Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
27


__ADS_3

Rania melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk berangkat kuliah pagi ini. Senyumnya terbit saat melihat Ana yang juga baru saja keluar dari kamarnya. Rania segera melangkahkan kakinya mendekati Ana, tetapi Ana hanya menatap sekilas ke arahnya setelah itu Ana berjalan menuruni tangga tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Senyum di bibir Rania perlahan memudar, dia menatap kepergian Ana dengan perasaan bingung.


"Ana," panggil Rania sembari melangkahkan kakinya cepat mengejar Ana yang tidak mempedulikan panggilan darinya.


"Sayang, kalian sudah mau berangkat?" tanya Tuan Sandi menghentikan langkah kaki mereka berdua. Pandangan mata Tuan Sandi menatap kedua putrinya bergantian.


"Ana berangkat dulu, Pa. Ana ada urusan yang sangat penting," pamit Ana, dia menyalami tangan papanya dan mencium punggung tangan itu.


"Kamu tidak berangkat bersama Rania?" tanya Tuan Sandi heran, apalagi dia melihat Rania yang hanya berdiam diri pada posisinya.


"Tidak, Pa," jawab Ana singkat. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menuju ke garasi dan pergi dengan motor sportnya. Setelah kepergian Ana, Tuan Sandi menatap lekat ke arah putri bungsunya, dia melihat ada raut sedih dari wajah putrinya itu.


"Sayang, apa kamu sedang ada masalah dengan Ana?" tanya Tuan Sandi penasaran, Rania menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku tidak tahu, Pa. Sejak kemarin perlakuan Kak Ana memang terlihat berbeda dan Rania tidak tahu salah Rania itu apa," sahut Rania lirih. Tuan Sandi berjalan mendekati Rania dan memeluk tubuh putrinya dengan erat.

__ADS_1


"Mungkin Ana sedang ada masalah," ucap Tuan Sandi lembut sembari mengusap puncak kepala Rania.


"Kamu mau berangkat sama siapa?" tanya Tuan Sandi seraya melerai pelukannya.


"Rania naik bus saja, Pa."


"Tidak, Papa tidak mengizinkan kamu naik bus. Biar Papa antar, kebetulan Papa hari ini ada pertemuan dengan Alvino pemilik Alexander Group." Jantung Rania merasa berdebar-debar saat mendengar papanya menyebut nama Alvino. Kedua alis Tuan Sandi saling menaut saat melihat raut wajah Rania yang terlihat semakin sedih.


"Ya sudah ayo, Pa," ajak Rania sebelum papanya bertanya lebih banyak kepadanya, Tuan Sandi pun berjalan beriringan bersama Rania keluar dari rumah mereka.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa Kenan saat Alvino sudah berdiri di sampingnya.


"Pagi juga, Ken," balas Alvino, dia mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang, sedangkan Kenan duduk di belakang setir kemudi. Dia melajukan mobil itu menuju ke Alexander Group.

__ADS_1


"Apakah pagi ini kita jadi melakukan pertemuan dengan Tuan Sandi, Ken?" tanya Alvino memecah keheningan.


"Jadi, Tuan Muda," sahut Kenan.


"Jangan terlalu formal, Ken. Kita masih berada di luar kantor," suruh Alvino, tetapi Kenan hanya diam tidak menanggapi. "Apa kamu tidak grogi bertemu dengan calon papa mertuamu?" Kenan tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari Alvino.


"Untuk apa aku malu, Al. Aku sudah sering bertemu dengan Tuan Sandi," sahut Kenan. Keheningan di dalam mobil kembali terjadi saat mereka berdua sama-sama enggan mengeluarkan suaranya. Hampir dua puluh menit mobil itu melaju, kini mereka memasuki area perusahaan Alexander. Alvino segera turun saat Kenan sudah menghentikan mobilnya di depan perusahaan. Dia berjalan dengan gagah menuju ruangannya diikuti dengan Kenan yang mengekor di belakangnya, setelah sampai di ruangannya, dia segera mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya sedangkan Kenan juga ikut duduk di kursi kerjanya. Saat mereka sedang fokus pada pekerjaan mereka, terdengar sebuah ketukan pelan dari luar. Seorang karyawan wanita masuk setelah Alvino menyuruhnya.


"Permisi Tuan, ada Tuan Sandi di luar," ucap karyawan itu sopan.


"Suruh masuk saja," perintah Alvino, karyawan itu segera keluar dan menyuruh Tuan Sandi untuk masuk.


"Selamat pagi Tuan Alvino," sapa Tuan Sandi sopan.


"Selamat pagi juga, Tuan Sandi. Mari silakan duduk," balas Alvino sopan. Tuan Sandi mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di depan Alvino. Kenan pun tak lupa menyapa Tuan Sandi dan dia berdiri di samping Alvino. Mereka bertiga dengan serius membahas tentang kerja sama antara perusahaan Alexander dnan Sandijaya.

__ADS_1


__ADS_2