Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
103


__ADS_3

Perusahaan Alexander Group.


Alvino duduk bersandar di kursi kebesarannya. Beberapa hari ini dirinya merasa begitu tak tenang saat meninggalkan sang istri di rumah bersama Felisa walaupun masih ada beberapa pelayan yang lain. Dia memiliki firasat yang buruk setiap kali melihat gerak-gerik Felisa. Namun, saat dia akan mengembalikan Felisa ke Mansion Alexander, Rania selalu menolaknya dan mengatakan kalau hanya Felisa yang dekat dengannya. Akhirnya, Alvino memilih untuk diam-diam mengawasi.


"Tuan, kenapa Anda melamun?" Kenan menyadarkan Alvino dari lamunannya.


"Ken, aku tidak melamun. Aku hanya kepikiran istriku. Setiap kali aku pergi bekerja, aku tidak pernah tenang meninggalkan istriku bersama Felisa," sahut Alvino. Ia memijat pelipisnya dengan pelan.


"Bagaimana informasi yang Anda dapat dari Mike? Bukankah Anda juga sudah menyuruh anak buah Mike untuk menjaga istri Anda?"


"Mike belum mendapatkan informasi yang sangat detail. Oh iya, kapan acara ulang tahun Nona Katty?" Alvino berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Besok malam, Tuan. Apa Anda akan datang?" tanya Kenan menyelidik.


"Kita lihat saja besok, Ken. Sepertinya aku akan datang, kamu 'kan tahu Nona Katty itu salah satu rekan kerja kita yang terbaik," sahut Alvino. Kenan menatap lekat ke arah Alvino yang terlihat bimbang. Di saat dirinya akan bertanya lagi, tiba-tiba ponsel Alvino terdengar berdering.


"Hallo, Mom ... apa?!" Alvino bangkit berdiri dari duduknya dengan wajah yang terlihat khawatir. "Baiklah, Al ke sana sekarang!"


"Ada apa, Tuan?" tanya Kenan penasaran saat melihat wajah Alvino yang terlihat begitu cemas.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit, Ken. Rania pingsan dan sekarang sudah berada di sana." Alvino berjalan terburu-buru keluar dari ruangannya diikuti Kenan yang berjalan di belakangnya. Setelah masuk ke dalam mobil, Kenan segera melajukan mobilnya dengan kencang. Ia berkali-kali melirik Alvino yang mengusap wajahnya dengan kasar.


Sesampainya di rumah sakit, Alvino segera berlari menuju ke ruangan VVIP tempat Rania di rawat, bahkan dia meninggalkan Kenan begitu saja.


"Sayang!" panggil Alvino. Dia bergegas mendekati tempat tidur Rania dan membenamkan ciuman di kening istrinya yang sedang tertidur. Saking khawatirnya, dia sampai tidak menyapa kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa.


"Kak Al." Rania terkejut saat membuka matanya dia melihat Alvino yang sedang duduk cemas di sampingnya.


"Bagaimana kamu bisa pingsan, Sayang?" tanya Alvino. Dia mengusap lembut pipi Rania dan menatap lekat wajah yang tampak begitu pucat.


"Kamu tenang saja, Al. Rania baik-baik saja." Alvino menoleh, dia melihat Davin dan Aluna yang sedang berjalan mendekatinya. Bersamaan Kenan yang masuk ke ruangan itu.


"Mommy, Daddy. Aku sampai melupakan kalian," kata Alvino. Kedua orang tuanya hanya menanggapi dengan senyuman.


"Maksudnya ... Rania sedang hamil?" tanya Alvino tak percaya. Aluna mengangguk perlahan diiringi senyuman simpul. Wajah Alvino seketika berbinar bahagia. Dia menghujami seluruh wajah Rania dengan banyak ciuman.


"Aku bahagia sekali, Sayang. Akhirnya keinginan kita memiliki buah hati akan segera terwujud." Rania tersenyum melihat suaminya yang terlihat begitu bahagia. Dia tidak menyangka jika Alvino akan sebahagia ini mendengar kabar kehamilannya.


"Aku juga bahagia, Kak." Rania mengusap wajah suaminya dengan lembut. Ia menatap lekat kedua mata lelaki yang sangat berharga untuknya.

__ADS_1


"Jangan lupa selalu jaga kesehatanmu dan calon buah hati kita, Sayang." Alvino mencium perut Rania yang masih rata. "Kenapa perutmu belum membuncit?" tanya Alvino sembari mengusap perut Rania dengan lembut.


Davin dan Aluna yang sedari tadi menatap haru kini mereka menggeleng tak percaya dengan pertanyaan Alvino. "Al, kehamilan Rania baru jalan tujuh minggu. Jadi, perutnya belum membesar," jelas Aluna. Alvino mengangguk paham.


"Al, jaga istrimu dengan baik. Biasanya wanita hamil itu sangat sensitif. Semoga saja Rania tidak mengalami morning sickness ataupun ngidam parah," kata Davin. Dia tersenyum saat mengingat dirinya yang dulu kerepotan menghadapi Aluna yang ngidam.


"Tentu saja, Dad. Sayang, apa kamu sudah menghubungi papa?" tanya Alvino.


"Sudah, papa akan ke sini nanti sore karena sekarang dia masih sibuk. Kak, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Rania balik.


"Aku sedang tidak sibuk. Aku ingin menemanimu di sini." Alvino naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Davin, Aluna dan Kenan segera keluar dari ruangan dan membiarkan pasangan itu menikmati kebahagiaan mereka.


"Sayang, apa kamu tidak ingin sesuatu?" tanya Alvino. Dia kembali mengusap perut istrinya dengan lembut.


"Kak, sebenarnya aku ingin sesuatu," sahut Rania dengan ragu.


"Katakanlah, Sayang. Jangan sampai anak kita ileran nantinya karena ngidam yang tidak dituruti." Alvino kembali mendaratkan ciuman di pipi Rania. Sungguh, dia merasa sangat bahagia saat ini.


"Kak, aku ingin ...." Rania terdiam. Dia benar-benar ragu untuk mengatakannya. Namun, dia juga sangat menginginkannya.

__ADS_1


"Katakan saja, Sayang," suruh Alvino tak sabar.


"Aku ingin ...." Kedua alis Alvino menaut saat menatap Rania yang terlihat salah tingkah. "Aku ingin bercinta di sini sekarang." Rania memalingkan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Sumpah demi apa pun, dia sangat malu saat ini. Alvino melongo mendengar permintaan Rania, tapi senyum bahagia kembali terpancar di wajahnya.


__ADS_2