Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
110


__ADS_3

Flashback On


Di sebuah sekolah dasar ternama, ada tiga anak lelaki yang duduk di taman sekolah. Mereka asik bermain bersama karena sedang jam istirahat. Saat sedang asik bermain, tiba-tiba datang seorang gadis kecil dengan rambut dikucir dua dengan kacamata tebal. Kulitnya berwarna coklat kehitaman. Alvino mendengus kasar saat melihat gadis itu berdiri di dekatnya dan menyodorkan kotak makanan.


"Kak Al, Ryn bawakan makan siang untuk Kak Al," kata Cateryn dengan senyum bahagia.


"Aku tidak butuh!" kata Alvino dengan ketus. Namun, Cateryn tetap tersenyum karena dia sudah terbiasa dengan sikap ketus Alvino dan itulah yang membuat dia terpikat.


"Al, jangan seperti itu. Kasihanlah dia sudah susah payah membuatkan makan siang untukmu." Kenan berusaha menyadarkan Alvino. Dia merasa tak tega dengan Cateryn yang setiap hari selalu menemui Alvino untuk memberikan bekal makan siang. Namun, Alvino selalu menolaknya mentah-mentah.


"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk memberikan bekal seperti ini!" Alvino menumpahkan makanan itu hingga berserakan di atas rerumputan. Cateryn menatap makanan itu dengan sayu. "Harusnya kamu itu sadar! Memang kamu pikir secantik apa dirimu sampai percaya diri sekali mendekati aku! Dasar gadis buruk rupa!" Alvino pergi meninggalkan Cateryn yang menangis karena sikap Alvino yang begitu keterlaluan.


"Maafkan Al ya, Ryn. Mungkin lebih baik kamu jangan lagi mendekatinya," kata Nathan. Dia benar-benar tidak tega melihat Cateryn yang menangis sambil menatap bekal makanan yang sudah tumpah semuanya.


"Alvino memang tidak mudah didekati. Jadi, lebih baik kamu menyerah saja." Kenan menyerahkan kotak makanan yang telah kosong. Lalu dia dan Nathan pergi meninggalkan Cateryn begitu saja. Tangan Cateryn mengepal erat, selama ini dia sudah berusaha mengejar cinta Alvino, tapi Alvino benar-benar sudah mematahkan hatinya.


"Lihat saja, Al. Kelak aku akan membalas penghinaanmu ini." Sorot mata Cateryn yang biasanya terlihat bahagia kini menatap penuh benci dan amarah. Perkataan Alvino tadi sudah sangat menyakiti hatinya.

__ADS_1


Flashback End


"Kamu tidak tahu betapa sakitnya hatiku dengan ucapanmu, Al." Suara Katty terdengar begitu getir.


"Itu kejadian saat kita masih kecil!" timpal Alvino.


"Justru karena kita masih kecil, pikiranku selalu dihantui rasa sakit. Namun kini, aku akan membalas rasa sakitku." Katty tersenyum miring, Alvino semakin merasa tak karuan, apalagi saat melihat airmata Rania yang tak berhenti mengalir.


"Katakan selamat tinggal untuk istri dan calon buah hatimu, Al. Hahaha." Katty dengan gerakan cepat mencekik leher Rania. Namun, tubuh Katty seketika ambruk saat Mike yang datang dari belakang berhasil mendaratkan pelurunya menembus pundak kanan Katty. Alvino dengan cepat mendekati Rania dan melepaskan ikatan tali di tubuh istrinya.


"Kak, rasanya sangat sakit," isak Rania diiringi tangisan. Dia merasakan sakit yang begitu hebat di perutnya. Alvino terkejut saat melihat darah segar keluar dari pangkal paha istrinya.


"Bertahanlah, Sayang." Alvino membopong tubuh Rania dan berlari menuju ke mobil bersama Mike. Mereka sangat khawatir dengan keadaan Rania apalagi saat Rania pendarahan. Kenan mengikat kuat tangan Jack dan Katty.


"Jo! Kamu pastikan mereka berdua masuk penjara dan jangan pernah biarkan mereka bisa keluar dengan cara apa pun! Kalau perlu beri mereka hukuman mati!" titah Davin dengan amarah yang sudah membara. Jo hanya mengangguk dan menuruti apa yang Davin perintahkan. Setelah itu dia pergi menyusul Alvino yang sedang ke rumah sakit.


***

__ADS_1


"Pa ... perasaanku tidak enak," kata Ana. Airmatanya mengalir tanpa sadar. Hatinya terasa begitu sakit dan dia sangat khawatir dengan keadaan Rania.


"Coba kamu hubungi Rania, semoga dia baik-baik saja," suruh Tuan Sandi. Dia juga ikut gelisah dan khawatir. Karena Tuan Sandi tahu ikatan batin antara Ana dan Rania sangat kuat.


Ana segera menghubungi Rania, tapi setelah tiga kali mencoba panggilannya tidak diangkat sama sekali. Dia mencoba menghubungi Alvino. Namun, panggilan itu juga tidak diangkat juga.


"Hallo, Kak Ken," sapa Ana saat Kenan sudah mengangkat panggilannya.


Prang!


Ponsel Ana terjatuh ke lantai setelah mendengar apa yang Kenan ucapkan. Tuan Sandi bangkit dari duduknya dengan wajah yang sangat khawatir.


"Ada apa, An?" tanya Tuan Sandi tak sabar.


"Pa, kita harus ke rumah sakit. Rania pendarahan dan sekarang sedang di bawa ke sana." Ana menangis, dia sangat khawatir dengan keadaan saudara kembarnya. Tuan Sandi pun bergegas ke rumah sakit bersama Ana.


"Aku mohon kamu harus tetap baik-baik saja, Ran." Ana meremas dadanya kuat. Dia merasa begitu cemas. Hatinya terasa sangat sakit. Seolah dia sedang merasa begitu kehilangan. Mobil Tuan Sandi melaju cepat menuju ke Rumah Sakit Harapan.

__ADS_1


__ADS_2