Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
90


__ADS_3

Nathan duduk bersandar di kursi kebesarannya, dia menatap ke arah Cacha yang sedang serius di depan komputer. Nathan sedari tadi hanya terdiam, bahkan pekerjaannya tidak tersentuh sama sekali.


"Kak Nathan, jangan melamun. Kesambet setan lewat baru tahu rasa loh," kata Cacha tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.


"Mata kamu tajam bener, Cha. Tidak masalah kalau setan yang lewat itu cantik, bohay, dan aduhay," seloroh Nathan.


"Dasar genit! Mana ada setan yang mau sama cowok yang mukanya babak belur gitu. Setan itu sudah jelek, jadi mereka nyari pasangan yang tampan supaya bisa memperbaiki keturunan." Cacha menutupi mulutnya berusaha menahan tawa.


"Walau babak belur, tapi kadar ketampananku tidak pernah berkurang, Cha." Nathan menaik-turunkan alisnya, sedangkan Cacha hanya mendengus sebal.


"Kak, kamu sudah yakin akan melepas Nadira untuk Dion? Kamu tidak akan berjuang lagi?" tanya Cacha, wajahnya nampak begitu serius.


Nathan menghembuskan napas kasar. "Cha, aku tidak akan pernah memaksa Nadira. Biarkan dia bahagia dengan keputusannya."


"Tapi Kak ... aku tidak rela kalau Nadira dengan Dion. Aku tahu kalau Dion itu ...."

__ADS_1


"Kak Nathan!" Nathan dan Cacha terlonjak mendengar teriakan Nadira, bahkan Nadira membuka pintu ruangan Nathan dengan sangat kasar. "Kak Nathan kenapa kejam sekali!" bentak Nadira, ia menunjuk wajah Nathan. Namun, tubuhnya mematung saat melihat beberapa melihat luka lebam di wajah Nathan.


"Apa maksud perkataan Anda, Nona Muda." Hati Nadira terasa mencelos sakit saat mendengar Nathan memanggilnya 'Nona Muda'. Nathan bangkit berdiri dan sedikit membungkuk di depan Nadira, sedangkan Cacha hanya bergeming di tempat duduknya.


"Kak Nathan," panggil Nadira dengan lirih.


"Anda tidak perlu memanggil saya seperti itu. Anda cukup memanggil saya Nathan." Suara Nathan terdengar begitu sopan. Amarah Nadira yang barusan sudah di ubun-ubun, kini terasa lenyap begitu saja. "Ada keperluan apa Anda datang kesini, Nona? Kenapa Anda masuk ke ruangan saya dengan marah-marah. Bahkan Anda melupakan adab saat masuk ke ruangan orang lain," sindir Nathan, bibirnya menunjukkan senyum mengejek.


"Maafkan aku tidak sopan," ucap Nadira tak enak hati. "Semalam Dion menghubungiku dan mengatakan kalau Kak Nathan menghajarnya sampai babak belur, bahkan dia nyaris dilarikan ke rumah sakit. Apakah itu benar Kak?" Suara Nadira mulai terdengar meninggi. Sepertinya, amarah Nadira yang barusan mereda kini mulai akan menguasainya lagi.


"Pulanglah, Nad. Aku minta maaf kalau Kak Nathan sudah menyakiti Dion." Nadira menoleh ke arah Cacha yang sedang duduk santai di kursinya.


"Cacha," panggil Nadira yang baru saja menyadari keberadaan Cacha di ruangan itu. "Kamu di sini?"


"Kak, kita ada pertemuan dengan klien setelah ini," kata Cacha tanpa peduli pada Nadira. Hati Nadira kembali merasakan sakit, dia juga bisa melihat sorot mata Cacha yang terlihat begitu kecewa.

__ADS_1


"Nona Muda, sepertinya Anda harus pulang sekarang. Saya sangat meminta maaf karena sudah menyakiti kekasih Anda."


"Kak ...."


"Pergilah, Nad. Kalau kamu tidak memiliki urusan penting di sini. Jangan mengganggu pekerjaan kami. Soal Dion, bukankah kakakku sudah meminta maaf dan dia akan membawa kado spesial untuk kalian besok." Nadira menatap tidak percaya ke arah Cacha yang berbicara ketus kepadanya. Bahkan, Cacha sudah berani mengusirnya.


" Baiklah aku pergi," pamit Nadira. Dia segera keluar dari ruangan Nathan karena merasa sangat tidak nyaman di sana. Sementara Nathan, hanya mematung sembari menatap punggung Nadira yang perlahan menjauh darinya.


"Kak Nathan kenapa tidak menjelaskan semuanya?" tanya Cacha yang kini sudah berdiri di samping kakaknya. "Harusnya Kak Nathan katakan semuanya pada Nadira kalau Kakak adalah korban!" omel Cacha.


Nathan tidak menjawab, dia memegang pinggiran meja untuk menompang tubuhnya yang tiba-tiba terasa begitu lemas. Hatinya terasa berdenyut sakit saat melihat rasa cinta Nadira pada Dion yang begitu besar. Nadira begitu percaya dengan semua ucapan Dion tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Tangan Nathan terlihat meremas kuat pinggiran meja itu, untuk menyalurkan segala rasa sakit yang datang menyergapi hatinya. Hembusan napas kasar terdengar berkali-kali keluar dari mulutnya.


Cacha menekan tombol di meja Nathan, untuk mengunci pintu ruangan itu secara otomatis. Dia mengusap punggung kakaknya dengan perlahan. "Menangislah, Kak. Jangan berpikir karena kamu seorang lelaki, kamu dilarang menangis," kata Cacha, ia berusaha menahan airmatanya. Namun, ia tak mampu menahannya saat mendengar isakan lirih dari bibir Nathan. Dengan cepat Cacha memeluk erat tubuh kakak yang sangat disayanginya itu.


"Kuatkan aku, Cha," kata Nathan dengan suara parau. Pelukan itu terasa semakin menguat dan Cacha hanya bisa mengusap punggung kakaknya untuk memberinya kekuatan.

__ADS_1


Slow Update ya gaess, masih tahap pemulihan 🙏


__ADS_2