
Pagi di kediaman Sandijaya.
Rania berjalan menuju ke kamar Ana, dia mengetuk pintu kamar itu berkali-kali tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar. Rania membuka kamar Ana yang ternyata tidak di kunci. Dia melangkahkan kakinya masuk dan mencari keberadaan Ana. Rania menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka, dia melihat Ana yang keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi berwarna putih menempel di tubuhnya.
"Tumben sekali Kakak sudah mandi padahal ini hari libur. Kakak mau pergi?" tanya Rania heran, dia mendudukkan tubuhnya di atas kasur Ana.
"Bukan urusanmu! Harusnya kamu memiliki sopan santun, tidak masuk kamar orang dengan sembarangan." Rania menatap ke arah Ana yang terlihat ketus kepadanya. Hati Rania merasa sakit saat mendengar ucapan Ana tadi, bukankah sudah biasanya dia keluar masuk kamar Ana tanpa mendapat protes dari Ana, tetapi kenapa Ana sekarang terlihat begitu marah.
"Maaf Kak," ucap Rania lirih.
"Bangunlah, jangan mengotori sprei yang baru saja kupasang!" perintah Ana dengan nada membentak. Rania segera beranjak bangun dan berdiri di samping tempat tidur Ana.
"Apa Kakak ada masalah? Kenapa Kakak terlihat sangat membenciku?" tanya Rania parau, dia hendak menangis tetapi Rania sekuat mungkin menahan airmatanya. Ana menatap Rania dengan perasaan tidak tega. Dia berjalan mendekati Rania dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, Ran. Aku sudah membentakmu," ucap Ana penuh sesal.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Aku tahu Kakak pasti sedang lelah," sahut Rania, dia membalas pelukan Ana di tubuhnya.
"Sekarang keluarlah dari kamar Kakak, dan jangan sembarangan masuk ke kamarku, karena ini adalah ruang privasiku," ucap Ana, dia melepaskan pelukannya dan tersenyum dengan paksa ke arah Rania.
"Maafkan aku, Kak." Rania segera bergegas pergi keluar dari kamar Ana. Selepas kepergian Rania, Ana merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia menatap langit-langit kamarnya sesaat.
"Ya Tuhan, bantu aku belajar menjadi wanita yang dewasa dan mampu mengontrol emosiku," gumam Ana, dia memejamkan kedua matanya, tanpa sadar setetes airmata keluar dari sudut mata Ana, dengan segera Ana menghapus airmata itu.
Sementara itu, Rania yang baru saja keluar dari kamar Ana, melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Sesampai di dapur, dia melihat beberapa pelayan yang sedang menyiapkan sarapan.
"Bolehkah aku membantu kalian?" tanya Rania saat dia sudah berada di dekat para pelayan.
"Maaf Nona Muda, lebih baik jangan membantu karena saya takut Tuan Sandi akan marah," tolak Bi Iyem yang merupakan kepala pelayan di Kediaman Sandijaya.
"Tidak mungkin, Papa mana mungkin marah." Rania bersikukuh, dia mengambil pisau dan membantu memasak sarapan. Para pelayan itu hanya bisa dan berdoa semoga Tuan Sandi tidak melihatnya.
Setelah sarapan sudah tersaji di meja makan, Tuan Sandi dan Ana segera bergabung ke meja makan untuk sarapan. Tuan Sandi merasa heran, karena biasanya sarapan mereka akan di penuhi dengan obrolan tetapi pagi ini terasa begitu sepi, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
"Kalian sedang ada masalah?" tanya Tuan Sandi seraya menatap kedua putrinya bergantian.
"Tidak," sahut Ana dan Rania bersamaan.
"Kenapa Papa merasa kalian lebih banyak diam pagi ini?" tanya Tuan Sandi penasaran. Saat Rania hendak menjawab, seseorang yang berjalan memasuki ruang makan berhasil mengalihkan perhatian mereka.
"Kak Kenan," panggil Rania dengan wajah semringah.
