
"Keluar kalian!" perintah salah satu di antara mereka sembari mengetuk pintu mobil itu.
"Ayo, Nat. Kita keluar sekarang." Jo membuka pintu mobil itu dan segera keluar diikuti Nathan. Keempat orang itu langsung mengepung mereka berdua.
"Kalian ada masalah denganku?" tanya Jo berpura-pura tidak tahu.
"Kalian berdua harus mati saat ini juga!" kata salah satu di antara mereka sembari mengarahkan sebuah senjata tajam ke arah Jo. Namun, Jo berhasil menghindar dan dengan gerakan cepat dia menendang pria itu tepat di ulu hati, hingga pria itu terkapar dan mengerang kesakitan karena tendangan Jo yang begitu kuat. Jo mengambil senjata tajam yang terlepas dari pria itu.
"Belakangmu, Nat!" teriak Jo. Nathan berbalik dan melihat seorang pria hendak memukulnya. Nathan segera menangkis tangan pria itu dan melayangkan pukulannya tepat di wajah pria itu, sedangkan kakinya menendang tepat di pusat tubuh pria itu hingga ia mengerang kesakitan.
Di saat dua pria lainnya hendak menghajar Jo dan Nathan. Sebuah mobil merah berhenti tepat di belakang Jo. Mike keluar bersama lima orang anak buahnya.
"Tuan, lebih baik sekarang Anda ke tempat acara saja. Musuh utamanya ada di sana, mereka ini hanyalah peralihan saja, Tuan. Biar mereka menjadi urusan saya," bisik Mike di telinga Jo.
Jo hanya mengangguk mengiyakan. Dia dan Nathan segera menuju ke tempat acara. Hanya butuh waktu lima menit mereka sampai bersamaan dengan Cacha dan Rayhan yang juga baru saja sampai di sana.
__ADS_1
"Cha, kamu harus ingat pesan Ayah, jangan pernah jauh dari bunda dan Kak Rayhan," ucap Jo mengingatkan.
"Baik, Yah." Mereka berempat pun masuk ke dalam tempat itu. Cacha berjalan sembari menggandeng tangan Nathan. "Semua akan baik-baik saja, Kak." Nathan tidak menanggapi, dia hanya memegang tangan Cacha yang melingkar di lengannya.
Setelah mereka sampai di dalam, Jo segera mengajak Davin keluar dari ruangan itu. Sementara ketiga anaknya duduk di samping Mila dan Aluna. Nathan menatap ke arah Nadira yang juga sedang menatapnya penuh arti.
"Aku menemui mereka dulu," pamit Nathan. Ia berjalan mendekati Nadira dan Dion. Jantung Nadira terasa berdebar-debar saat Nathan sudah berdiri di depannya. Dia hanya berani menunduk, tidak berani menatap ke arah Nathan sama sekali.
"Selamat atas pertunangan kalian berdua," ucap Nathan. Dia berusaha agar terlihat setenang mungkin padahal hatinya sedang tidak karuan saat ini.
"Nona Muda Alexander, apa Anda tidak ingin menatapku?" tanya Nathan dengan meledek. Nadira mendongak, ia terpaku saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Nathan. Entah mengapa, ia melihat kekecewaan terlihat dari sorot mata Nathan.
"Mungkin tunangan saya sedang tidak ingin berbicara dengan Anda." Dion merangkul pundak Nadira yang sedari tadi hanya diam di posisinya.
"Oh baiklah. Nona Muda, saya sudah berjanji akan membawa kado spesial di acara pertunangan Anda sebagai permintaan maaf saya karena sudah memukul kekasih Anda." Nathan menatap ke arah Dion dan Nadira bergantian. "Silahkan menikmati kado dari saya." Nathan berbalik, berdiri membelakangi mereka berdua. Namun, saat Nathan bertepuk tangan, tiba-tiba lampu di ruangan itu sedikit meredup dan sebuah layar proyektor menyala di depan mereka.
__ADS_1
Para tamu undangan yang sedang menikmati makanan mereka, menatap ke layar itu. Mereka melihat sebuah prosesi ijab kabul dan mereka tercengang saat melihat sang mempelai pria adalah Dion. Kedua mata Nadira membola dengan sempurna. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Sial!" umpat Dion.
"Dion, bisakah kamu jelaskan semua ini," pinta Nadira menuntut jawaban. Kedua bola mata Nadira terlihat berkaca-kaca.
"Baby, itu hanya rekayasa. Mana mungkin aku menikah dengan gadis lain. Aku yakin itu hanya editan si Jonathan. Bukankah kamu tahu dia ahli dalam komputer," elak Dion.
"Kak Nathan, apakah ini memang kenyataan atau hanya hasil editan tanganmu?" tukas Nadira.
"Itu hanya editan tanganku, Nona." Plak! Nadira menampar pipi Nathan dengan sangat keras.
"Nadira!" bentak Aluna. Dia berjalan mendekati putrinya diikuti Mila, Cacha dan Rayhan.
"Aku benci Kak Nathan! Aku muak sama Kak Nathan! Kak Nathan bodoh!" maki Nadira. Semua menatap tidak percaya ke arah Nadira yang sedang diselimuti emosi.
__ADS_1
"Kamu yang bodoh, Nad!" kata Aluna dengan suara tinggi. "Mommy tidak percaya sudah melahirkan anak sebodoh kamu!" murka Aluna tanpa sadar. Mila segera memeluk tubuh Aluna, sedangkan Nadira menangis saat mendengar perkataan Aluna. Dua puluh tahun dirinya hidup di dunia, baru kali ini dia mendengar perkataan Aluna yang sangat menyakitinya.