
Cup! Alvino kembali mengecup lembut bibir Rania, menyalurkan segala perasaan cinta dan kasih sayang yang teramat dalam dan tertanam kuat di lubuk hati mereka. Rania pun mulai terbuai dengan sentuhan tangan Alvino yang terasa begitu lembut, hingga tanpa sadar gaun pengantin yang di kenakannya sudah terlepas dari tubuhnya.
Alvino menatap bekas luka jahit yang terlihat jelas di lengan istrinya yang berkulit putih. Ia mengusap bekas luka itu perlahan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Rania dulu saat mendapatkan luka itu karena menolongnya. Alvino yang membayangkannya saja sudah membuat seluruh syaraf tubuhnya terasa begitu ngilu.
"Maafkan aku, sudah membuatmu terluka seperti ini. Aku yakin pasti rasanya sangat sakit." Raut wajah Alvino terlihat penuh rasa sesal.
"Tidak apa, Kak. Aku ikhlas dan kini aku sudah sangat bahagia karena bisa memilikimu." Rania membalas ucapan Alvino dengan senyum simpul di bibirnya. Alvino segera mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Aku mencintaimu," ucap Alvino sambil mengecupi seluruh wajah Rania, membuat wajah Rania terlihat memerah dan itu membuat Alvino menjadi begitu gemas. Mereka pun memulai pemanasan lagi dan menyalurkan hasrat yang sedari tadi sudah menggebu-nggebu.
Akhirnya, malam itu menjadi malam yang panjang untuk pengantin baru yang sedang di mabuk asmara, di mana kamar pengantin itu, dipenuhi ******* dan erangan dari dua insan yang sedang berusaha mencapai puncak kenikmatan bersama.
***
Matahari pagi sudah terlihat menyapa melalui celah-celah tirai kamar yang belum di buka. Pengantin baru yang semalam berhasil mencetak gol itu, masih tertidur lelap di bawah selimut dengan tubuh yang saling berpelukan.
Alvino seketika membuka matanya saat mendengar suara pintu kamarnya yang di ketuk berkali-kali. Namun, saat kedua bola matanya sudah terbuka, bibirnya tersenyum simpul saat melihat Rania yang tertidur di sampingnya masih setia memejamkan kedua matanya. Alvino melepaskan pelukannya secara perlahan agar tidak mengganggu tidur istrinya.
__ADS_1
"Kecantikanmu benar-benar sangat alami," gumam Alvino, ia mencium kening Rania dengan lembut tapi Rania sama sekali tidak merasa terganggu.
"Ran, kamu belum bangun?" Pintu itu kembali di ketuk lebih keras diiringi suara Ana yang memanggil Rania dengan keras. Alvino dengan malas segera beranjak bangun dan memakai pakaian yang sempat tercecer di mana-mana. Dia berjalan menuju ke pintu untuk menghentikan gedoran itu.
"Astaga! Kenapa kamu yang keluar Al?" tanya Ana heran.
"Memang kenapa?" tanya Alvino balik.
"Ya Tuhan, aku lupa kalau kalian sudah menikah," kata Ana sambil menepuk keningnya berkali-kali. "Ya sudah aku berangkat kuliah sendiri saja, lagipula Rania pasti masih kelelahan." Ana pergi begitu saja dari hadapan Alvino tanpa menunggu sahutan. Selepas kepergiaan Ana, Alvino berjalan mendekati tempat tidur dan menatap istrinya yang masih terlelap.
"Apaan sih, An? Aku masih ngantuk dan lelah." Rania menyingkirkan tangan Alvino dari pipinya.
"Apa kamu tidak ingin memberikan ciuman selamat pagi untukku?" Kedua bola mata Rania seketika terbuka lebar saat mendengar suara Alvino, ia terdiam sesaat sambil mengamati wajah Alvino yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Apa aku sudah gila? Kenapa aku melihat wajah Kak Al saat bangun tidur," gumam Rania sambil mengucek kedua matanya.
"Tega sekali kamu melupakan percintaan kita semalam," ucap Alvino berpura-pura marah. "Selamat pagi." Alvino mendaratkan kecupan di bibir Rania yang masih terpaku pada posisinya.
__ADS_1
Tangan Rania membuka selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada, kedua bola matanya membola dengan sempurna saat tidak melihat sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.
"Kak, apa semalam kita ...."
"Tentu saja! Apa kamu mau mengulangi kegiatan kita semalam lagi?" tanya Alvino sambil menunjukkan rentetan gigi putihnya. Rania mencebikkan bibirnya berpura-pura kesal, padahal di dalam hatinya, dia ingin mengulangi percintaan semalam. Ia sangat ingin menggapai Nirwana bersama suaminya lagi.
"Aku tahu isi otakmu, Sayang," ucap Alvino seraya mendaratkan ciuman di seluruh wajah Rania. Wajah Rania sudah terlihat merona merah dan ia tersenyum malu-malu. Saat bibir Alvino sudah menyentuh leher jenjang Rania, percintaan panas itu pun kembali terjadi.
...🍫🍫🍫🍫...
Dukungannya jangan lupa yaa
Author tunggu nih 😂
sekuntum mawar, secangkir kopi atau bahkan vote.
Yukk jangan lupaa
__ADS_1