
Di dalam ruangan Presiden Direktur Alexander Group, tiga orang pria tampan duduk nyaman di posisi mereka masing-masing. Seorang pria duduk santai di sofa, sedangkan dua lainnya fokus pada berkas dan layar tabletnya.
"Kenapa suasananya kaku begini sih." Alvino dan Kenan mengalihkan pandangannya ke arah Nathan yang sedang duduk dengan gagah di sofa, dengan satu kaki menindih kaki lainnya dan tangan yang dia luruskan di atas sofa itu.
"Kamu tidak bekerja, Nat?" tanya Alvino kembali mengalihkan pandangannya pada berkas di tangannya.
"Tentu saja bekerja, kamu tidak lihat aku sudah gagah seperti ini. Bahkan tadi karyawan wanitamu tidak ada yang berkedip saat melihatku berjalan di depan mereka." Nathan menepuk dadanya untuk menyombongkan dirinya.
"Cih! Jangan terlalu percaya diri!"
"Bukankah sudah ku bilang, seorang pemimpin itu harus memiliki tingkat ...."
"Diamlah, Nat! Aku sudah bosan mendengarnya," sela Alvino.
"Ada perlu apa kamu datang kesini, Nat?" tanya Kenan berusaha melerai perdebatan mereka.
"Aku butuh asisten," sahut Nathan sembari menyandarkan kepalanya dengan tangan kiri sebagai tumpuannya.
"Kenapa kamu mencari kesini? Kamu pikir di sini tempat pembibitan asisten?!"
"Ya Tuhan, Tuan Muda. Kenapa Anda sensitif sekali." Alvino menatap tajam ke arah Nathan yang sedang memejamkan kedua matanya. "Pusing sekali ternyata menjadi seorang pemimpin perusahaan. Rasanya aku ingin sekali ajep-ajep agar otakku sedikit segar. Auh!" pekik Nathan dengan segera membuka matanya saat sebuah pulpen mendarat di kepalanya.
"Kamu kan bisa menyuruh Cacha magang di tempatmu, Nat. Bukankah anggota 'Four Angels' sudah waktunya untuk mereka magang," ucap Alvino tanpa mengalihkan pandangan dari berkasnya.
__ADS_1
"Ogah! Bukannya pekerjaanku terbantu justru aku akan dibuat semakin pusing kalau Cacha yang menjadi asistenku. Aku butuh asisten yang sudah berpengalaman," sahut Nathan sambil mengusap kepalanya. Suasana menjadi hening, karena Alvino dan Kenan tidak ada yang menanggapi ucapan Nathan. "Emmm, atau Nadira saja yang menjadi asistenku."
"Nat, apa bedanya Nadira dan Cacha? Mereka berdua sama-sama baru akan magang." Kenan menoleh ke arah sahabat somplaknya itu.
"Jelas berbeda, setidaknya Nadira lebih cantik dari Cacha jadi aku bisa cuci mata setiap hari. Alamak!" pekik Nathan lagi saat pulpen kedua kembali mendarat di kepalanya. Nathan segera menggenggam kedua pulpen itu dengan erat.
"Nat, kamu ini mencari seorang asisten untuk membantu pekerjaanmu apa mencari gadis yang bisa kamu genitin?" Kenan menggelengkan kepala dengan senyum tipis di bibirnya.
"Tentu saja mencari asisten untuk membantu pekerjaanku, Ken. Hanya saja, kalau asisten kita cantik semangat kerja kita jadi semakin membara," sahut Nathan sambil menaik-turunkan alisnya.
"Pergilah, Nat! Kamu benar-benar mengangguku!" usir Alvino kesal.
"Jahat sekali Anda wahai Tuan Muda." Alvino menoleh ke arah Nathan dan menatapnya dengan tajam. "Baiklah aku pergi sekarang juga," kata Nathan, dia bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan dengan membawa dua pulpen yang tadi di lempar oleh Alvino.
"Bukankah Anda tadi melemparkannya ke kepala Nathan? Saya lihat kalau Nathan membawa serta kedua pulpen Anda tadi." Alvino menghentikan pencariannya, dia menatap ke arah Nathan yang sudah memegang handdle pintu.
"Nathan!" panggil Alvino lantang. Nathan menoleh ke arah Alvino dan hanya cengengesan dengan menunjukkan dua buah pulpen di tangannya. "Kembalikan pulpenku, Nat!" perintah Alvino.
"Tuan Muda, sesuatu yang sudah di lempar itu artinya dia sudah terbuang dan aku sudah memungutnya. Jadi, kedua pulpen ini menjadi hak milikku dan tidak bisa diganggu gugat!" Nathan segera keluar dari ruangan itu.
"Nathan! Aku sangat membencimu!" teriak Alvino hingga suaranya menggelegar memenuhi ruangannya, Nathan yang masih berdiri di belakang pintu, menutupi mulutnya dengan telapak tangannya dan tertawa cekikikan. Rasanya, dia sangat puas sekali bisa membuat emosi Alvino naik sampai ke ubun-ubun.
Kenan yang duduk di kursinya hanya bisa berdecak melihat kedua sahabatnya yang selalu saja berdebat saat sedang bersama.
__ADS_1
"Sudahlah, Tuan. Jangan buang emosi Anda untuk hal yang tidak penting seperti itu." Kenan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke meja Alvino dengan membawa sebuah pulpen di tangannya. "Kalian berdua benar-benar seperti bocah," sambung Kenan sambil meletakkan pulpen itu di meja Alvino lalu dia kembali ke mejanya.
"Diamlah Ken, atau kamu mau aku memotong gajimu bulan ini," ancam Alvino masih dengan perasaan kesal.
"Astaga Al. Kamu tidak kasihan padaku? Aku baru akan gajian dua hari lagi dan kamu dengan tega akan memotong gaji pertamaku?"
"Sopanlah Ken. Aku ini bos kamu di sini!" ucap Alvino dengan suara yang masih tinggi. Kenan menghembuskan napasnya secara kasar. Dia memilih kembali fokus pada pekerjaannya dari pada meladeni Alvino yang sedang di penuhi amarah.
🍫🍫🍫🍫
R : Thor candaanmu garing ih.
A : Biarin ahh, yang penting author seneng.
R : Thor, Rania gimana? isi rekaman di hape Anin apa? aku penasaran thor.
A : Sabar pemirsa, dari kemarin kita udah serius mulu, sekarang kita bercanda dulu biar enggak tegang yaa.. ups tegang 😂😂
Nih Author tepati janji, up 3 bab hari ini,
jangan lupa dukungannya. like, komen, hadiah juga vote boleh banget
Author tunggu! Doakan besok bisa up tiga bab lagi yaa 😂😂 mau nulis 'Mas Duda Kesayangan' dulu ahh 😂😂
__ADS_1