Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
97


__ADS_3

Baca part ini bisa sambil dengerin lagunya Lyodra-Pesan Terakhir. Siapa tahu ngena di hati, Othor talas nulisnya juga sambil dengerin itu 😂😂


Happy Reading 'Sahabat Othor Talas nan Kalem


***


Nadira menatap Nathan yang sedari tadi memalingkan wajahnya. Hatinya berdebar tak karuan saat ini. Dia melangkah mendekati tempat tidur Nathan. Dirinya tidak peduli meskipun Nathan akan menyuruhnya berhenti. Rasa sakit di kaki Nadira, nyatanya tidak sebanding dengan rasa sakit yang kini dia rasakan karena sikap dingin Nathan padanya.


"Kak Nathan, aku minta maaf," ucap Nadira dengan lirih. Namun, Nathan hanya diam, tak sedikit pun merespon. Airmata Nadira kembali mengalir saat melihat Nathan yang justru memejamkan matanya seolah tak peduli pada kehadirannya. "Kak ...."


"Simpan airmata Anda, Nona." Nathan menyela ucapan Nadira. Dia bicara tanpa berniat membuka matanya. "Bukankah ini yang Anda inginkan? Saya hanya berpura-pura menjadi orang asing seperti yang Anda minta. Lantas, kenapa sekarang Anda menangis? Apa saya melukai hati Anda lagi, Nona?" Nathan menghela napas panjang, berusaha mengontrol perasaanya yang bergejolak.


"Kak, aku menyesal. Aku sudah bodoh karena sudah menyakiti orang sebaik Kakak." Nadira mendudukkan tubuhnya di dekat Nathan. Hening. Nadira hanya menatap Nathan yang sedari tadi menghembuskan napas kasar.


"Semua sudah terjadi, Nona. Saya hanya berusaha menghargai keputusan Anda. Maafkan saya, Nona. Selama ini saya sudah sangat kurang ajar dan berlebihan bersikap di depan Anda," ucap Nathan dengan suara yang terdengar begitu berat.


Nadira berganti posisi, dia duduk bersimpuh di dekat tempat tidur itu dan memegang tangan Nathan dengan erat. Nadira merasakan hatinya semakin sakit saat melihat Nathan yang benar-benar tidak peduli padanya.


"Kak, aku merindukanmu. Aku merindukan canda tawamu. Sekarang aku sadar, hanya kamulah satu-satunya lelaki yang mampu menggetarkan hatiku," kata Nadira lirih. Dia meremas tangan Nathan dengan kuat, menyalurkan rasa sakit yang benar-benar menyayat hatinya.


"Maafkan saya, Nona. Semua yang terjadi di antara kita biarlah menjadi kenangan. Hati saya sudah terlalu sakit meski hanya mengingatnya." Nadira menangis terisak setelah mendengar ucapan Nathan. Ya, sikapnya kepada Nathan kemarin memang benar-benar keterlaluan.

__ADS_1


"Kak, apa Kak Nathan sudah memaafkanku dengan tulus?" tanya Nadira di sela isak tangisnya.


"Tentu saja, Nona."


"Terima kasih sudah memaafkanku, Kak. Aku berdoa semoga Kak Nathan mendapat gadis yang terbaik. Kak, bolehkah aku meminta satu permintaan terakhir sebelum aku pergi?" tanya Nadira ragu. Dia takut Nathan akan menolak permintaannya.


"Permintaan apa?" Nathan merasa sangat penasaran.


"Izinkan aku memeluk Kak Nathan untuk terakhir kali," sahut Nadira masih dengan airmata yang membasahi pipinya. Dia membisu saat merasakan tangan Nathan balas menggenggamnya dengan erat.


Cukup lama suasana di ruangan itu begitu hening. Satu tangan Nadira menghapus airmatanya. Dirinya sudah pasrah sekarang. Dia sadar, Nathan takkan mungkin mau menuruti permintaannya. Namun, Nadira merasa begitu lega, setidaknya kepergiaannya sudah mendapat kata maaf dari Nathan.


"Kalau memang Kak Nathan tidak bisa tak apa, Kak. Terima kasih sudah ...."


