
"Ken, sekarang kamu pulang pakai mobil kantor dulu ya. Aku mau langsung ke Bandara untuk menjemput Anin," suruh Alvino sambil menata berkas-berkas yang masih berserakan di meja kerjanya.
"Tidak apa-apa, Tuan Muda," sahut Kenan sopan. Mereka berdua bangkit dari duduknya dan segera berjalan ke luar ruangan. Kenan mengantar Alvino sampai di depan lobi perusahaan, setelah Alvino masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu keluar dari perusahaan Alexander, Kenan segera menuju garasi kantor untuk memakai salah satu mobil yang memang di sediakan oleh pihak Alexander Group.
Alvino mengendarai mobilnya dengan cukup kencang karena sedari tadi Anin sudah meneror dia dengan panggilan suara hingga dirinya merasa begitu kesal.
Baru saja mobil Alvino akan memasuki area Bandara, dia segera menginjak pedal rem saat melihat kakak sepupunya yang sudah berdiri di depan Bandara dengan memasang wajah marah dan koper yang tergeletak di samping kaki Anin.
"Butuh tumpangan, Nona cantik?" tanya Alvino menggoda sambil membuka kaca pintu mobilnya. Dia melepaskan kacamata hitam yang di pakainya dengan gerakan slow motion membuat ketampanannya semakin terpancar.
"Tidak usah sok keren seperti itu, Al. Kamu sangat menyebalkan!" dengus Anin kesal, dia menyeret kopernya dan memasukkan ke dalam kursi penumpang sedangkan dirinya duduk di kursi depan di sebelah Alvino. Ketika Anin sudah duduk dengan tenang di kursinya, Alvino segera melajukan mobil itu menuju Mansion Bagaskara.
"Kamu sehat Al?" tanya Anin sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil.
"Sehatlah, kalau aku tidak sehat mana mungkin aku bisa menjemputmu sampai sini," sahut Alvino datar.
"Kamu masih saja menyebalkan Al!" cebik Anin kesal. "Al, apakah benar kata papaku kalau kamu sudah menemukan gadis penolongmu itu?" Alvino mengangguk tanda mengiyakan.
__ADS_1
"Selamat ya Al, akhirnya pencarianmu berakhir sudah." Alvino hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Anin, membuat Anin mengerutkan keningnya karena merasa sangat heran.
"Apa kamu tidak bahagia, Al?" Alvino tetap diam tidak menjawab. Anin benar-benar penasaran melihat respon dari sepupunya yang hanya bersikap seolah tidak peduli, padahal sepuluh tahun lamanya Alvino mencari keberadaan gadis penolong itu.
Alvino menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran tanpa meminta pendapat Anin terlebih dahulu, sedangkan Anin mengikuti Alvino yang turun dari mobil tanpa banyak mengeluarkan suaranya, karena cacing di perutnya juga sedari tadi sudah berdemo meminta di beri asupan makanan.
Mereka berdua berjalan bersebelahan masuk ke dalam restoran untuk mencari meja yang masih kosong. Namun, saat Alvino mengedarkan pandangannya menyapu seluruh penjuru restoran, pandangan matanya terhenti dan berpusat pada dua orang berbeda jenis kelamin yang sedang duduk mengobrol di meja paling ujung. Entah mengapa, Alvino merasa curiga dengan dua orang yang terlihat serius itu.
"Anin, bisakah kamu membantuku?" bisik Alvino, dia berdiri membelakangi dua orang yang belum mengetahui keberadaannya. Tanpa menunggu jawaban dari Anin, Alvino sudah membisikkan sesuatu ke telinga Anin yang hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu yakin akan melakukannya? Bukankah dia saudaramu sendiri?"
"Tentu saja, aku ingin membuat dia merasakan apa yang aku rasakan saat ini,"
"Tapi ...."
Anin yang diam-diam merekam percakapan mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya walaupun dia sendiri tidak tahu sebenarnya siapa mereka berdua.
__ADS_1
"Anda mau pesan apa, Nona?" tanya salah seorang pelayan yang datang menghampiri meja Anin.
"Saya mau pesan gurami asam manis dengan satu porsi kecil nasi ya Mbak, tetapi saya mau ke toilet sebentar." Anin bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan mejanya di ikuti pelayan tadi yang hendak kembali ke tempatnya. Kedua mata Anin celingukan untuk mencari keberadaan sepupunya.
"Mbak, pesanan saya di antar ke meja nomer dua belas saja ya," perintah Anin kepada pelayan tadi sembari menunjuk Alvino yang sedang duduk sendiri. Pelayan itu mengangguk paham lalu berlalu pergi menuju ke tempatnya, sedangkan Anin berjalan dengan langkah anggun menuju ke meja yang ditunjuknya tadi.
"Hai pria tampan, bolehkah aku bergabung di sini. Aku butuh teman mengobrol." Alvino mendongak saat mendengar suara Anin yang begitu manja dan dia mencebik kesal setelahnya
"Al, aku penasaran sebenarnya siapa mereka berdua." Anin mendudukkan tubuhnya berhadapan dengan Alvino.
"Kamu tidak perlu tahu, apa kamu merekam sesuatu yang mencurigakan dari mereka?"
"Tentu saja. Kamu dengarkan sendiri." Anin menyerahkan ponselnya kepada sepupunya itu, dengan segera Alvino meraih ponsel itu dan memutar rekaman percakapan kedua orang itu.
Anin menautkan kedua alisnya saat matanya melihat kilatan amarah dari kedua bola mata Alvino, bahkan tangan Alvino sudah mengepal erat dengan rahang yang terlihat mengeras.
Baru kali ini aku melihat sorot mata Al penuh dengan emosi yang membara. Mungkinkah gadis yang mereka bicarakan tadi merupakan gadis yang berharga untuk Al? Anin hanya berani membatin ketika melihat ponselnya diremas dengan kuat saat rekaman itu telah selesai diputar.
__ADS_1