
"Berani sekali kamu menyakiti Rania!" Bukannya takut, Jack justru menunggingkan senyumnya mendengar bentakan dari Alvino.
"Kamu datang di saat yang tidak tepat, Al." Jack bangkit berdiri dan saling melempar tatapan tajam dengan Alvino. "Padahal aku hampir saja menikmati bibir orang yang sangat kamu cintai," ucap Jack meledek. Kenan dan Rania menatap tak percaya ke arah Alvino setelah mendengar ucapan Jack.
"Dasar baji*an!!" murka Alvino, dia memukul keras perut Jack hingga tubuhnya kembali jatuh terkapar. Jack mengerang keras sembari memegangi perutnya karena Alvino benar-benar memukulnya dengan tenaga ekstra.
Alvino berbalik, tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Rania yang juga sedang menatapnya lekat. Amarah Alvino kembali memuncak saat melihat bekas darah di sudut bibir Rania.
"Maafkan aku tidak bisa menjagamu," lirih Alvino, dia menangkup kedua pipi Rania dan mengusap lembut sudut bibir Rania yang terluka.
"Aku tidak apa-apa, Tuan. Saya mohon lepaskan saya, Tuan." Rania menyingkirkan kedua tangan Alvino dari pipinya.
"Kenapa?" tanya Alvino heran.
"Maaf Tuan, saya takut tidak bisa mengontrol perasaan saya jika Anda terlalu mengkhawatirkan saya seperti ini," ucap Rania getir. "Tuan, kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Bukankah Anda mengatakan kalau Anda hanya ingin mengucapkan terima kasih karena saya sudah menolong Anda sepuluh tahun lalu?" Rania meremas ujung jaketnya saat merasakan rasa sakit yang seakan menghantam hatinya.
"Ran, bisakah kamu mengerti perasaanku kalau aku tidak ingin menyakiti hati adik dan sahabatku?" ucap Alvino lirih.
"Iya Tuan. Saya akan berusaha mengerti perasaan Anda, jadi sekarang saya mohon menjauhlah dari saya." Rania menunduk, menahan airmata yang hendak kembali membasahi pipinya.
"Ran," panggil Alvino lemah, Rania memundurkan tubuhnya saat Alvino hendak memegang lengannya.
"Maaf Tuan, saya mohon jangan terlalu dekat dengan saya karena saya takut salah mengartikan perhatian Anda." Alvino terdiam saat mendengar ucapan Rania, sedangkan yang lainnya hanya menatap ke arah mereka berdua.
"Nat, apakah Rania adalah gadis yang menolong Al dulu?" tanya Kenan belum percaya saat mendengar semuanya.
"Ya, bekas luka di lengan dan kaki Rania adalah bekas kecelakaan dulu saat dia menolong Al," sahut Nathan tanpa mengalihkan padangannya dari Alvino dan Rania.
"Kenapa Rania mengatakan kalau bekas luka itu ada karena Rania menjadi korban penculikan?"
__ADS_1
"Kalau itu hanya keluarga Sandijaya yang tahu jawabannya. Ken, apa kamu mencintai Rania?" tanya Nathan, dia beralih menatap ke arah Kenan yang hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya sama sekali. Mereka kembali mengalihkan pandangan matanya ke arah Alvino dan Rania.
"Bolehkah aku mengatakan sebuah rahasia padamu, Ken?" Kenan menatap penuh tanya ke arah Nathan. "Sebenarnya Al sangat mencintai Rania, bahkan sejak pertama mereka bertemu waktu Rania menolong Al."
"Kamu serius, Nat?" tanya Kenan tak percaya.
"Sebentar Ken." Nathan berjalan mendekati Jack yang sedang berdiri di belakang Alvino. Kedua mata Nathan menajam saat melihat sebuah pisau lipat tergenggam di tangan kanan Jack, dia segera mempercepat langkahnya saat melihat Jack sudah mengarahkan pisau lipat itu ke arah Alvino.
"Al Awas!" teriak Nathan sambil berlari kencang, sedangkan Alvino refleks memeluk tubuh Rania dengan sangat erat.
