Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
24


__ADS_3

Alvino dan Nathan kini sudah berada di dalam mobil, Nathan mengamati wajah Alvino yang sedang fokus menyetir dengan raut datar.


"Kamu yakin kalau kamu baik-baik saja, Al?" tanya Nathan tanpa mengalihkan padangannya.


"Tentu saja, Nat. Memang kamu pikir, aku kenapa?" tanya balik Alvino dengan ketus.


"Al, kita itu sudah bersama sejak kecil, aku sudah sangat mengenal dirimu dan kamu tidak bisa berbohong dariku." Alvino tidak menyahuti, hanya suara hembusan napas kasar terdengar keluar dari mulut Alvino.


"Aku tidak mungkin menyakiti hati orang-orang terdekatku, Nat. Apalagi adikku sendiri, aku tidak mungkin tega menyakiti hatinya." Suara Alvino terdengar begitu berat. Meskipun Alvino tidak mengatakan sebenarnya, tetapi Nathan sudah tahu apa maksud ucapan Alvino.


"Tapi Al, apa kamu tidak ingin sedikit memperjuangkan perasaanmu? Aku merasa kalau Rania juga mencintaimu," ucap Nathan membuat Alvino mengalihkan pandangannya sesaat ke arahnya.


"Jangan asal menebak, Nat!" ketus Alvino.


"Ish! Aku bukan asal menebak, tapi aku punya mata batin seperti ayahku," timpal Nathan, dia menatap jalanan di depannya.


"Kamu memang menyebalkan, Nat. Kamu tahu Nat, terkadang kita harus belajar untuk tidak egois agar tidak menyakiti hati orang lain meskipun hati kita sendiri yang akan terluka," ucap Alvino.


"Kamu benar-benar hebat, Al. Aku bangga punya sahabat sebaik kamu," puji Nathan sembari menepuk pundak Alvino. "Al, seandainya Kenan memang benar akan melamar Rania, lalu bagaimana dengan Febian?" tanya Nathan.


"Semua tergantung Rania, siapapun yang dipilih Rania, maka yang lainnya harus bersiap untuk terluka," sahut Alvino, mobilnya memasuki pelataran Mansion Alexander.


"Kalau Rania memilih kamu?" Alvino menanggapi pertanyaan Nathan dengan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Sudah sana pulang! Aku capek mau istirahat." Alvino keluar dari mobil, sedangkan Nathan berpindah duduk di belakang setir kemudi.


"Kamu tidak menyuruhku mampir? Pelit sekali." Alvino tidak mempedulikan ucapan Nathan, dia hanya berjalan masuk meninggalkan Nathan yang masih duduk dengan tenang. Setelah Alvino tidak lagi terlihat, Nathan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.


Alvino yang sudah memasuki mansionnya, segera berjalan menuju kamarnya karena dia sudah merasa sangat lelah.


"Tunggu Al!" Alvino menghentikan langkahnya saat mendengar suara Aluna memanggilnya. Dia berbalik dan melihat Aluna yang sedang berjalan mendekatinya.


"Ada apa, Mom?" tanya Alvino saat Aluna sudah berdiri di sampingnya.


"Kamu dari mana? Mommy sedari tadi menunggumu," Alvino bisa melihat kekhawatiran dari wajah Aluna.


"Kak Al!" Teriak Febian. Alvino dan Aluna segera menatap ke arah Febian yang mendekati mereka dengan marah.


"Bi, bisakah kamu sedikit sopan dengan kakakmu," kata Aluna penuh penekanan.


"Bi, bukankah Mommy sudah bilang kamu harus membicarakannya dengan baik-baik dan kamu sudah berjanji melakukannya," kata Aluna berusaha mengingatkan, tetapi emosi Febian seolah telah mencapai ke ubun-ubunnya.


"Ada apa, Mom?" tanya Alvino bingung.


"Tidak usah berlagak tidak tahu apa-apa, Kak! Kak Al sudah tahu kan kalau aku menyukai Rania sejak dulu, lantas kenapa Kak Al mau merebut Rania dari aku? Kakak tega!"


"Merebut Rania? Maksud kamu?" tanya Alvino, dia benar-benar sangat bingung.

__ADS_1


"Lihatlah, Kak!" Febian menepuk dada Alvino dengan sebuah foto, setelah itu dia segera berlalu pergi dari sana, sedangkan Alvino memegang foto itu dan melihatnya. Dia sangat terkejut saat melihat foto dirinya yang sedang memeluk Rania dari belakang.


"Bukankah ini saat aku bersama Rania di acara pelantikan Nathan, siapa yang mengambil foto ini? Sepertinya waktu itu tidak ada orang lain selain aku dan Rania," gumam Alvino.


"Al, bisakah kamu jelaskan kepada Mommy apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aluna dengan lembut, Alvino menatap wajah Aluna yang sedang menatapnya penuh arti.


"Mom, apa Mommy percaya kalau Al tidak mungkin merebut Rania dari Febian?" tanya Alvino lirih, Aluna menganggukkan kepalanya perlahan.


"Mommy percaya sama kamu, Al."


"Apa Mommy tahu siapa yang mengirim foto ini?" tanya Alvino lagi.


"Tidak, kata Febian dia menabrak seseorang waktu berada di Taman Kota, orang itu menutup wajahnya dan menyerahkan foto itu begitu saja," sahut Aluna. Alvino menghela napas panjangnya.


"Kalau begitu Al ke kamar dulu, Mom. Al sudah sangat lelah," pamit Alvino, tetapi Aluna menahan tangan Alvino agar tidak pergi.


"Kamu tidak ingin menyelesaikan masalahmu dengan Febian?" tanya Aluna cemas karena dia tidak ingin adanya pertengkaran di antara kedua anak lelakinya.


"Belum saatnya Mom. Biarkan Febian menenangkan dirinya sendiri dahulu," sahut Alvino, dia melepaskan tangan Aluna dari lengannya, setelah itu dia berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Alvino segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia menatap foto dirinya dan Rania yang masih dalam genggamannya. Alvino tersenyum tipis melihat foto itu dan ibu jarinya mengusap foto itu dengan perlahan.


"Maafkan aku, Ran. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu." Mata Alvino mulai basah, dia segera beranjak bangun dan menuju ke kamar mandi sebelum airmatanya benar-benar menetes.

__ADS_1


Jangan lupa dukungan buat Author,


Author tunggu yaa 😊😊


__ADS_2