Nadira segera bangkit berdiri, dia membantu Nathan duduk dengan sangat hati-hati. Setelah berada dalam posisi duduk, Nathan segera memeluk tubuh Nadira yang hendak menjauh darinya. Tubuh Nadira terasa membeku saat tubuhnya berada dalam pelukan Nathan yang begitu hangat. Jantung Nadira terasa berdebar tak karuan. Dia melingkarkan kedua tangannya memeluk Nathan.


"Berjanjilah untuk terus hidup bahagia, Nona," ucap Nathan. Dia sedang berusaha menahan airmatanya saat ini.


Maafkan aku. Sebenarnya aku sangat berat saat harus melepasmu, tapi jika harus bersamamu saat ini. Jujur, aku tak mampu, hatiku sudah terlalu sakit merasakan luka yang kamu torehkan kemarin. Aku hanya berharap, semoga kelak kamu kan menemukan lelaki yang benar-benar mampu membuatmu bahagia.


Nathan mengeratkan pelukannya di tubuh Nadira. Dia tidak peduli meski luka bekas operasi di punggungnya terasa begitu nyeri. Dia mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Nadira, membuat isakan Nadira semakin terdengar mengeras. Airmata Nathan tanpa sadar ikut mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


Dia juga merasakan hatinya begitu sakit. Namun, dirinya sadar kalau dia dan Nadira takkan mungkin bersama. Nathan melepas pelukannya saat mendengar isakan tangis Nadira sama sekali tidak berhenti. Mereka berdua saling menatap, tatapan yang penuh cinta dan luka. Nathan menghapus airmata Nadira, begitu juga sebaliknya. Nadira menghapus airmata yang membasahi wajah Nathan.


"Berjanjilah untuk terus hidup bahagia," kata Nathan mengulangi kata-katanya. Nadira hanya terdiam, menatap lekat mata Nathan. Hatinya merasa begitu sakit, tapi ini adalah hasil dari kebodohannya kemarin. Dirinya sudah terlalu bodoh sudah menyiakan lelaki sebaik dan setulus Nathan.


"Kak, Kak Nathan juga harus berjanji untuk hidup bahagia. Kelak, saat Kak Nathan sudah menikah dengan Kak Anin, jangan pernah ...." Ucapan Nadira terhenti saat Nathan mencium bibirnya dengan lembut. Nadira memejamkan kedua matanya saat merasakan bibir Nathan menyentuh bibirnya dengan lembut. Nathan pun ikut memejamkan matanya.


Airmata Nadira kembali mengalir deras, saat kedua tangan Nathan memegang tengkuknya dengan ciuman yang belum terlepas sama sekali. Nadira meremas kerah baju yang dipakai Nathan saat merasakan ciuman Nathan yang semakin dalam. Namun, Nadira merasakan ciuman itu bukanlah ciuman cinta, tapi ciuman perpisahan yang penuh luka.


"Pergilah, Nona. Jangan membuat pertahanan yang sudah saya bangun dengan susah payah, menjadi runtuh begitu saja," ucap Nathan saat ciuman itu telah terlepas, Nadira bisa merasakan napas Nathan yang terdengar begitu memburu. Nadira kembali memeluk tubuh Nathan dengan erat untuk yang terakhir kali. Karena mulai nanti, dirinya tidak akan menemui Nathan lagi. Dia benar-benar akan menjauh dari kehidupan Nathan.


"Aku pergi," kata Nadira lirih. Mungkin ini terakhir kalinya kita akan bertemu. Aku berharap, setelah kepergianku, kamu akan mendapat kebahagiaan untuk menyembuhkan luka yang pernah ku cipta. Maafkan aku dan terima kasih pernah mencintaiku dengan tulus.


...🍫🍫🍫🍫...


Menurut kalian bagaimana? Othor paling gak bisa bikin part yang galau merana, yang bikin jantung deg deg serr 🙊


Maaf ada sedikit keterlambatan update, karena ada urusan mendadak.


Jumpa lagi besok pagi, di mana Nadira sudah benar-benar jauh dari Nathan.


Terima kasih atas kesetiaan kalian.

__ADS_1


Lope you full pokoknya 😘


__ADS_2