
Kediaman Johan Saputra.
Jo duduk di ruang tamu untuk menyambut putranya yang baru saja pulang kerja. Dia menatap wajah Nathan yang terlihat begitu lelah. "Ayah kenapa duduk di sini?" tanya Nathan sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa di depan sang ayah.
"Ayah sengaja menunggumu, ada yang perlu kita bicarakan," sahut Jo. Nathan menghela napas panjang dan menghembuskan secara perlahan.
"Apa Ayah akan membahas tentang Nadira?" tebak Nathan dengan lesu.
"Nat, kamu tidak ingin menolong Nadira?" Jo menatap lekat wajah putranya. Dia bisa melihat gurat kesedihan terlihat jelas di wajah Nathan. Jo tahu, Nathan pasti masih sangat terluka dengan ucapan Nadira waktu itu.
"Nathan pasti akan menolong Nadira, Yah. Nathan akan membantu Ayah." Suara Nathan terdengar begitu berat.
"Temuilah Dion, dan tanyakan kenapa dia melanggar janjinya padamu. Setelah itu, Ayah akan mengajaknya bermain-main," kata Jo dengan senyum licik di sudut bibirnya.
"Baik, Yah. Sekarang Nathan mau istirahat, tubuh Nathan sudah sangat lelah," pamit Nathan sembari bangkit berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Nat, bagaimana persiapan pertunangannya?" tanya Jo sebelum Nathan pergi dari ruang itu.
"Biasa saja, Yah. Aku masih terus mempersiapkannya. Kita bahas besok lagi, Yah." Nathan berjalan ke kamarnya meninggalkan sang ayah yang masih duduk di tenang di atas sofa. Selepas kepergian Nathan, Jo mengambil ponsel di dalam saku celana dan menghubungi Mike.
"Hallo, Mike. Persiapkan semuanya dengan matang. Dua hari lagi kita akan bertindak." Setelah mendapat jawaban dari seberang, Jo segera mematikan panggilan itu.
"Aku harap, tidak ada satu pun yang terluka, " gumam Jo sambil mengusap wajahnya kasar.
***
Nadira merebahkan tubuhnya telentang di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamarnya. Hembusan napas kasar terdengar memecah keheningan di kamar itu. Di saat Nadira memejamkan matanya, tanpa sadar airmatanya mengalir begitu saja dari kedua sudut matanya.
"Nad, kamu sudah tidur?" Nadira mengusap airmatanya dengan cepat saat mendengar pintu kamarnya terbuka dan Aluna berjalan masuk mendekati tempat tidur.
"Mommy belum tidur?" tanya Nadira. Dia melihat jam di dinding sudah hampir menunjuk angka sepuluh.
__ADS_1
"Harusnya Mommy yang tanya sama kamu. Kenapa sudah malam seperti ini kamu belum tidur?" tanya Aluna balik.
"Nadira belum mengantuk Mom." Nadira merebahkan kepalanya di atas paha Aluna yang sudah duduk di atas kasur.
"Kenapa? Apa kamu gugup karena sebentar lagi akan dilamar Dion?" Aluna mengusap lembut rambut hitam milik Nadira.
"Tidak, Mom. Menurut Mommy, apa Dion baik untukku?" tanya Nadira dengan suara lirih.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu ragu dengan Dion?" Hening. Nadira hanya membisu, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Aluna.
"Nad, kalau kamu belum yakin dengan perasaanmu sendiri, lebih baik kamu tunda saja semuanya," ucap Aluna, ia sedikit memundurkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang. "Sebuah pertunangan dan pernikahan bukanlah hal yang main-main. Setelah ijab kabul selesai terucap nanti, kehidupan baru sudah menantimu dan kamu harus menyiapkan segala mentalmu menyambut masa kedewasaanmu benar-benar diuji. Kamu tidak hanya butuh cinta dalam menjalin hubungan, tapi rasa saling mengerti."
"Seperti Mommy dan daddy yang selalu saling menyayangi sampai saat ini," kata Nadira sambil menatap lekat wajah Aluna. Namun, Nadira terheran saat melihat Aluna yang justru tertawa lebar.
"Kalau kamu tahu bagaimana Mommy dan daddy dulu, kamu pasti tidak akan percaya. Dulu, Mommy dan daddy seperti air dan api yang tak mungkin bisa saling bersatu." Kening Nadira mengerut saat mendengar jawaban Aluna.
__ADS_1
"Kalian berdua terlihat saling menyayangi. Bahkan, daddy sangat bucin pada Mommy," kata Nadira tidak percaya. Aluna hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Nadira.
"Nad, terkadang orang yang kita benci, orang yang membuat kita selalu marah. Justru dialah yang menyayangi kita dengan tulus dan menjaga kita dengan segala caranya. Kau ingat, sedari kecil Nathan selalu bisa menjagamu, walaupun kamu selalu dibuat marah dengan mulutnya yang seperti kaleng rombeng."