Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
34


__ADS_3

FLASHBACK


Di sebuah Sekolah Dasar ternama, ada empat orang gadis cantik yang bersatu dalam sebuah geng bernama 'Four Angels'. Mereka berempat merupakan siswi terpopuler, selain karena kecerdasan mereka ,tetapi juga karena latar belakang mereka yang merupakan anak-anak dari orang terpandang di negeri ini.


"Cha! Aku punya kabar menyenangkan." Wajah Nadira nampak begitu semringah, Cacha teman sebangkunya menatap ke arah sahabatnya yang sedang membawa sebuah majalah di tangannya.


"Lihatlah, wajah kak Al terpajang di sampul majalah ini," ucapnya bangga seraya menunjukkan majalah itu di depan Cacha.


"Ya Tuhan, kak Al ganteng sekali." Cacha merebut majalah itu dan menciumi wajah Alvino yang sedang tersenyum manis di sampul depan majalah.


"Kalian sedang apa?" tanya Rania yang baru saja datang bersama Ana, saudara kembarnya.


"Lihatlah, kakak Nadira terlihat tampan sekali di majalah ini." Rania dan Ana saling berebut untuk melihat gambar wajah Alvino, mereka berdua juga ikut terpesona melihat wajah Alvino yang terlihat sangat tampan.


Rania menatap lekat ke dalam gambar itu, disaat dirinya menatap lekat mata di gambar wajah Alvino dan entah mengapa dia merasa dirinya seolah di tarik masuk ke dalam pesona Alvino.


Aku hanya melihat foto ini tapi kenapa jantungku berdebar-debar. Batin Rania kecil.


"Nad, bolehkah majalah ini untukku? Aku sepertinya mengagumi kakakmu yang hebat ini," pinta Rania ragu.


"Ran, ini hanya sebuah majalah dan kita bisa meminta papa untuk membelikannya," kata Ana tidak suka.

__ADS_1


"Sudahlah An, biarkan saja adikmu membawa majalah itu, aku masih punya banyak di rumah." Nadira menepuk pundak Ana dengan pelan, sedangkan wajah Rania sudah terlihat berbinar saking bahagianya.


Dia segera memasukkan majalah itu ke dalam tas sekolahnya. Mereka pun memulai pelajaran sekolah karena guru pengajar sudah masuk ke dalam kelas.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sepulang sekolah, Tuan Sandi sengaja menjemput kedua putri kembarnya. Sopir Tuan Sandi menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah karena Rania dan Ana sudah menunggunya di sana. Melihat kedatangan sang papa, mereka berdua berlari dengan senang hati mendekati mobil papanya.


"Hallo princess nya papa," sapa Tuan Sandi saat keluar dari mobilnya. Dia menyambut kedua putrinya yang sedang berlari seraya merentangkan kedua tangannya.


"Papa," panggil mereka bersamaan. Tuan Sandi memeluk dan mencium mereka berdua bergantian. Setelah itu, mereka masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang ke rumah.


"Bagaimana sekolah kalian?" tanya Tuan Sandi saat mobil yang mereka tumpangi sudah melaju membelah jalanan.


"Wah, Papa senang sekali, kamu benar-benar membanggakan." Tuan Sandi mendaratkan ciumannya di pipi Rania, sedangkan Ana yang melihatnya hanya mencebikkan bibirnya.


"Kalau kamu bagaimana, An?" tanya Tuan Sandi beralih menatap Ana setelah menyadari Ana yang telihat marah.


"Tidak ada yang bagus, Pa. Aku tidak sehebat dan sepintar Rania," jawab Ana sambil menatap ke luar jendela mobil.


"Kakak juga membanggakan dan Rania sangat bangga memiliki kakak sehebat Kak Ana," puji Rania, tetapi Ana hanya menunjukkan senyum tipisnya saja.

__ADS_1


Setelah sepuluh menit perjalanan, mobil itu memasuki pelataran kediaman Tuan Sandi, begitu pak sopir sudah menginjak pedal rem, Rania segera berpamitan untuk segera ke kamar. Tuan Sandi dan Ana hanya menatap langkah Rania yang setengah berlari dengan wajah bahagia.


"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan adikmu? Dia terlihat bahagia sekali." Tuan Sandi mengalihkan pandangannya ke arah Ana untuk meminta jawaban.


"Ana tidak tahu," jawab Aluna ketus sambil berjalan meninggalkan papanya, sedangkan Tuan Sandi hanya melihat punggung Ana yang menjauh dengan cepat.


Sesampainya di kamar, Rania segera meletakkan majalah itu di atas kasurnya. Dia menatap wajah tampan Alvino yang sedang tersenyum, hingga tanpa sadar Rania ikut menarik senyum simpulnya.


"Kamu tampan sekali, aku benar-benar mengagumimu," gumam Rania sambil mengusap gambar Alvino di majalah itu. Setelah puas menatap majalah itu, Rania meletakkannya di laci meja rias yang berada di kamarnya.


🍫🍫🍫🍫🍫🍫


Pendek banget thor, kecelakaannya mana?


jangan kelamaan!


sabarr, habis ini satu flashback lagi alias inti kecelakaannya ya.


Up nanti sore, sekarang mau ngopi dulu ☕☕


Eh mau kenalan lebih dekat dengan Author, bisa yuk ramein GC author 🙊🙊

__ADS_1


Author tunggu dukungan dari kalian biar Author makin semangat nulis.


Salam sayang dari author recehan.


__ADS_2