Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
43


__ADS_3

Mansion Alexander.


"Sayang, apa Al sedang balapan?" tanya Davin saat dia tidak melihat keberadaan anak sulungnya.


"Tadi sore sih dia berpamitan mau balapan," sahut Aluna, dia menyandarkan tubuhnya di bahu Davin, kedua tangan Davin segera mengusap lembut pipi istrinya.


"Mom, Dad." Davin dan Aluna menoleh ke arah Nadira yang sedang berjalan mendekati mereka.


"Kenapa, Nad?" tanya Aluna lembut saat Nadira duduk di antara mereka berdua.


"Kapan kesalahpahaman antara Kak Al dan Bi akan selesai, Nadira sudah rindu sekali dengan candaan mereka berdua." Wajah Nadira terlihat begitu sedih.


"Nad, Mommy yakin pasti mereka akan segera baikan kok, setelah ini biar Mommy jelaskan sama Bi." Tangan Aluna mengusap lembut rambut hitam Nadira yang tergerai.


"Mom, Dad. Apa kalian tahu kalau Kak Al sebenarnya sangat mencintai Rania begitu juga sebaliknya?" Davin dan Aluna mendudukkan tubuh mereka dengan tegak saat mendengar ucapan Nadira. Mereka menatap ke arah Nadira untuk memastikan.


"Kamu serius?" Davin menatap tidak percaya ke arah putri satu-satunya yang sedang menganggukkan kepalanya.


"Tapi Kak Al terpaksa menjauhi Rania karena dia tidak ingin menyakiti hati Bi."

__ADS_1


"Kamu bicara apa Nad?!" Mereka bertiga menoleh ke arah pintu masuk di mana Febian sudah berdiri di sana dengan menatap penuh tanya ke arah Nadira.


"Kamu sudah pulang, Bi?" tanya Nadira gugup.


"Kamu bicara apa Nad?!" Bentak Bi kembali mengulang pertanyaannya.


"Jaga emosi mu Bi! Sebelum Daddy ikut marah padamu." Davin berusaha mengontrol emosinya yang hampir naik karena mendengar bentakan Febian untuk Nadira.


"Jelaskan semuanya padaku, Nad." Suara Febian terdengar memelan, dia menatap Nadira dengan tatapan memohon.


"Bi, bisakah kamu minta maaf pada Kak Al, kamu sudah salah paham pada Kak Al," ucap Nadira lirih. "Kak Al bukannya akan merebut Rania darimu Bi, tapi dia justru rela mengorbankan perasaannya hanya karena dia tidak ingin menyakitimu." Febian terdiam mendengar ucapan kakak perempuannya.


"Elvian Febian Alexander!" Febian terdiam saat mendengar Davin memanggil namanya dengan lengkap dan lantang, itu artinya Davin sedang di penuhi emosi yang memuncak.


"Aku benci kalian!" teriak Febian, dia berlari cepat menuju ke kamarnya, sedangkan Nadira segera mengejar langkah kaki Febian.


"Bi, tunggu!" panggil Nadira berteriak tapi Febian tidak peduli.


Brak!

__ADS_1


Pintu kamar Febian di tutup dengan keras hingga tubuh Nadira terjengkit kaget. Kepalan tangan Nadira mengetuk-ngetuk pintu kamar Febian dengan keras tapi tidak ada satu pun respon dari dalam kamar.


"Bi, bisakah kamu sedikit mendengar penjelasanku. Kamu harus tahu semuanya, Bi." Ketukan tangan Nadira tidak berhenti sama sekali meskipun tidak ada sedikitpun respon dari Febian. "Aku akan menunggumu di sini sampai kamu keluar!" Nadira mendudukkan tubuhnya di depan pintu kamar adiknya, dia menyandarkan tubuh dan kepalanya dengan airmata yang sudah mengalir membasahi pipinya.


"Nad," panggil Davin dan Aluna bersamaan.


"Pergilah Dad, Mom. Aku mau menunggu di sini sampai Bi mau keluar dan mendengarkan penjelasanku. Aku benci cara Daddy dan Mommy yang tidak bisa tegas dan hanya bisa diam membiarkan kesalahpahaman mereka semakin berlarut-larut!" sarkas Nadira sambil mengusap airmatanya yang mengalir. Davin dan Aluna merasa hatinya seperti tercubit mendengar ucapan Nadira.


"Maafkan Daddy dan Mommy, Sayang." Aluna mendekati Nadira, dia memegang lembut pipi Nadira yang sudah penuh dengan airmata. Ibu jari Aluna mengusap perlahan airmata yang keluar dari sudut mata putri kesayangannya.


"Sayang, bisakah kamu bersabar sebentar lagi. Mommy dan Daddy tidak tahu kalau ternyata mereka saling mencintai, yang Mommy tahu hanya kak Al yang mencintai Rania." Kepala Nadira menggeleng perlahan.


"Rania juga sudah mencintai kak Al sejak kecil, Mom." Febian yang bersandar di balik pintu tanpa sadar menitikkan airmata saat mendengar ucapan Nadira. Bahkan, tangan Febian meremas rambutnya dengan cukup kuat hingga dia sendiri meringis kesakitan, tapi dia tidak peduli. Karena yang dia lakukan saat ini adalah untuk mengurangi rasa sesak di dalam hatinya.


"Sayang, bisakah kamu membawa Nadira ke kamar? Aku ingin berbicara berdua dengan Bi," suruh Davin, Aluna mengangguk mengiyakan, dia membantu Nadira berdiri dan mengajaknya untuk kembali ke kamarnya. Selepas kepergian mereka berdua, Davin segera mengetuk pintu kamar Febian.


"Bi, bisakah kamu membuka pintu kamarmu? Ada yang mau Daddy bicarakan." Tangan Davin tidak lelah mengetuk pintu kamar itu tetapi Febian sama sekali tidak meresponnya.


"Baiklah, karena kamu tidak mau membuka pintu kamarmu, biarkan Daddy pergi selamanya dari hidup kalian!"

__ADS_1


__ADS_2