__ADS_1
"Selamat pagi, maaf aku mengganggu sarapan kalian," ucap Kenan sopan.
"Tidak apa, Ken. Ayo ikut sarapan bersama," ajak Tuan Sandi, tetapi Kenan menolak karena dia sudah sarapan di rumah.
"Kak Kenan tumben sekali sepagi ini sudah sampai sini, ada perlu apa?" tanya Rania, dia membalik sendok dan garpunya pertanda makannya telah selesai.
"Aku mau mengajakmu jalan-jalan, apa kamu mau?" tanya Kenan balik.
"Kemana?"
"Rahasia." Rania memukul lengan Kenan karena merasa kesal dengan jawaban Kenan, sedangkan Kenan hanya tersenyum lebar.
"Kenapa Kak Kenan menyebalkan sekali," cebik Rania sambil bersidekap. Tangan Kenan mencubit hidung Rania dengan sangat lembut.
"Kamu menggemaskan sekali," ucap Kenan dengan masih mencubit hidung Rania.
"Kak, sakit," ucap Rania manja, Kenan segera melepaskan cubitan itu.
"Ehem! Jangan lupakan kita yang masih di sini," sindir Tuan Sandi dengan bercanda. Kenan dan Rania hanya tersenyum ke arah Tuan Sandi, sedangkan Ana hanya terdiam merasakan hatinya yang begitu sakit melihat kemesraan Kenan dan Rania.
"Aku ke kamar dulu, Pa," pamit Ana, dia beranjak bangun dan berjalan kembali ke kamar. Mereka bertiga yang masih duduk di meja makan, menatap punggung Ana yang perlahan menjauh.
"Sudah, sana kalian kalau mau pergi jalan-jalan," suruh Tuan Sandi. Kenan dan Rania hanya mengiyakan, Rania berpamitan ke kamar untuk bersiap-siap.
Hari ini adalah akhir pekan, suasana Taman Kota begitu ramai. Ada yang dengan berakhir pekan dengan keluarganya, kekasihnya ataupun teman2 mereka. Kenan dan Rania duduk berdua di bangku panjang yang berada di taman itu. Rania menatap orang yang berada di sekitarnya, sedangkan Kenan hanya menatap wajah Rania dengan lekat.
"Kak Kenan, maukah Kakak mendengarkan sedikit ceritaku?" tanya Rania ragu. Saat matanya melihat dua gadis kembar sedang berjalan bersama dengan saling bercanda, membuat Rania teringat dengan sikap Ana yang berbeda pagi ini.
"Kamu mau bercerita banyak pun, Kakak siap mendengarkan," jawab Kenan. Rania menghela napasnya panjang dan menghembuskan dengan perlahan.
"Menurut Kakak, apa sih yang membuat sikap seseorang berubah kepada kita?"
"Maksud kamu?" tanya Kenan tidak paham dengan pertanyaan Rania.
"Kemarin aku dan Ana masih baik-baik saja, tetapi tadi pagi sikap Ana sangat berubah kepadaku, bahkan baru tadi pagi Ana bicara dengan nada membentak. Aku tidak tahu apa kesalahanku kepada Ana." Suara Rania terdengar begitu sedih. Kenan merangkul bahu Rania, dan menyandarkan kepala Rania di bahunya, Rania hanya menurut.
"Mungkin Ana sedang lelah atau sedang banyak pikiran. Jadi, dia tidak sadar membentakmu. Jangan terlalu dipikirkan, aku yakin besok pasti Ana akan kembali baik kepadamu," ucap Kenan berusaha menenangkan hati Rania.
"Tapi aku tidak nyaman, Kak. Aku kangen bercanda dengan Ana." Rania hendak terisak, Kenan semakin merapatkan rangkulannnya.
"Percayalah, semua akan baik-baik saja," ucap Kenan tanpa sadar dia mencium puncak kepala Rania dengan lembut.
