
Jam sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam. Semua keluarga Alexander sudah berkumpul untuk menunggu siapa yang akan datang untuk melamar Nadira. Namun, jika Dion tidak datang, maka dengan terpaksa dia akan menerima lamaran Nathan.
"Nad, aku boleh masuk?" tanya Rania dari ambang pintu. Nadira yang sedang duduk gelisah, segera menatap ke arah sahabat yang sudah menjadi kakak iparnya.
"Masuk saja, Ran. Kebetulan aku sedang butuh teman curhat." Setelah mendapat izin dari pemilik kamar, Rania masuk ke dalam kamar dan duduk di samping Nadira.
"Kamu terlihat sangat gelisah, Nad. Apa Dion belum bisa kamu hubungi sama sekali?" tanya Rania pelan.
"Tidak. Apa aku harus menerima lamaran Kak Nathan?" Nadira terlihat begitu bimbang.
"Pasrahkan saja semua kepada Tuhan. Siapapun yang datang, aku yakin itu jodoh yang terbaik untukmu," ucap Rania berusaha menenangkan.
"Tapi aku tidak mencintai Kak Nathan. Aku hanya cinta sama Dion," lirih Nadira.
"Kamu hanya belum mencintai Kak Nathan saja. Cinta itu bisa ada karena terbiasa, Nad. Kalau boleh jujur, aku lebih ikhlas kalau kamu sama Kak Nathan."
"Sudahlah, Ran. Aku pusing mendengar namanya terus." Hening. Kamar Nadira menjadi hening karena mereka berdua sama-sama tidak membuka suaranya.
Setelah cukup lama terdiam, Rania akhirnya mengajak Nadira turun ke bawah. Sesampainya di ruang tamu, Nadira terkejut saat melihat keluarganya sudah duduk bersama keluarga Nathan. Bahkan, mereka semua terlihat sangat berbahagia.
__ADS_1
"Cie, yang mau lamaran," goda Febian seraya menaik-turunkan alisnya.
"Kamu sangat menyebalkan, Bi!" cebik Nadira kesal. Dia mendudukkan tubuhnya di samping orang tuanya dan berhadapan langsung dengan Nathan.
"Tuan, maafkan saya menganggu Anda, kedatangan saya ke sini karena ingin melamar Nona Nadira untuk putra saya, Jonathan," kata Jo tanpa basa-basi. Nadira hanya diam, dia melihat jarum jam sudah hampir menunjuk angka setengah sembilan. Namun, Dion benar-benar tidak datang, padahal dia sudah mengirimi pesan padanya lewat pembantu rumah tangganya.
"Aku senang sekali, Jo. Kalau kita berdua akhirnya bisa berbesan, tapi aku juga tidak akan mengambil keputusan begitu saja. Karena nantinya Nadira yang akan menjalani, maka semua jawaban aku serahkan kepada Nadira," sahut Davin, dia menatap ke arah putrinya yang masih terlihat bimbang.
"Bagaimana, Nad? Apa kamu bersedia menerima lamaran Nathan?" tanya Mila penuh harap. Dia sangat berharap kalau Nadira akan menerima lamaran Nathan, karena sejak mereka berdua lahir. Mila sudah berniat menjodohkan mereka. Nadira hanya diam menunduk, dia sangat bingung keputusan apa yang harus diambilnya saat ini.
"Nad," panggil Nathan penuh penekanan. Sorot mata Nathan terlihat memaksanya untuk mengakui kalau dirinya sudah kalah sekarang.
Nathan mengeluarkan sebuah kotak bludru dari dalam saku celananya. Nadira terdiam menatap sepasang cincin tunangan yang terlihat begitu elegan. Nathan berjalan mendekati tempat Nadira, dia memosisikan tubuhnya setengah berjongkok di depan Nadira dan menyodorkan kotak itu di depan Nadira.
"Aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya, Nad. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik dan akan selalu menjagamu." Nathan mengambil satu cincin itu, Nadira bisa melihat ada tulisan NN yang terukir di dalam cincin itu. Mungkinkah Nathan memang sudah menyiapkan semuanya sematang ini? Batin Nadira sedari tadi bertanya-tanya.
Nathan menarik tangan kiri Nadira dan menyematkan cincin itu di jari manis Nadira. Pandangan mata Nadira menatap lekat ke arah cincin yang sudah terpasang cantik di jarinya, sebuah berlian kecil tampak menghiasi cincin itu.
"Bisakah kamu memasangkan cincin ini di jari manisku?" pinta Nathan.
__ADS_1
Nadira memandang kotak itu, lalu mengambil cincin yang hanya tersisa satu di sana. Nadira memasangkan cincin itu di jari manis Nathan dengan perlahan. Setelah cincin itu terpasang, Nathan segera menarik tubuh Nadira masuk ke dalam dekapannya.
"Terima kasih, Nad. Aku berjanji akan mencintaimu sepenuh hatiku," bisik Nathan sembari mengeratkan pelukannya. Tubuh Nadira menegang, jantungnya terasa berdebar-debar. Bahkan, ada perasaan aneh yang datang menghampirinya dan seolah mengalir ke seluruh tubuhnya.
Perasaan apa yang sedang kurasakan saat ini? Kenapa aku selalu merasakannya saat berdekatan dengan Kak Nathan. Aku tidak pernah merasa seperti ini saat dekat dengan Dion.
Nathan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nadira yang sudah terlihat merah merona. Andai saja keluarga mereka sedang tidak berkumpul, maka dia akan menghujami wajah Nadira dengan banyak ciuman.
"Maaf, Nad. Aku terlambat." Semua menoleh ke arah pintu dan mereka terkejut saat melihat Dion yang sudah berdiri di ambang pintu dengan napas yang terengah-engah. Tidak ada satupun yang membuka suaranya, mereka hanya bergeming di posisinya. Nadira merasakan tubuhnya terasa kaku, apalagi saat melihat Dion yang sedang berusaha mengatur napasnya. Tanpa mereka sadari, kedua tangan Nathan sudah mengepal erat.
...π«π«π«π«...
Nah kok Dion datang? Terus gimana ini?
Eh author cuti lagi 3 hari, kalian bakal kangen enggak? ππ
Ngarep benerππ
Nggak deng, up lagi besok pagi
__ADS_1
Insya Allah kalau enggak kesiangan π