanganku," kata Nadira dengan suara lirih.
__ADS_1
"Tentu, papa dan mama sudah bilang padaku kemarin. Kamu juga jangan lupa datang bersama Dion di acara pertunanganku dua minggu lagi," ucap Anin dengan wajah yang terlihat sangat ceria.
"Kak Anin mau tunangan sama Kak Nathan?" tanya Nadira penasaran.
"Ayo, Nin. Kita harus pergi sekarang, bukankah kita mau ke butik sekalian?" ajak Nathan. Nadira kembali menatap wajah Nathan yang tidak menatapnya sama sekali.
"Astaga, aku lupa harus mencoba gaunku," pekik Anin sambil menepuk keningnya.
"Dasar pikun," cibir Nathan. Dia mengusap kepala Anin dengan lembut, tapi sesaat kemudian dia mengacak-acak rambut Anin dengan gemas. Nathan tertawa keras saat melihat wajah Anin yang terlihat sangat kesal. "Kamu sangat menggemaskan saat sedang kesal seperti ini. Jangan lupa, Sayang. Setelah ini kamu harus menemaniku menemui si Janda Seksi."
"Kamu semangat sekali mau bertemu Janda Seksi. Aku pergi dulu, Nad," pamit Anin sambil berlalu pergi.
Nadira menatap kepergian mereka dengan hati yang sakit. Bahkan, hatinya rasanya seperti diremas kuat saat melihat Anin yang pergi sambil menggandeng tangan Nathan dengan mesra.
Kenapa hatiku rasanya sangat sakit, melihat mereka berdua sangat dekat. Apa aku cemburu?
...🍫🍫🍫🍫...
Team Nathan dan Anin, angkat tangan ☝
Othor kalem terharu sekali dengan kalian yang meluangkan waktu untuk memberi komentar di sini.
__ADS_1
Terima kasih untuk like, komentar, hadiah maupun vote
Ayo semangatin Othor Kalem biar bisa update lagi 😄😄