
Ceklek!
Pintu kamar Febian sedikit terbuka, Davin bisa melihat wajah anak bungsunya yang terlihat sangat berantakan, tanpa menunggu di persilakan Davin segera masuk ke dalam kamar Febian. Pandangan mata Davin menyapu seluruh penjuru kamar itu, dia menarik senyumnya saat melihat foto ketiga buah hatinya yang masih kecil terpajang dengan indah di atas nakas.
Tangan Davin mengambil bingkai foto itu, dia semakin tersenyum lebar saat melihat foto mereka bertiga yang sedang tersenyum dengan tangan saling merangkul.
"Daddy tidak menyangka kalau kalian bertiga sudah sebesar sekarang padahal rasanya Daddy baru kemarin menimang-nimang kalian." Davin mendudukkan tubuhnya di atas kasur milik Febian, manik matanya menatap lekat ke arah foto itu.
"Kamu tahu Bi, mau seburuk apapun seorang anak dia akan selalu terlihat baik di mata kedua orang tuanya. Tidak ada orang tua yang rela jika melihat anaknya terluka. Duduklah di sini, Daddy ingin sekali duduk di sampingmu." Febian menurut, dia berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan mendudukkan tubuhnya di samping Davin.
"Daddy sangat bangga punya anak lelaki sepertimu." Davin merangkul pundak Febian dan menepukkan tangannya dengan perlahan di pundak itu.
"Bagi Daddy, kalian bertiga adalah anak kebanggaan Daddy, baik kak Al, Nadira ataupun kamu. Daddy dan Mommy bahagia punya anak sehebat kalian." Febian terdiam mendengar ucapan Davin.
__ADS_1
"Maafkan Bi, Dad." Suara Febian terdengar begitu lirih.
"Maaf? Untuk apa?" tanya Davin pura-pura tidak paham, dia bisa melihat raut wajah Febian yang terlihat sangat sedih.
"Bi sudah menyakiti hati Daddy dan mommy."
"Tidak, justru Daddy yang mau minta maaf sama kamu karena Daddy belum bisa membagi rata kasih sayang Daddy untuk kalian bertiga." Davin menghela napasnya panjang. Dia melepas rangkulan tangannya di pundak Febian dan kembali mengusap foto yang berada di tangannya.
"Kamu tahu Bi, tidak semua orang tua selalu mengatakan apa yang mereka rencanakan untuk kebaikan anak-anaknya. Yes, Daddy salah dan semuanya salah Daddy yang sudah memaksa kak Al untuk menggantikan Daddy menjadi pemimpin perusahaan Alexander Group padahal kak Al sudah menolak dan dia ingin kamu yang mengelolanya." Davin menjeda ucapannya, sedangkan Febian hanya terdiam merasakan hatinya yang sedang gelisah saat ini.
Kedua bola mata Febian terlihat berkaca-kaca, jauh di dalam hatinya dia membenarkan apa yang di ucapkan oleh Davin. Kakak sulungnya itu sedari dulu memang selalu mengalah terutama untuk dirinya dan Nadira.
"Ketiga anak Daddy tidak ada yang tidak hebat, kalian bertiga sangat membanggakan untuk Daddy dan Mommy. Jadi, jangan pernah kamu mengatakan kalau Daddy dan mommy hanya sayang kak Al saja, karena itu sungguh melukai hati kita berdua. Daddy merasa telah gagal menjadi seorang ayah," ucap Davin dengan suara yang terdengar begitu berat, Febian menoleh ke arah Davin. Setelah melihat raut wajah Davin yang begitu terluka, rasa sesal datang menyergapi hatinya.
__ADS_1
"Maafkan Bi, Dad." Febian memeluk erat tubuh Davin sedangkan kedua tangan Davin membalas pelukan putra bungsunya. Bahkan, Davin bisa mendengar isak tangis dari Febian.
"Sudah tenanglah. Daddy sudah memaafkanmu. Apakah kamu juga mau meminta maaf pada kak Al?" Febian menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah kalau begitu Daddy mau ke kamar dulu. Istirahatlah!" Davin melerai pelukannya dan menepuk pundak Febian dengan lembut sebelum dia keluar dari kamar itu.
Setelah kepergian Davin, Febian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangan kanannya meraih foto yang terpajang di atas nakas. Kedua manik matanya menatap lekat ke arah foto itu
"Maafkan aku, kak. Aku sudah sangat menyakitimu padahal sedari dulu kamu selalu mengalah dan membelaku," gumam Febian sambil mengusap gambar Alvino di foto itu. Febian segera mengambil ponselnya untuk menghubungi nomor Erlando, saudara sepupunya.
...🍫🍫🍫🍫🍫🍫...
Jempol jangan lupa kondisikan 😂😂
__ADS_1
satu like dan komentar Anda sangat berharga untuk author apalagi hadiah dan vote.
yukk jangan pelit-pelit nanti author juga gak akan pelit buat up 😂😂😂