Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
74


__ADS_3

Nathan mengambil piring yang berada di atas meja kecil, dia melihat nasi beserta lauknya masih utuh bahkan terlihat jika belum tersentuh sama sekali.


"Makan dulu anak cantik, baru setelah itu kamu boleh pulang," suruh Nathan sambil mengarahkan sesendok nasi dan lauk ke mulut Anin.


"Kamu menyebalkan, Nat!" Anin memukul lengan Nathan karena kesal, tapi ia tetap membuka mulutnya menerima suapan itu.


"Nat, kamu barusan di mana? Kok bisa sampai sini cepet banget?" tanya Anin sambil mengunyah makanannya.


"Aku sedang ada pertemuan di Restoran XX bersama Nad ... Astaga! Aku melupakan Nadira." Nathan meletakkan piring di atas meja dan berjalan tergesa ke luar ruangan. Begitu keluar dari ruangan, dia melihat Nadira yang sedang duduk bersandar di kursi tunggu dengan mata yang terpejam.


"Nad, maafkan aku." Bola mata Nadira terbuka saat mendengar suara Nathan, tatapan mata mereka berdua dan Nadira segera memutus tatapan mata itu.


"Hey, kamu marah?" tanya Nathan sambil menangkup kedua pipi Nadira.


"Tidak! Aku lelah mengikuti langkah kaki Kak Nathan yang seperti jerapah!" ketus Nadira beralasan. Dia tidak ingin Nathan tahu kalau dirinya sudah di depan ruangan sedari tadi dan merasakan sakit di hatinya saat melihat kedekatan Nathan dan Anin.


"Maafkan aku, Sayang." Blush! Wajah Nadira seketika memerah setelah mendengar Nathan memanggilnya 'sayang'.

__ADS_1


"Bisakah Kak Nathan tidak segenit itu? Aku benci Kak Nathan!" Nadira menyingkirkan tangan Nathan dari pipinya. Dia beranjak bangun dan berjalan masuk ke dalam ruangan untuk menemui kakak sepupunya.


"Kak Anin, bagaimana keadaan Kakak?" tanya Nadira sambil mendudukkan tubuhnya di sebelah Anin.


"Aku baik-baik saja, Nad. Kenapa kamu baru masuk?" Anin mengamati wajah Nadira yang terlihat kesal.


"Aku istirahat sebentar tadi di kursi depan, Kak. Kakiku rasanya mau patah mengikuti langkah kaki jerapah," sindir Nadira, ekor matanya mengikuti gerakan Nathan yang sedang mengambil piring di atas meja. Nathan juga duduk di samping Anin, di seberang Nadira.


Nadira merasakan hatinya kembali memanas saat melihat Nathan yang dengan telaten menyuapi Anin, bahkan beberapa candaan keluar dari mulut mereka dan Nadira merasa jika kehadirannya seperti tidak terlihat. Ponsel Nadira berdering, dengan segera dia mengambil ponselnya dan berpamitan keluar dari ruangan.


"Kamu kenapa lihatin Nadira kaya gitu? Kamu suka sama Nadira?" tanya Anin menyelidik.


"Aku sukanya sama kamu, Nin!" Plak! Sebuah pukulan keras mendarat di bahu Nathan, hingga ia mengerang kesakitan. "Gila kamu, Nin! Kamu cewek tapi tenagamu kaya laki!" Nathan mengusap bahunya yang terasa begitu panas.


"Mulutmu benar-benar seperti kaleng rombeng, Nat!" cibir Anin sambil melipat tangannya di dada.


"Biar kaya kaleng rombeng, tapi kamu suka kan?" Anin memundurkan wajahnya saat Nathan justru mendekatkan wajahnya. Dari arah belakang, mereka berdua justru terlihat seperti orang yang sedang berciuman.

__ADS_1


"Maaf aku menganggu." Nathan dan Anin mengalihkan pandangan mereka ke arah Nadira yang sedang berdiri di ambang pintu. "Kak Nathan, aku mau makan siang sama Dion. Jadi, nanti aku langsung ke kantor saja dan Kak Anin, semoga cepat sembuh ya," kata Nadira seraya mengalihkan pandangannya. Bahkan, Nadira pergi begitu saja sebelum mereka berdua mengiyakan.


Nadira yang sudah keluar dari ruangan dan berjalan beberapa langkah dari ruangan itu, seketika menghentikan langkahnya dan menyandarkan tubuhnya ke tembok. Dia meremas dadanya dengan cukup keras, rasanya dadanya saat ini begitu sakit seperti terhantam batu yang sangat besar.


***


"Baby, kenapa kamu tidak memakan makananmu? Bukankah ini makanan kesukaanmu?" tanya Dion menatap heran ke arah Nadira yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk nasi goreng di piringnya.


"Aku sebenarnya masih kenyang, Sayang. Tadi, aku habis ikut Kak Nathan bertemu klien dan aku sudah makan," sahut Nadira beralasan. Sebenarnya, dia belum makan sama sekali, ingatan Nadira yang sedari tadi teringat Nathan dan Anin yang sedang berciuman, membuat ***** makan Nadira mendadak hilang begitu saja.


"Ya sudah, jangan kamu makan. Nanti perutmu sakit kalau terlalu kenyang." Dion menyentuh tangan Nadira dan memberikan senyum manisnya. Nadira terdiam sesaat mengamati wajah Dion yang selama ini sudah menemaninya.


Kenapa jantungku tidak berdebar kencang seperti saat dekat dengan Kak Nathan?


...🍫🍫🍫🍫...


Hayoo, kenapa tuh Nad?

__ADS_1


__ADS_2