
Nadira baru saja keluar dari kamarnya, dia sudah memakai setelan kemeja rapi yang berpadu dengan blouse warna hitam yang semakin menambah kesan dewasa pada penampilannya.
"Sarapan dulu sebelum kamu berangkat, Nad." Aluna menyambut Nadira di meja makan, sembari mengambil sarapan untuk putrinya itu.
"Baik, Mom." Nadira duduk di kursinya dengan lesu.
"Kenapa kamu tidak semangat, Nad? Bukankah setelah ini kamu bakal sering ketemu sama calon suami kamu? Anggap saja kalian sedang ta'aruf," ledek Davin.
"Daddy! Jangan bikin selera makan Nadira jadi hilang," cebik Nadira kesal. Davin dan Aluna hanya terkekeh geli melihat raut wajah putri mereka yang sedang cemberut.
"Di mana, Bi?" tanya Nadira saat tidak melihat keberadaan adiknya.
"Masih tidur, hari ini dia kan libur." Nadira hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi ucapan Aluna.
Seusai sarapan, Nadira berangkat menuju ke Perusahaan Saputra Group dijemput Dion yang magang tidak jauh dari perusahaan tempat Nadira magang.
"Baby, kenapa kamu tidak magang di perusahaan milik kakakmu sendiri?" tanya Dion yang sedang menyetir mobilnya.
"Tidak! Ana dan Rania sudah magang disana, aku tidak mau melihat kebucinan pasangan mereka," sahut Nadira sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil. Dion hanya mengangguk dan kembali fokus pada kemudinya. Hampir lima belas menit perjalanan, mobil Dion berhenti di depan gerbang perusahaan Saputra Group. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Nadira segera memasuki kantor karena jam di pergelangan tangannya hampir menunjuk ke angka delapan.
__ADS_1
Ketika sampai di lobby kantor, dirinya berpapasan dengan Nathan yang juga baru saja sampai, Nadira segera mengekor di belakang Nathan karena dia akan menjadi asisten pribadi Nathan selama magang.
"Kamu tidak ingin menyapa bos kamu?" sindir Nathan, karena sedari bersama dari lobby sampai ke ruangannya. Nadira hanya diam membisu.
"Selamat pagi, Tuan. Semoga hari Anda menyenangkan," ucap Nadira lesu, bahkan dia memasang wajah malas.
"Lain kali, kalau menyapa bos kamu harus dengan senyum yang secantik mungkin. Mulai lah bekerja, jangan lupa ingatkan selalu jadwalku." Nadira tidak menanggapi ucapan Nathan, dia hanya mendudukkan tubuhnya di kursinya dan melihat-lihat jadwal Nathan.
"Tuan, ada pertemuan penting dengan Nona Monica jam sepuluh di Restoran XX," kata Nadira, memecah keheningan di ruangan itu.
"Oke, Monica si Janda Seksi."
"Uhukk uhukk." Nadira tersedak air liurnya sendiri setelah mendengar ucapan Nathan.
"Apa Anda melihat saya sedang makan sesuatu?" tanya Nadira kesal, dadanya masih terasa begitu sesak bekas tersedak. Nathan menghela napas panjangnya sambil menatap wajah Nadira dengan lekat. Merasa sedari tadi di pandang Nathan, Nadira segera mengalihkan pandangannya ke samping. Jujur, dia merasa sangat salah tingkah saat ini.
"Kamu cantik juga kalau memakai setelan kemeja seperti ini. Lebih terlihat dewasa, tidak terlihat seperti bocah." Bola mata Nadira membola sempurna setelah mendengar ucapan Nathan.
"Kak Nathan! Bisakah Kakak tidak terlalu genit? Jangan sok tampan!" ketus Nadira seraya mengerucutkan bibirnya, hingga Nathan yang begitu gemas mencubit bibir Nadira yang sudah maju itu.
__ADS_1
"Ingat! Aku ini bos kamu. B-O-S, BOS! Kamu tahu kan apa itu bos?" tanya Nathan sembari menaik-turunkan alisnya.
"Baiklah. Kembalilah ke meja Anda dan berdandanlah segagah mungkin, bukankah sebentar lagi Anda akan bertemu dengan Janda Seksi?" usir Nadira, tapi Nathan justru tertawa lebar.
"Kamu cemburu?" Nathan memajukan wajahnya hingga jarak mereka tidak lebih dari lima centi. Nathan dan Nadira sama-sama terdiam sesaat, hingga tanpa sadar Nathan semakin memajukan wajahnya hendak mencium bibir ranum milik Nadira. Karena begitu terpikat dengan tatapan Nathan, tanpa sadar kedua bola mata Nadira terpejam dan hendak menyambut ciuman Nathan. Bahkan, Nadira terlihat memajukan bibirnya.
"Dasar otak mesum!"
"Kak Nathan!" pekik Nadira saat sebuah sentilan mendarat di keningnya. Nadira mengusap keningnya yang terasa sakit, bahkan kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca. "Sakit," rintih Nadira sambil terus mengusap bekas sentilan itu.
"Maafkan aku, kembalilah bekerja. Cup!" Nathan mengecup kening Nadira setelah itu ia kembali ke kursinya, sedangkan Nadira bergeming di posisinya saat merasakan sebuah perasaan aneh menjalar ke seluruh tubuhnya.
...🍫🍫🍫🍫...
Yuk kasih hadiah buat Author dong
bunga? boleh.
kopi? boleh.
__ADS_1
hati? boleh juga.
Apa aja yang penting ikhlas. 😊😊