Dada Rania terasa bergemuruh saat tubuhnya menempel erat di tubuh Alvino tanpa sedikitpun jarak yang membentang di antara mereka. Alvino semakin mempererat pelukannya di tubuh Rania, jantungnya terasa sangat berdebar-debar karena sangat mengkhawatirkan Rania. Ana yang baru saja datang hanya bisa menatap adegan itu dengan perasaan yang susah di jelaskan.
"Sial!" Umpatan Nathan membuat Alvino dan Rania menjadi tersadar, mereka berdua saling melepas pelukannya dan mengalihkan pandangan mata mereka. Alvino menatap ke arah Nathan yang sedang memegangi lengannya yang mengeluarkan darah karena terkena pisau lipat milik Jack.
"Kamu baik-baik saja, Nat?" tanya Alvino khawatir, dia berjalan mendekati Nathan untuk melihat luka itu.
"Tuan Muda, kamu pikir aku baik-baik saja setelah terluka seperti ini, Al?" sahut Nathan dengan wajah kesal. Alvino segera mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan membalutkan sapu tangan itu di luka Nathan untuk menghentikkan darah yang mengalir.
"Tetap berdiri di tempatmu, An!" Ana yang hendak pergi dari tempat itu hanya bisa bergeming di posisinya saat mendengar perintah dari Alvino.
"Kak Ana?" Rania berbalik, dia melihat Ana yang sedang berdiri tidak jauh darinya, saat Rania hendak berjalan mendekati Ana, tangan Alvino memegang lengannya untuk menahan langkah kakinya.
"Max, jangan biarkan mangsamu kabur!" Max segera menahan Jack yang berusaha kabur, dalam keadaan seperti ini mereka semua hanya bisa terdiam karena aura Alvino benar-benar mengintimidasi.
"Bisakah kamu menjelaskan sesuatu padaku An?" tanya Alvino dengan suara yang begitu tegas.
"Je-jelaskan apa, Al?" Ana berpura-pura tidak tahu.
"Jangan berlagak menjadi orang bodoh! Coba kamu ingat tiga hari lalu di Restoran XX jam enam sore meja nomer dua!" Tubuh Ana dan Jack sama-sama menegang, bagaimana bisa Alvino mengetahui dengan detail pertemuan mereka saat itu.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Al?" tanya Rania tidak paham. Alvino menatap ke arah Rania dengan tersenyum tipis padanya.
"Aku sangat senang saat kamu memanggil namaku tanpa embel-embel tuan, Ran." Wajah Rania merona merah saat mendengar Alvino yang berbicara begitu lembut padanya.
"Ehem! Ingat, kalian bukan hanya berdua," sindir Nathan memegangi sapu tangan di lengannya agar tidak terlepas.
"Diamlah, Nat!"
"Aku tidak menyangka kamu senang memanfaatkan orang lain untuk menjatuhkanku, Jack!" Alvino menatap Jack dengan tatapan tajam.
"Al, kamu salah orang." Ana berusaha mengelak, tubuhnya benar-benar telah gemetar saat ini.
"Ken, tahan Ana jangan sampai kabur atau aku akan membunuhmu saat ini juga!" ancam Alvino saat melihat Ana hendak mencoba pergi dari sana lagi. Kenan yang sedari tadi terdiam segera melangkahkan kakinya mendekati Ana dan memegang kedua tangan Ana dengan erat.
"Lepaskan aku! Aku tidak salah!" Ana meronta, berusaha melepaskan tangan Kenan dari tangannya.
"Al, bisakah kamu melepaskan kak Ana, aku tidak mau dia terluka Al," pinta Rania memohon.
"Aku akan melepaskan Ana setelah dia mendengar sesuatu dari ponselku. Nat, kamu masih memegang ponselku?" tanya Alvino seraya menatap Nathan yang mengangguk dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel Alvino.
"Putar rekaman mereka berdua saat di Restoran tiga hari lalu!" perintah Alvino. Tubuh Ana dan Jack kembali menegang dan berkeringat dingin, bahkan Kenan bisa merasakan tubuh Ana yang gemetar ketakutan.
"Aku menemukannya Al." Nathan segera memencet tombol play, mereka semua hanya terdiam mendengarkan rekaman itu.
...🍫🍫🍫🍫...
Udah panjang kan?
Lanjut besok pagi yaa
__ADS_1
Ingat dukungan buat Author yaaa