Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
57


__ADS_3

"Kak, kenapa secepat itu? Aku tidak mau! Kak Kenan saja baru akan melamar Kak Ana satu bulan lagi. Aku tidak mau mendahului Kak Ana," tolak Rania, wajah Alvino terlihat sangat kecewa.


"Kalau begitu, biar aku suruh Kenan melamar Ana secepatnya atau kalau perlu aku suruh menikahinya langsung." Davin dan Aluna memutar bola matanya malas mendengar ucapan Alvino.


"Tidak seperti itu juga, Kak. Memang Kak Al tidak takut menyesal menikahiku secepat ini? Kita baru akan kenal lebih dekat dan Kak Al belum tahu bagaimana aku."


"Dengarlah, Ran." Alvino kembali menangkup kedua pipi Rania. "Aku tidak perlu waktu untuk mengenalmu lagi, karena aku tahu kamu gadis baik. Aku sudah sangat yakin memilihmu, atau kita menikah saat ini juga mumpung ada papa kamu dan kedua orang tuaku di sini."


"Kak!"


"Hahaha, anak manis kamu menggemaskan sekali," ucap Alvino sembari mengusap puncak kepala Rania dengan lembut, sedangkan pipi Rania sudah terlihat merona merah.


"Ehem!"


"Apaan sih, Dad!" dengus Alvino saat mendengar Davin berdeham.


"Biarkan saja mereka berdua yang sedang kasmaran, Tuan," ucap Tuan Sandi sengaja menyela Davin yang hendak berbicara karena dia tidak ingin Davin dan Alvino kembali berdebat.


"Tuan Sandi, bagaimana rencana kita selanjutnya?" tanya Davin tanpa mempedulikan dua sejoli yang sedang berbunga-bunga.


"Pa, kita selesaikan masalah Kak Ana dulu," ucap Rania mengingatkan.


"Baiklah, setelah masalah Ana selesai, kita akan bahas rencana pernikahan kalian berdua selanjutnya." Semua mengangguk setuju dengan ucapan Tuan Sandi. Mereka pun saling mengobrol untuk semakin mengenal lebih dekat, Aluna tersenyum tipis saat melihat Alvino yang berkali-kali mencuri pandang dengan Rania.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


Dua hari kemudian, Rania yang sudah pulang dari rumah sakit sejak kemarin, sedang bersiap-siap untuk menemui Ana di kantor polisi bersama papanya. Sementara Alvino berjanji akan menyusul karena dia sudah memiliki jadwal rapat pagi ini.


Selama dalam perjalanan, Rania lebih banyak diam dan hanya menatap keluar jendela. Sesampainya di kantor polisi, mereka berdua segera menemui Ana yang sudah tiga hari ini di tahan.


"Kak Ana, aku merindukan Kakak," ucap Rania sembari memeluk tubuh Ana erat, bahkan kedua mata Rania terlihat berkaca-kaca.


"Kakak juga sangat merindukan kamu. Kamu sudah benar-benar sehat?" tanya Ana seraya melepas pelukannya.


"Sudah, Kak."


"Syukurlah." Ana menarik senyumnya dari kedua sudut bibirnya.


"Kak Al?" Rania mengangguk menanggapi pertanyaan kakaknya, sementara Ana semakin terlihat heran saat melihat Rania yang semakin tersenyum lebar. Dia belum mengetahui perihal hubungan Alvino dan Rania.


"Apa aku sudah terlambat?" Mereka menoleh ke arah pintu dan melihat Alvino yang sedang terengah-engah.


"Katanya Kak Al ada rapat, kenapa cepat sekali?"


"Aku menunda rapatnya nanti sehabis makan siang, karena bagiku urusan ini lebih penting," sahut Alvino dengan senyum simpul di bibirnya.


"Selamat pagi, Tuan Muda Alvino," sapa dua orang polisi yang sedari tadi berdiri mengawasi mereka.

__ADS_1


"Selamat pagi juga. Pak, bisakah kita pakai jalur kekeluargaan?" tanya Alvino tanpa basa-basi. Kedua polisi itu mengangguk, lalu salah satu dari mereka mengeluarkan Jack dari balik jeruji besi.


"Apa kabar Tuan Muda Alvino? Anda akan membebaskanku, 'kan?" tanya Jack sinis seolah tak bersalah.


"Kita lihat saja nanti, Jack!" Alvino bicara dengan penuh penekanan.


Mereka pun duduk dan membahas masalah itu. Setelah pembahasan yang cukup lama, Ana dan Jack akhirnya di bebaskan karena Rania sebagai korban sudah memaafkan dan meminta semua sudah selesai tanpa perlu memakai jalur hukum.


Setelah semua selesai, mereka keluar dari kantor polisi, tetapi baru saja sampai di halaman kantor, Alvino menghentikan langkahnya saat Jack memanggilnya. Dia berbalik dan tersenyum sinis ke arah Jack.


"Terima kasih, Al. Kamu membawaku ke penjara tapi kamu pula yang membebaskanku. Aku sangat salut padamu." Jack bertepuk tangan dan tertawa dengan sangat puas.


"Simpan tawamu yang hanya sementara, Jack!" cibir Alvino.


"Wow! Kejutan apa lagi yang sudah kamu siapkan untukku? Aku sudah tidak sabar, Al." Jack melebarkan tawanya, sedangkan Alvino hanya tersenyum licik.


...🍫🍫🍫🍫...


Hai selamat pagii, ada yang menunggu Alvino?


Ayo jempol jangan lupa, kasih author hadiah dong


sekuntum bunga misalnya, atau secangkir kopi 🙊🙊

__ADS_1


__ADS_2