
Suasana makan malam di mansion Alexander terasa begitu hening, semua terlihat fokus pada makanannya dan tidak ada satu pun yang berniat membuka suaranya. Tiba-tiba Febian yang belum menghabiskan makanannya sudah bangkit berdiri dan hendak pergi dari ruang makan itu.
"Kamu mau pergi kemana, Bi? Bisakah kamu memiliki sopan santun dengan Daddy dan mommy," ucap Davin menghentikan langkah Febian.
"Dad, Mom. Bi mau kembali ke kamar," sahut Febian dengan ketus.
"Daddy tidak mengizinkanmu pergi dari sini, segera habiskan makananmu dan ada yang akan Daddy bicarakan dengan kamu setelah ini,"
"Dad ...." Febian yang hendak protes segera berhenti bicara saat melihat tatapan Davin yang begitu tajam ke arahnya. Dia kembali duduk di meja makan dan menghabiskan makanan yang masih tersisa di piringnya. Nadira menatap sikap Febian yang terlihat begitu aneh, sedangkan Alvino hanya diam dan fokus pada makanannya. Setelah makan malam itu telah selesai, Davin menggiring ketiga anaknya menuju ke ruang keluarga.
"Bi, apa kamu memiliki kesalahpahaman dengan Kak Al?" tanya Davin sembari menatap ke arah Febian.
"Itu bukan kesalahpahaman, Dad. Itu kenyataan, bukankah Daddy sudah melihat sendiri foto itu?"
__ADS_1
"Bi, asal kamu tahu, tidak semua yang kamu lihat seperti apa yang ada di dalam pikiranmu," ucap Alvino dengan pelan. Febian justru tersenyum sinis dan menatap benci ke arah Alvino.
"Kak, kamu tidak perlu mengelak seperti itu. Kalau Kak Al tidak akan merebut Rania, kenapa Kakak memeluk Rania sampai sedekat itu? Kamu tahu Kak, aku benci kamu yang selalu di nomor satukan!"
"Elvian Febian Alexander! Jaga bicaramu sebelum Daddy hilang kesabaran!" bentak Davin yang marah saat mendengar ucapan Febian. Aluna mengusap punggung Davin untuk menenangkannya.
"Dad, aku selama ini diam saat kalian memberikan apapun pada Kak Al. Dia boleh balapan, dia boleh melakukan apapun bahkan dia sudah diberi tanggung jawab penuh atas Alexander Group, sedangkan aku, apa yang aku dapatkan Dad? Apa?!" Febian benar-benar sudah di landa emosi hingga dia tidak sadar berbicara dengan nada tinggi di depan orang tuanya. Kedua bola mata Davin menampilkan kilatan amarah, dia tidak menyangka jika Febian akan seberani itu kepadanya.
"Bi, bukannya kita membedakan kalian, apalagi tentang perusahaan. Hanya saja, untuk saat ini kamu belum mampu Bi, kamu masih harus fokus pada kuliahmu," ucap Aluna berusaha menenangkan Febian dan juga Davin.
"Siapa orang yang dicintai Rania?" tanya Febian penasaran.
"Hanya Rania dan Tuhan yang tahu, karena tidak ada satu pun yang tahu termasuk Ana," sahut Nadira.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan berusaha keras untuk mendapatkan hati Rania," kata Febian mantap. Mereka mengalihkan pandangannya ke arah Alvino yang sudah berdiri dari duduknya.
"Berusahalah lebih keras, Bi. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan apa yang kamu inginkan itu bisa terwujud," kata Alvino, dia berusaha berbicara dengan setenang mungkin agar tidak ada yang curiga kalau dia sedang gelisah saat ini. Setelah mengucapkan itu, Alvino melangkahkan kakinya meninggalkan mereka yang hanya bisa terpaku mendengar ucapan Alvino.
"Bi, Mommy mohon kepadamu. Belajarlah mengontrol emosi, ucapan kamu tadi pasti sangat melukai hati Kak Al," nasihat Aluna, tetapi Febian justru melengos dan mendecakkan lidahnya karena sebal.
"Ya, kalian semua hanya menyayangi Kak Al. Bagi kalian, Kak Al adalah yang paling baik dan aku tidak ada artinya apa-apa di mata kalian!" pekik Febian marah.
"Febian! Kamu benar-benar tidak punya sopan santun!" bentak Davin, kedua tangan Davin sudah mengepal saat mendengar ucapan Febian.
"Aku benci Daddy dan Mommy yang hanya menyayangi Kak Al!" Setelah berkata seperti itu, Febian berjalan cepat menuju ke kamarnya. Davin yang sudah sangat emosi, hendak menyusul Febian ke kamarnya tetapi Aluna segera menahannya.
"Sudahlah Mas, biarkan Febian menenangkan diri dulu. Jangan menyelesaikan masalah disaat kita sedang dalam keadaan emosi," ucap Aluna, dia memeluk tubuh Davin dengan erat, Davin segera membalas pelukan Aluna dan mencium puncak kepala Aluna berkali-kali.
__ADS_1
"Dad, Mom," panggil Nadira lirih. Davin dan Aluna melerai pelukan mereka dan menatap ke arah Nadira yang terlihat sedang berusaha menahan airmatanya.
"Tenanglah, Sayang. Kita berdoa semoga semua baik-baik saja dan kesalahpahaman ini cepat selesai," ucap Aluna yang kini beralih memeluk tubuh Nadira yang hanya mengangguk pelan mendengar ucapan Aluna.