Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
62


__ADS_3

Hari pernikahan, Alvino terlihat sangat gugup karena sebentar lagi prosesi acara ijab kabul akan segera dimulai. Tangan Alvino berkali-kali mengusap keringat di pelipisnya, karena dia merasa cemas seandainya tidak bisa mengucapkan ijab kabul dengan baik. Nathan dan Kenan yang duduk di sampingnya hanya berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Tenang, Al. Tarik napas, buang. Tarik napas buang." Kenan terkekeh melihat Alvino yang mengikuti ucapan Nathan. "Tarik napas, tahan." Nathan berusaha menahan tawanya melihat Alvino yang terdiam sambil menahan napasnya.


"Hah!" Alvino menghembuskan napasnya secara kasar. Tangannya refleks menonyor kepala sahabatnya yang sangat menyebalkan.


"Kamu ingin membuatku mati?" tanya Alvino penuh penekanan.


"Tidak! Aku 'kan tidak menyuruhmu untuk mengikutimu ucapanku, tapi kamu sendiri yang mengikuti ucapanku," sanggah Nathan, mata Alvino langsung menatap tajam ke arah Nathan dengan tangan yang sudah mengepal erat.


"Mempelai pria sudah siap?" tanya Pak Penghulu yang duduk di depan Alvino, menghentikan perdebatan antara dua manusia yang tidak pernah akur itu.


"Ehem! Ehem!" Alvino berdeham untuk menghilangkan rasa gugup yang datang lagi. "Sudah, Pak." Suara Alvino terdengar begitu mantap.

__ADS_1


Tuan Sandi yang duduk di samping Pak Penghulu, segera menjabat tangan Alvino yang sebentar lagi akan resmi menjadi anak menantunya.


"Tuan Muda Alvino Putra Alexander, apa kamu sudah siap untuk mengucapkan ijab kabul yang begitu sakral ini?" tanya Tuan Sandi memastikan. Alvino hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan kepala.


"Sebelum acara ijab kabul berlangsung, bolehkah saya mengucapkan sepatah dua patah kata untuk kamu?" Alvino kembali mengangguk, Tuan Sandi tersenyum simpul saat merasakan telapak tangan Alvino yang sudah basah.


"Tidak usah gugup, kita santai saja. Tuan Muda Alvino yang terhormat, saya berterima kasih karena kamu sudah bersedia meminang putri saya, yang sangat saya cintai. Saya tidak akan berbicara terlalu banyak. Tuan, atau saya panggil Nak Al saja biar lebih enak di dengar ya," ucap Tuan Sandi sedikit bercanda. Semua pun tersenyum lebar mendengar ucapan Tuan Sandi.


"Nak Alvino, setelah acara ijab kabul ini selesai, semua tanggung jawab atas diri Rania, putri bungsu saya akan menjadi milikmu. Aku sudah tidak berhak lagi sedikit pun atas diri Rania, tetapi dia tetap akan menjadi putri bungsu kebanggaaan saya." Tuan Sandi terdiam sesaat menjeda ucapannya.


"Saya berjanji, Pak." Suara Alvino terdengar begitu meyakinkan.


"Nak, Rania hanya mendapat kasih sayang dari saya dan tanpa sosok seorang ibu. Bisakah kamu berjanji untuk tidak menyakitinya? Jika dia salah, ingatkanlah dengan cara lembut. Jika kamu sudah bosan ataupun tidak mencintainya lagi. Saya mohon, jangan pernah sakiti atau buat dia menangis, cukup kamu kembalikan dia pada saya dan saya akan menerimanya kembali dengan senang hati." Suara Tuan Sandi terdengar bergetar, terlihat sekali dia sedang berusaha menahan tangisnya saat ini. Mau selama apapun dia mengulurnya, tetapi waktu ini pasti akan tiba. Waktu yang begitu berat untuknya saat harus melepas kedua putrinya menjalani kehidupan mereka yang baru.

__ADS_1


"Saya berjanji akan mencintai dan menyayangi Rania dengan sepenuh hati, Pa. Namun, saya tidak bisa berjanji untuk tidak membuatnya menangis, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin agar saya tidak sedikit pun membuat hati Rania terluka." Tuan Sandi tersenyum mendengar ucapan Alvino yang begitu meyakinkan.


"Baiklah, mari acara ijab kabul ini kita mulai." Suasana di tempat acara sakral itu mendadak hening, Alvino menghirup napasnya panjang dan menghembuskan secara perlahan untuk mengurangi rasa gugup yang kembali datang padanya.


"Bismillah. Saudara Alvino Putra Alexander, saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan putri kandung saya Rania Sandijaya binti Sandijaya dengan maskawin seperangkat alat sholat, emas seberat seratus gram dan uang sebanyak seratus milyar, dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya, Rania Sandijaya binti Sandijaya untuk diri saya dengan maskawin tersebut, tunai!" Suara Alvino terdengar begitu lantang dan dia mengucapkannya hanya dengan satu tarikan napas.


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah." Semua bernapas lega saat acara ijab kabul itu berjalan dengan lancar, setelah membaca doa. Tiba saatnya sang mempelai wanita masuk ke tempat acara. Semua mata tertuju ke arah seorang gadis cantik bak seorang putri yang sedang berjalan menuruni tangga dengan perlahan. Hampir semua pasang mata begitu terpukau melihat Rania yang terlihat sangat cantik.

__ADS_1


Alvino terdiam melihat kecantikan wajah gadis yang kini telah resmi menyandang gelar sebagai istrinya. Sementara Rania berjalan dengan wajah yang terlihat malu-malu karena dirinya sekarang menjadi pusat perhatian. Rania berjalan mendekati Alvino dengan di gandeng Ana dan Cacha di samping kanan dan kirinya, sedangkan Nadira duduk bersama dengan kedua orang tuanya. Febian yang ikut di acara tersebut pun, hanya bisa diam membisu.


__ADS_2