Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
112


__ADS_3

Alvino duduk di samping istrinya yang masih terbaring lemah. Dia menatap lekat wajah istrinya yang tampak begitu pucat. Airmatanya kembali mengalir saat menatap wajah orang yang dia cintai.


"Bangunlah, Sayang. Aku merindukan senyumanmu," kata Alvino dengan lirih. Dia mencium kening istrinya dengan sangat lama. Menyalurkan segala perasaan yang terasa bergejolak di dalam hatinya. Rasa sakit karena kehilangan calon buah hati mereka dan sang istri yang belum juga sadar membuat hati Alvino rasanya seperti dikoyak.


"Apa kamu tidak mencintaiku lagi, Sayang? Tidakkah kamu kasihan padaku?" Alvino menggenggam erat tangan Rania. Hatinya benar-benar sakit sekarang. Hampir dua hari Rania tak sadarkan diri setelah pendarahan waktu itu. Alvino sama sekali tidak meninggalkan istrinya.


"Kalau kamu memang tidak mau bangun. Biar aku mengikutimu dan menyusul anak kita. Aku tidak akan pernah mampu jika harus hidup tanpa kamu." Alvino sudah pasrah. Dua hari ini batinnya merasa begitu tersiksa.


Aluna memasuki ruangan itu. Dia juga sama sedihnya dengan putranya. Namun, kesedihannya semakin terasa saat melihat sang putra yang begitu terpuruk. Dia tahu dengan pasti, bagaimana besarnya rasa cinta Alvino untuk Rania. Aluna berjalan mendekati Alvino, dia mengusap punggung putranya dengan perlahan.


"Istirahatlah, Al. Dua hari ini kamu tidak istirahat sama sekali. Kamu juga harus memikirkan kesehatanmu," kata Aluna dengan lirih.


"Aku tidak akan meninggalkan Rania sendiri, Mom. Aku takut dia akan mencariku saat terbangun nanti," sahut Alvino. Hati Aluna rasanya seperti diremas kuat. Sebagai seorang ibu, dia pasti sangat bisa merasakan sedalam apa luka yang dirasakan oleh anak-anaknya.


"Apa kamu mau saat Rania terbangun nanti, dia sedih melihat kamu yang berantakan seperti ini?" tanya Aluna. Alvino menggeleng dengan cepat. "Biar Mommy yang menjaga Rania."

__ADS_1


Alvino akhirnya menurut, dia berniat pulang hanya untuk membersihkan dirinya saja. Dengan langkah berat, Alvino keluar dari ruangan itu. Setelah Alvino tak lagi terlihat, Aluna duduk di samping Rania dan menggenggam erat tangan menantunya.


"Bangunlah, Sayang. Al sudah pergi. Mommy tahu kamu sudah sadar." Kedua mata Rania terbuka dengan perlahan dan Aluna bisa melihat sorot mata Rania yang terlihat begitu terluka.


"Kenapa kamu berpura-pura terlelap di depan suamimu?" tanya Aluna. Dia tersenyum tipis, sembari mengusap wajah Rania yang masih tampak pucat.


"Mom ... Rania tidak sanggup melihat wajah Kak Al. Rania sudah bodoh karena tidak bisa menjaga calon buah hati kita," jawab Rania. Wajahnya tampak begitu sendu, Aluna yang melihatnya pun menjadi tidak tega.


"Tapi kalau kamu terus berpura-pura seperti ini. Kamu justru semakin menyakiti hati Al." Aluna berusaha menasehati.


"Maafkan Rania—"


"Sayang, kamu sudah sadar?" Alvino terlihat begitu semringah. Dia berjalan mendekati sang istri dan mencium keningnya dengan lama. "Aku sangat merindukan bola matamu yang cantik."


Rania hanya diam, dia tidak memasang sedikit pun senyuman membuat Alvino mengerutkan keningnya. Aluna beranjak bangun dan berpamitan keluar ruangan. Membiarkan Mereka saling berbicara.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu terlihat tidak bahagia?" tanya Alvino heran. Di duduk di samping Rania, tetapi Rania justru memalingkan wajahnya.


"Pergilah Kak. Aku tidak pantas untukmu. Aku terlalu ceroboh, sampai tidak bisa menjaga calon anak kita dengan baik," kata Rania. Senyum di wajah Alvino memudar seketika. Dia memegang wajah istrinya dan menghadapkan kearahnya.


"Kenapa kamu berbicara seperti ini? Kamu sudah tidak sayang padaku?" tanya Alvino, dia menatap Rania yang terlihat begitu sedih.


"Aku sangat sayang padamu, Kak." Rania menghela napas panjang. "Tapi aku sudah membuatmu kecewa karena tidak bisa menjaga anak kita dengan baik."


Alvino tidak menjawab, dia naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. "Kamu tahu, bisa memilikimu saja sudah menjadi kebahagiaan luar biasa untukku. Semua bukan salahmu, justru aku yang menjadi awal mula semua ini terjadi." Alvino semakin memeluk erat tubuh istrinya, sedangkan Rania hanya membisu.


"Seandainya dulu aku tidak menghina Katty, dia tidak akan dendam padaku dan semua ini tidak akan terjadi. Soal anak, bukankah kita masih memiliki banyak waktu, kita masih bisa mencetak banyak anak. Bagiku ... kamu masih berada di sisiku saja sudah membuat kebahagiaanku begitu sempurna."


Airmata Rania seketika luruh begitu saja. Dia tidak menyangka jika Alvino akan mencintainya sampai sedalam ini. "Jangan menangis, hatiku sangat sakit jika melihat airmatamu," bisik Alvino. Bukannya berhenti, isakan Rania justru semakin mengeras.


"Aku bukan menangis sedih, tapi aku menangis karena sangat bahagia, Kak. Terima kasih. Aku sangat mencintaimu, Kak."

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu." Alvino mencium puncak kepala Rania dengan lembut. Menyalurkan segala rasa sakit yang kini sudah menjadi rasa bahagia yang luar biasa.


_TAMAT_


__ADS_2