Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
111


__ADS_3

Mike melajukan mobilnya dengan kencang, berkali-kali dia menekan klakson untuk memberi kode kendaraan di depannya agar menyingkir. Alvino merasa semakin khawatir saat melihat tubuh Rania yang semakin lemah karena darah yang terus mengalir.


"Kak, rasanya sangat sakit," rintih Rania. Alvino semakin mengeratkan pelukannya. Dia merasa begitu khawatir dengan keadaan istrinya.


"Bertahanlah, Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Alvino. Suara bergetar karena menahan tangisnya. "Mike! Bisakah kamu mempercepat lajunya!" perintah Alvino dengan nada tinggi.


"Baik, Tuan. Saya sedang berusaha, lima menit lagi kita sampai," sahut Mike tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Kak, Bagaimana kalau buah hati kita tidak bisa diselamatkan?" tanya Rania cemas. Wajahnya sudah tampak begitu pucat.


"Pasti bisa, Sayang. Kalaupun tidak bisa, setidaknya aku masih memiliki kamu," kata Alvino, dia mengusap wajah istrinya dengan lembut.


"Kak, bagaimana kalau aku juga harus pergi? Maukah Kak Al percaya kalau aku sangat mencintai Kak Al?" Airmata Alvino sudah tidak bisa lagi ditahan.


"Tidak, Sayang! Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi! Aku tidak akan pernah rela!" Alvino menangis terisak, ketakutan yang besar menyergapi hatinya saat ini. Dia menatap wajah istrinya yang semakin terlihat pucat.


"Aku mencintaimu, Kak." Rania tersenyum simpul sebelum kedua matanya akhirnya terpejam.


"Sayang, bangun Sayang!" Alvino menepuk pipi Rania berkali-kali tapi Rania tidak memberi respon sedikit pun. "Mike! Cepat Mike!" perintah Alvino membuat Mike begitu kalang kabut. Dia semakin mempercepat laju kendaraannya.


Begitu mobil itu sudah berhenti di depan rumah sakit, Alvino langsung membopong tubuh Rania ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan segera.


"Maaf, Tuan. Silakan tunggu di luar," perintah perawat sambil menutup pintu ruangan itu. Alvino hanya menurut, dia mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu dan mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Aku mohon bertahanlah." Alvino menyandarkan kepalanya, airmatanya sudah mengalir membasahi seluruh wajahnya. Berbagai doa dia ucapkan untuk keselamatan istri dan calon buah hatinya.


"Al," panggil Davin dengan napas tersengal karena berlari. Alvino membuka matanya, dia bangkit berdiri dan memeluk tubuh Davin dengan erat.


"Dad ... Al sangat takut." Tangisan Alvino kembali pecah. Davin membalas pelukan Alvino dengan erat. Dia juga ikut menangis.


"Percayalah, Al. Semua akan baik-baik saja." Davin mengusap airmatanya. Dirinya merasa begitu sakit saat melihat putra sulungnya serapuh ini. Dia juga merasa sama khawatirnya seperti Alvino.


"Dad—"


"Berdoalah semoga semua akan baik-baik saja." Davin berusaha menguatkan meski dalam hatinya sendiri dia juga merasa begitu ragu.


***


"Nyonya!" panggil Felisa setengah berteriak. Aluna yang sedang duduk cemas, segera berdiri dan melihat Felisa yang berlari ke arahnya.


"Ada apa, Fel?" Perasaan Aluna mendadak tidak nyaman saat melihat raut wajah Felisa yang begitu cemas dan gugup.


"Nyo-Nyonya Muda ...." Felisa menghentikan ucapannya. Dia ragu saat akan mengatakan kenyataan yang terjadi.


"Ada apa dengan Rania?" tanya Aluna dengan suara tinggi.


"Nyonya Muda pendarahan dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit," jelas Felisa. Dia berjalan cepat menahan tubuh Aluna yang hampir jatuh karena lemas. "Anda baik-baik saja, Nyonya?" Felisa semakin terlihat khawatir.

__ADS_1


"Temani aku ke rumah sakit, Fel." Felisa mengangguk. Dia menuntun tubuh Aluna yang masih begitu lemas.


Hampir dua puluh menit mobil yang ditumpangi Aluna sampai di rumah sakit, bersamaan dengan Tuan Sandi dan Ana yang juga baru datang. Mereka berempat segera menuju ke ruang IGD.


"Mas." Davin melerai pelukan Alvino saat mendengar suara Aluna yang memanggilnya.


"Sayang, kamu di sini?" Davin bergantian memeluk tubuh istrinya. Berusaha menenangkan istrinya yang sedang menangis.


"Bagaimana Rania?" tanya Aluna dengan suara lirih.


"Dia sedang ditangani. Doakan saja yang terbaik untuk anak menantu kita," ucap Davin. Aluna melepas pelukan Davin dan beralih memeluk tubuh Alvino. Hatinya merasa begitu sakit saat melihat wajah Alvino yang sudah penuh dengan airmata.


"Mom—"


"Kamu harus kuat, Al." Aluna mengusap punggung putra sulungnya untuk memberinya kekuatan. Sementara Ana memeluk Tuan Sandi dengan erat saat rasa sakit itu kembali menghinggapi hatinya.


Pintu ruangan terbuka, mereka segera mendekati dokter yang menangani Rania. Wajah dokter itu tampak begitu sendu.


"Bagaimana keadaan istri dan calon buah hati saya, Dok?" tanya Alvino tak sabar.


Dokter itu menghela napas panjang sebelum menjawab. "Maafkan saya, Tuan. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain dan Anda harus ikhlas."


Bak disambar petir, tubuh Alvino luruh ke lantai begitu saja. "Ini tidak mungkin." Suara Alvino begitu lirih bahkan nyaris tak terdengar.

__ADS_1


__ADS_2