__ADS_1
"Ehem! Bisakah kalian tidak bermesraan sepagi ini di tempat umum. Kalian membuat jiwa jomlo ku meronta-ronta." Kenan segera melepaskan rangkulan tangannya, sedangkan Rania hanya menunduk malu.
"Bisakah kamu tidak menggangguku, Nat!" geram Kenan. Nathan yang datang bersama Alvino hanya tertawa mengejek, sedangkan Alvino hanya diam menatap lekat ke arah Rania yang juga sedang menatapnya.
"Maaf Ken. Aku hanya berusaha mengusir setan yang sebentar lagi akan lewat. Aku tidak mau kalian berdua kebablasan. Ran, hati-hati sama dia, dia suka makan anak gadis orang," goda Nathan.
"Mulutmu busuk sekali, Nat! Aku sumpahin kamu ...."
"Jangan main sumpah-sumpahan!" ketus Nathan sambil membekap mulut Kenan.
"Auh! Sakit Ken!" teriak Nathan sambil melepaskan bekapan tangannya dan memegang kakinya yang baru saja di tendang Kenan.
"Rasakan! Kamu selalu saja menyebalkan. Pergilah, jangan ganggu aku dan Rania," usir Kenan, tetapi Nathan justru duduk di samping Rania, sedangkan Alvino tetap berdiri pada posisinya.
"Nona cantik, aku masih belum bisa move-on dari suaramu yang sangat menggetarkan hatiku," ucap Nathan, Rania hanya tersenyum simpul ke arah Nathan, sedangkan tangan kanan Kenan menonyor kepala Nathan karena kesal.
"Kenapa sih, Nat. Sensi banget kamu sama aku. Contoh tuh tuan muda, dia sedang kalem pagi ini," kata Nathan sambil menunjuk ke arah Alvino yang hanya berdiri sambil menatap ke arah mereka.
"Kamu tumben sekali hanya diam saja, Al?" tanya Kenan heran.
"Tidak papa," sahut Alvino. "Ayo Nat kita pulang. Jangan suka menjadi obat nyamuk kalau orang lain sedang kencan," ajak Alvino sambil melangkahkan kakinya meninggalkan mereka bertiga.
"Kenapa Al aneh sekali?" tanya Kenan, dia benar-benar bingung melihat Alvino yang tidak seperti biasanya.
"Dia sedang galau karena motor merah kesayangannya di sita Tuan Davin, gegara semalam mabuk berat," sahut Nathan.
"Al mabuk?" tanya Kenan tidak percaya, Nathan mengangguk cepat, sedangkan Rania hanya diam mendengarkan. Nathan merogoh ponselnya yang berada di saku celana karena ponsel itu berbunyi.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya Nathan begitu panggilan itu terhubung.
"Dalam waktu tiga menit kalau kamu tidak sampai di parkiran, aku akan meninggalkanmu sendiri!" Perintah Alvino dari seberang telepon. Panggilan itu terputus begitu saja.
"Dasar Tuan Muda yang suka semena-mena!" umpat Nathan kesal. Sebuah pesan masuk ke ponsel Nathan, dia segera membuka pesan itu.
"Dua setengah menit waktumu tersisa. Lebih dari itu kamu pulang pakai ojek." Nathan membaca pesan itu dengan pelan, "Enak saja suruh pakai ojek. Apa jadinya kalau ada yang melihat. Seorang pengusaha muda yang sangat tampan, terlihat membonceng seorang tukang ojek, mau di taruh di mana mukaku," ucap Nathan dengan sombong, dia berlari dengan cepat menuju ke parkiran sebelum Alvino benar-benar meninggalkannya.
"Dasar makhluk aneh." Kenan menggelengkan kepalanya melihat Nathan yang berlari terbirit-birit, sedangkan Rania hanya menampilkan senyumnya dengan paksa.
...Jangan lupa beri Author dukungan ya, biar makin semangat up...
boleh like, vote, komentar ataupun hadiah.
__ADS_1
Author terima dengan senang hati๐