
Sudah lebih dari lima menit suasana di antara Alvino dan Rania begitu hening. Baik Alvino maupun Rania tidak ada satu pun yang berniat membuka suara mereka, hanya saja tangan Alvino masih memegang lengan Rania dengan erat tanpa berniat melepaskan sedikitpun. Alvino menatap Rania yang masih bergeming dalam posisinya.
"Bisakah Anda melepaskan tangan Anda, Tuan? Saya harus pergi," kata Rania memecah keheningan yang tercipta di antara mereka.
"Aku tidak akan pernah melepaskan tanganku sebelum kamu menjawab pertanyaanku," sahut Alvino tegas.
"Tidak ada yang perlu di jawab, Tuan. Kita tidak memiliki hubungan apa-apa, jadi saya mohon lepaskan tangan Anda dari lengan saya sebelum ada yang salah sangka kepada kita." Rania berusaha menyingkirkan tangan Alvino, tetapi Alvino justru semakin mempererat tangannya di lengan Rania.
"Ran, aku hanya ingin kamu ...."
"Lepaskan tangan Anda, Tuan!" pekik Rania. Alvino yang tidak tega segera melepaskan tangannya. Setelah tangan itu terlepas, Rania melangkahkan kakinya dengan cepat hendak meninggalkan Alvino. Namun, Rania menghentikan langkah kaki yang baru tiga langkah dan berdiam di tempatnya saat mendengar ucapan Alvino.
"Apa susahnya kamu mengatakan yang sejujurnya kalau kamu adalah gadis kecil yang menolongku, Rania." Tubuh Rania menegang seketika, bahkan mulutnya langsung membisu begitu saja.
__ADS_1
"Ma-maaf, Tuan. Anda salah orang, saya bukanlah gadis kecil yang dulu menolong Anda," bantah Rania, dia hendak melangkahkan kakinya lagi, tetapi Alvino dengan cepat memeluk tubuh Rania dari belakang. Tubuh Rania kembali menegang, dia tidak menyangka jika Alvino akan memeluknya seperti ini.
"Aku mohon, katakanlah dengan sejujurnya. Walaupun aku sudah tahu, tetapi aku ingin mendengarnya langsung dari mulut kamu sendiri." Suara Alvino berhasil mengembalikan kesadaran Rania, dia meronta dan berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Alvino.
"Lepaskan saya, Tuan. Saya tidak ingin orang lain salah sangka kepada kita," pinta Rania, dia benar-benar memohon tetapi Alvino sama sekali tidak menggubris permintaan Rania.
"Katakan sejujurnya maka aku akan melepaskan pelukan ini," ucap Alvino tegas. Dia menaruh dagunya di ceruk leher Rania, membuat jantung Rania berdetak berkali-kali lipat lebih cepat. Rania menghela napasnya dengan dalam dan menghembuskan dengan perlahan.
"Ya, saya adalah gadis kecil yang menolong Anda dulu. Jadi, saya mohon lepaskan saya sekarang," sahut Rania lirih, Alvino melerai pelukannya dari tubuh Rania. Dia membalik tubuh Rania agar menghadap ke arahnya ketika dia mendengar isak tangis lirih keluar dari bibir Rania, sedangkan Rania berusaha mengalihkan pandanganya ke samping untuk menghindari tatapan mata Alvino. Namun, jantung Rania semakin berdebar kencang saat tatapan mata mereka berdua bertemu, bahkan tangan Alvino menangkup kedua pipi Rania dan mengusapkan ibu jarinya dengan lembut di sana, membuat tubuh Rania menegang saat merasakan usapan tangan itu. Alvino menatap lekat kedua manik mata Rania yang mampu membuatnya terhanyut, sekarang dia sangat yakin kalau Rania adalah gadis kecil yang menolongnya dulu, karena tatapan mata Rania sama persis dengan tatapan mata yang setiap hari selalu mengganggu pikirannya selama sepuluh tahun ini.
"Apa kalung itu dari Febian?" tanya Alvino penasaran. Tangan Rania memegang bandul kalung yang menghiasi leher jenjangnya.
"Ya, kata Febian kalung ini adalah tanda persahabatan kita," jawab Rania, suaranya masih terdengar parau karena sehabis menangis tadi.
__ADS_1
"Apa kamu tidak memiliki perasaan dengan Febian sama sekali selain perasaan sebagai sahabat?" tanya Alvino lagi, Rania menggeleng perlahan sebagai jawabannya.
"Bolehkah aku mengatakan yang sejujurnya kalau sebenarnya Febian sudah menyukaimu sejak kecil." Rania menatap mata Alvino dengan lekat, dia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh pria di depannya ini, sedangkan Alvino segera mengalihkan pandangannya ke samping karena dia takut akan kembali terhanyut ke dalam tatapan mata yang selalu menghantui hari-harinya.
"Jangan bercanda, Tuan!" sanggah Rania dengan suara agak meninggi.
"Aku tidak pernah berbohong dengan ucapanku. Kamu harus meyakinkan hatimu siapa yang akan kamu pilih, Febian atau Kenan, karena mereka berdua sama-sama mencintaimu. Kamu harus tegas dengan perasaanmu, jangan sampai kamu menyakiti hati adik dan sahabatku sekaligus," ucap Alvino tegas.Dia segera berjalan meninggalkan Rania tanpa bicara lagi, sedangkan Rania hanya bisa menatap punggung Alvino yang perlahan menjauh darinya.
"Jangan paksa aku untuk memilih di antara mereka karena aku tidak bisa memilih siapapun di antara mereka berdua. Andai kamu tahu kalau sebenarnya hatiku sudah memilihmu sejak dulu dan di dalam hatiku hanya ada namamu yang memenuhi selurung relung jiwaku hingga tidak ada lagi tempat untuk hati yang lain, Al. Aku sudah mengagumimu sejak kecil, meskipun kamu tidak pernah tahu siapa aku, tetapi aku selalu diam-diam mengagumimu dan menyimpan namamu di hatiku," gumam Rania. Airmatanya kini mengalir deras membasahi pipi. Kenapa takdir cintanya menjadi serumit ini? Dia tidak mungkin memilih hati yang lain sedangkan hatinya sudah dipenuhi oleh satu nama. Rania mendudukkan tubuhnya di kursi taman dan kembali menangis di sana.
Rania tidak mengetahui jika tidak jauh dari tempatnya duduk, ada seseorang yang melihat dan mendengar percakapan mereka berdua tadi. Orang itu mengusap airmata yang juga mengalir membasahi pipinya, sebelum keberadaannya ketahuan, dia segera pergi dari tempatnya bersembunyi.
Sementara itu, Alvino menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca yang berada di atas wastafel. Alvino memegang pinggiran wastafel, dia memejamkan kedua bola matanya, berusaha menghilangkan rasa sakit yang seolah datang menghantam relung hatinya.
__ADS_1
"Aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh menyakiti hati Febian ataupun Kenan. Sudah cukup salah satu di antara mereka yang harus terluka. Maafkan aku, Ran. Aku hanyalah seorang pecundang yang sudah mengalah bahkan sebelum berperang. Biarkan aku yang terluka, aku tidak ingin melukai adik ataupun sahabatku." Alvino mengacak-acak rambutnya dengan kasar, tetapi setelah itu dia membasuh wajahnya. Setelah Alvino merasa wajahnya sudah kembali terlihat segar, Alvino segera kembali bergabung ke tempat acara tadi, dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.