Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
79


__ADS_3

Mansion Alexander.


Raut wajah Nadira pagi ini nampak begitu lesu. Bahkan, tidak ada sedikitpun senyum yang terlihat dari kedua sudut bibir Nadira. Aluna yang sedari tadi mengamati wajah putrinya, menjadi begitu penasaran.


"Kamu kenapa, Nad?" tanya Aluna saat Nadira sudah berdiri di sampingnya.


"Nadira baik-baik saja, Mom. Nadira berangkat dulu." Setelah mencium punggung tangan sang mommy, Nadira segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju ke Saputra Group.


Hembusan napas kasar berkali-kali keluar dari mulut Nadira. Hatinya gelisah saat ini, sejak semalam nomor ponsel Dion sama sekali tidak bisa dihubungi. Bahkan, keberadaan Dion seolah hilang ditelan bumi.


Nadira sudah berusaha menghubungi semua teman-teman Dion, tapi tidak ada satupun dari mereka yang tahu di mana Dion berada. Nadira juga menghubungi nomor rumah Dion, tapi kata pembantunya Dion tidak berada di rumahnya.


Nadira memarkirkan mobilnya di depan Saputra Group, setelah itu dia masuk ke ruangannya dan melihat Nathan yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Maaf, Kak. Aku datang terlambat." Nadira melihat jam di pergelangan tangan. Keningnya terlihat mengerut saat melihat jam masuk kerja masih lima menit lagi.


"Bukan kamu yang terlambat, tapi aku memang datang lebih pagi," sahut Nathan sambil menatap lekat wajah Nadira.


"Bagaimana dengan luka Kak Nathan?" tanya Nadira lirih. Dia menatap wajah Nathan yang masih terlihat bekas lebam di beberapa bagian.


"Luka seperti ini tidak terasa apa-apa bagiku. Ya, walaupun sedikit mengurangi kadar kegantenganku beberapa persen," seloroh Nathan, Nadira terlihat mencebikkan bibirnya kesal. Tanpa menanggapi ucapan bosnya, dia segera duduk di kursinya dan mulai bekerja. Namun, Nadira tidak bisa fokus sama sekali, karena saat pikiran tentang Dion datang melintas, hatinya akan mendadak gelisah. Dia duduk di depan komputernya, tapi pandangan matanya sedari hanya menatap kosong.


"Nadira." Tubuh Nadira terjengkit saat tangan Nathan menepuk pundaknya pelan. Dia menatap heran ke arah Nathan yang sudah duduk di atas meja kerjanya.


"Kak Nathan, kenapa Kakak sudah di sini?" tanya Nadira bingung.

__ADS_1


"Makanya kalau kerja jangan suka melamun. Aku lelah memanggilmu, aku berjalan ke sini saja, kamu tidak tahu," sahut Nathan menyindir.


"Maaf, Kak." Nadira menundukkan kepalanya, sedangkan Nathan menghela napas panjang.


"Kamu sedang ada masalah?" tanya Nathan menyelidik. "Kamu bisa cerita sama aku," sambungnya.


"Kak, kalau kita punya pacar, apa ada kemungkinan pacar kita melamar wanita lain?" tanya Nadira ragu. Nathan menarik senyum lebar dari kedua sudut bibirnya.


"Nad, jangankan masih berpacaran. Orang sudah menikah, yang sudah ada ikatan sah saja, terkadang masih ada yang terpikat dengan wanita lain. Mereka sering selingkuh, atau bahkan punya istri lagi secara diam-diam. Apalagi yang masih pacaran, yang jelas-jelas belum ada ikatan apapun."


"Pacaran itu kan juga ikatan, Kak."


"Bukan, pacaran itu hanya sebuah stempel hubungan. Bertunangan, menikah itu baru namanya ikatan."


"Memang Kak Nathan tidak pernah punya pacar?"


"Kak, mommy menyuruh Dion melamarku dalam waktu satu minggu ini. Kalau Dion tidak datang, hubunganku dan Dion harus berakhir. Kak Nathan tahu sendiri, 'kan? Mommy itu orang yang seperti apa," ucap Nadira lirih.


"Kalau aku boleh jujur, aku setuju dengan usulan Aunty Aluna. Kalian berdua sudah menjalin hubungan yang lama. Sebelum terjadi kejadian yang tidak diharapkan, lebih baik ...."


"Kak! Aku dan Dion masih bisa menjaga diri!" bentak Nadira memotong ucapan Nathan begitu saja.


"Ya, untuk saat ini, tapi kita tidak tahu besok-besok, Nad. Kamu harus ingat, Nad. Kamu ini putri satu-satunya Tuan Davin dan Aunty Aluna. Kamu itu putri kebanggaan mereka, jangan sampai kamu membuat mereka kecewa." Nadira kembali diam membisu. "Kita taruhan saja."


"Taruhan apa?" tanya Nadira sambil menatap lekat ke arah Nathan.

__ADS_1


"Minggu depan, sampai batas waktu yang sudah Aunty Aluna tentukan untuk kamu dan Dion. Kita akan lihat sebesar apa keseriusan Dion kepadamu. Kalau dia datang menemui orang tuamu, itu artinya dia lelaki bertanggung jawab. Kalau dia tidak datang, maka aku akan datang melamarmu."


"Tidak mau! Kak Nathan genit, aku tidak suka!" protes Nadira tidak terima.


"Kamu tenang saja. Kita buat perjanjian, kalau akhirnya aku yang datang melamarmu. Maka aku akan merubah sikapku, aku tidak akan genit ataupun menggoda wanita lain lagi. Bagaimana?" Nathan menatap ke wajah Nadira yang terlihat begitu bimbang.


"Aku bukan bahan taruhan, Kak." Suara Nadira terdengar melirih.


"Siapa yang mengataimu barang taruhan? Aku hanya tidak ingin kamu jatuh pada lelaki yang salah, Nad. Bagiku, kamu sudah seperti Cacha yang harus benar-benar aku jaga. Aku tidak mau kamu jatuh pada lelaki yang tidak bertanggung jawab."


"Memang Kak Nathan itu lelaki yang bertanggung jawab?" tanya Nadira tidak percaya.


"Aku akan berusaha menjadi lelaki bertanggung jawab. Bagaimana? Kamu mau?" Nathan mengulurkan tangannya di depan Nadira, sedangkan Nadira hanya menatap tangan itu tanpa membalasnya. "Ayolah, Nad. Kalau kamu yakin Dion itu lelaki bertanggung jawab, kamu pasti tidak akan seragu ini." Nathan berusaha mengompori. Dengan berat hati, Nadira membalas uluran tangan Nathan, menyetujui taruhan yang Nathan berikan. Karena dia yakin, kalau Dion adalah lelaki yang bertanggung jawab.


"Kita lihat siapa yang akan datang menemui orang tuamu. Aku atau Dion." Nathan menatap lekat ke arah Nadira sambil tersenyum tipis, sedangkan Nadira hanya diam membisu. "Kembalilah bekerja dan kuharap kamu tidak mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Jadilah wanita karir yang profesional." Nathan mengacak-acak rambut Nadira dengan gemas, setelah itu dia berjalan kembali ke kursinya.


"Dasar pria menyebalkan," gerutu Nadira sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.


"Aku masih bisa mendengar suara merdumu, Nad." Nathan tersenyum tipis ke arah Nadira, sedangkan Nadira hanya mencebikkan bibirnya kesal.


...🍫🍫🍫🍫...


Minggu depan, siapa yang bakal datang lebih menemui Davin dan Aluna nih?


Dion atau Nathan?

__ADS_1


Hayoo jawab 😂


__ADS_2