
Keluarga Alexander sedang berada di perjalanan menuju tempat pertunangan Nadira dan Dion. Aluna dan Davin duduk di tengah, mengampit tubuh Nadira di antara mereka. Aluna mengusap lembut rambut hitam Nadira yang kini di sanggul menampilkan leher jenjangnya.
"Kenapa kamu terlihat tidak bahagia?" tanya Aluna.
"Mom, bukannya aku tidak bahagia, tapi aku hanya sedang merasa gugup saja," elak Nadira. Ia menunduk, Nadira merasakan sebuah keraguan di dalam hatinya. Namun, karena ini sudah pilihannya, dia harus menerimanya.
Bukankah Dion adalah orang yang aku cintai? Bukankah harusnya aku bahagia? Batin Nadira terasa bergejolak.
Setelah hampir setengah jam perjalanan. Mobil hitam milik Davin berhenti di sebuah gedung mewah yang sudah dihias dengan sedemikian rupa. Mereka pun turun dan segera masuk ke dalam tempat acara itu. Pandangan Nadira menyapu seluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan seseorang. Namun, dia tidak menemukannya sama sekali.
"Kamu mencari siapa, Nad?" Nadira terlonjak kaget, ia menoleh ke samping dan melihat pasangan pengantin baru dan calon pengantin berdiri di sampingnya.
"Bisakah kalian berjalan sambil bersuara? Kalian membuat jantungku serasa mau copot," omel Nadira. Ia mengusap dadanya untuk menetralkan kinerja jantungnya.
"Makanya jangan suka melamun. Kesambet baru tahu rasa kamu, Nad." Nadira hanya diam, tidak menanggapi ucapan Alvino sama sekali.
Mereka menoleh ke arah pintu masuk saat melihat Dion datang bersama seorang wanita cantik. Wanita itu adalah Evelyn, anggota geng 'Four Angels' tahu kalau wanita itu adalah mama Dion.
__ADS_1
Nadira berjalan cepat mendekati calon tunangannya, dia menyalami tangan Evelyn dengan sopan. "Wah, ternyata calon menantuku sangat cantik sekali," puji Evelyn. Wajah Nadira terlihat merah merona, apalagi saat tangan Dion menggenggamnya dengan erat.
"Selamat datang, Nyonya Evelyn," sambut Aluna.
"Terima kasih Tuan dan Nyonya Alexander yang terhormat," balas Evelyn tak kalah sopan.
"Kalian hanya berdua?" tanya Davin. Evelyn dan Dion sama-sama mengangguk. "Ya sudah, kita mulai saja."
Pembawa acara pada malam hari itu pun mulai memimpin acara. Semua yang hadir bertepuk tangan saat Dion sudah memasangkan cincin di jari manis Nadira, begitu juga sebaliknya. Namun, Nadira hanya terdiam dan kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Kenapa Kak Nathan tidak datang? Bukankah dia berjanji akan membawa kado spesial untukku?
"Baby, Kenapa kamu melamun? Lihatlah, mami ku sedari tadi ingin memelukmu. Dia sudah tidak sabar menjadi ibu mertuamu," kata Dion. Nadira menoleh ke arah Evelyn yang sedang menatap ke arahnya sembari merentangkan kedua tangannya. Nadira yang merasa tidak enak hati, akhirnya berjalan mendekati Evelyn dan memeluk tubuh calon mama mertuanya itu.
"Maafkan aku, Mil. Sepertinya Nathan dan Nadira tidak berjodoh," kata Aluna dengan suara lirih.
"Tidak apa, Lun. Kamu tenang saja. Masih ada Cacha dan Febian yang bisa kita jodohkan." Mila berseloroh diiringi tawa. Namun, Aluna bisa melihat raut kekecewaan di wajah sahabatnya itu. Akhirnya, mereka pun terdiam menikmati acara itu.
***
__ADS_1
Nathan melajukan mobilnya dengan kencang, sedangkan Jo hanya duduk tenang di sampingnya. Namun, tiga ratus meter sebelum sampai di tempat acara, terdengar suara tembakan dan laju mobil Nathan terasa oleng. Nathan segera menghentikan mobilnya di tepi jalan. Namun, saat ia akan keluar dari mobil, Jo yang duduk di sampingnya segera menahan tangannya.
"Jangan keluar, kita tunggu saja di sini." Jo terlihat begitu tenang, matanya terlihat berkali-kali melirik ke arah spion. Seringai tipis terlihat di sudut bibirnya saat melihat empat orang berpakaian hitam berjalan mendekati mobilnya.
"Umpan masuk," gumam Jo dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
"Ayah yakin kita tidak akan terlambat?" tanya Nathan ragu. Dia juga melirik ke arah spion, melihat keempat orang yang semakin mendekati mobilnya.
"Kamu tenang saja. Ayah sudah menghubungi Tuan Davin," sahut Jo dengan tenang.
"Yah, aku khawatir sama bunda. Kak Rayhan dan Cacha juga belum sampai di sana."
"Ayah sudah memberi tahu bunda apa saja yang harus dilakukan selama Ayah belum datang." Tepat saat Jo berhenti bicara, pintu kaca mobil Nathan diketuk dengan sangat keras.
"Tenangkan dirimu, Nat. Ingat! Bukan hanya satu nyawa yang harus kita selamatkan."
"Baik, Yah."
__ADS_1
Seandainya kamu tahu, kalau Ayah juga sedang sangat khawatir saat ini, Nat. Ya Tuhan ... aku mohon jagalah seluruh anggota keluargaku dan orang-orang yang aku sayangi.