Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
39


__ADS_3

Ana berlari dengan kencang untuk mengambil motor sportnya yang berada di garasi. Begitu tubuhnya sudah duduk di atas jok motor, Ana segera memacu kendaraannya untuk menyusul Rania yang sudah berangkat sedari tadi, bahkan Ana sampai tidak menyadari keberadaan mobil Tuan Sandi yang berada di depan pintu gerbang.


"Kenapa Ana sangat buru-buru sekali? Kemana dia akan pergi?" gumam Tuan Sandi. "Kita ikuti Ana," perintah Tuan Sandi, pak sopir pun segera melajukan mobilnya mengikuti Ana dari belakang. Namun, mobil Tuan Sandi tidak mampu menyeimbangi laju motor Ana yang begitu kencang.


"Bagaimana, Tuan? Kita kehilangan jejak Nona Ana," ucap sopir itu lirih sambil menatap ke kanan dan ke kiri. Tuan Sandi tidak menjawab, dia hanya mengotak-atik ponselnya untuk mengikuti GPS ponsel Ana.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Rania baru saja menghentikan motornya di arena balap, meskipun dia hanya sendirian tetapi dia mencoba untuk tetap berani. Baru saja Rania turun dari motornya, Jack dan kawan-kawannya sudah datang mendekat. Rania mencoba terlihat berani seperti Ana walaupun sebenarnya dalam hati dia sangat ketakutan.


"Wah, inikah Nona Riana Sandijaya yang kemarin hanya selisih beberapa detik dari Alvino?" tanya Jack dengan senyum tipis di sudut bibirnya.


"Kalian siapa?" tanya Rania berusaha terlihat tenang.


"Kamu tidak mengenali lawanmu sendiri? Hebat sekali." Jack bertepuk tangan dengan tertawa lebar membuat Rania sedikit bergidik ngeri mendengar tawa yang terdengar menggelegar itu.


"Maaf, aku lupa. Bukankah Alvino juga ikut balapan?" Rania mengedarkan pandangannya, dia merasa heran karena suasana tempat balapan itu begitu sepi.


"Tentu saja, tetapi dia belum datang. Aku yakin kalau Alvino tidak akan berani datang karena dia takut aku bisa mengalahkannya." Jack bicara dengan begitu sombong, dia berjalan mendekati Rania sedangkan memundurkan langkahnya perlahan.

__ADS_1


"Jangan takut, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu. Hahaha." Rania meringsut takut saat kembali mendengar tawa dari mulut Jack, sedangkan tiga anak buah Jack hanya menyeringai tipis.


Papa, Kak Ana. Rania sangat takut.


Jari jemari Rania saling bertautan bahkan telah basah karena keringat yang terus saja keluar. Rania berusaha menghindar tetapi Jack berhasil menahan lengannya.


"Kalau memang kita mau balapan, ayo kita balapan sekarang juga, tapi jangan pernah sedikitpun kamu berani menyentuhku!" Rania melepaskan tangan Jack dengan kasar.


"Memang kenapa? Apa kamu tidak ingin menggapai Nirwana bersamaku?"


"Dasar bajin*an!!" umpat Rania tanpa sadar hingga membuat tangan Jack mengepal dengan erat. Rania kembali meringsut takut saat melihat kilatan amarah dari kedua bola mata Jack bahkan rahang Jack telah mengeras.


"Berani sekali kamu mengumpatiku! Kamu pikir kamu itu siapa?! Ana sudah menyuruhku untuk melukaimu agar kamu merasakan apa yang dia rasakan!" Rania mendongak, menatap ke arah Jack untuk mencari kebenaran dari ucapan Jack.


"A-ana?" tanya Rania terbata. Dalam hatinya dia berharap kalau yang disebut Jack bukanlah Ana-kakak kembarnya.


"Ya! Riana Sanjaya, kakak kembarmu!" Jawaban tegas dari bibir Jack seketika mematahkan harapan Rania begitu saja. Jack tidak menyadari keberadaan Alvino, Nathan dan Kenan yang sudah berdiri di belakangnya.


"Kamu berbohong!" teriak Riana dengan berusaha menahan airmatanya.

__ADS_1


"Mana mungkin aku berbohong, asal kamu tahu kalau Ana sangat iri padamu karena semua orang memperhatikanmu daripada dirinya. Alvino, Kenan, Febian bahkan Tuan Sandi. Mereka hanya memperhatikanmu hingga Ana menyuruhku untuk membalas segala rasa sakit hatinya." Jack bicara dengan santai. Sementara mereka yang mendengarkan hanya terdiam tidak percaya.


"Kak Ana tidak mungkin setega itu padaku." Rania menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan Jack.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu tanyakan sendiri pada Ana. Dia mengatakan kalau kamu itu tidak lebih dari seorang ja*ang yang selalu mencari perhatian dari lelaki manapun." Hati Rania mencelos sakit mendengar ucapan Jack. Benarkah semua yang Jack katakan kalau Ana ingin mencelakai ku? Batin Rania.


"Karena Ana sudah menyerahkanmu padaku, jadi biarkan sekarang aku menikmati tubuhmu!" Jack mengelap bibirnya dengan lidahnya membuat tubuh Rania gemetar ketakutan. Kejadian ini mengingatkan dia pada balapan bulan lalu saat dia akan menjadi korban pemerkosaan.


"Aku mohon lepaskan aku," pinta Rania memohon. Namun, Jack tidak peduli pada airmata Rania, dia berjalan mendekati Rania dan menangkup kedua pipi Rania.


"Maafkan aku sudah melukaimu, sekarang biarkan aku menyembuhkannya." Rania memejamkan kedua matanya dengan airmata yang sudah mengalir membasahi wajahnya. Dia kini hanya bisa pasrah, mau melawan seperti apapun, dia pasti akan tetap kalah tenaga dengan Jack.


"Kamu benar-benar cantik," puji Jack, dia memajukan wajahnya hendak mencium bibir Rania yang terlihat begitu menggoda. Namun, baru saja bibir mereka hampir bersentuhan, tubuh Jack terpelanting dan terjatuh di atas aspal dengan sudut bibir yang juga mengeluarkan darah.


Jempol jangan lupa tekan like, komentar, hadiah atau vote juga boleh.


Mau kasih tips bisa banget.


Masih ada satu part lagi setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2