Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
49


__ADS_3

"Kamu kenapa, Bi?" tanya Alvino seraya melepas tangan Febian yang melingkar di perutnya. Setelah pelukan itu terlepas, dia berbalik dan melihat raut wajah Febian yang terlihat begitu menyesal.


"Aku minta maaf Kak, sudah salah paham kepada Kakak," ucap Febian lirih, dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap ke arah kakaknya.


"Tidak apa-apa, sebelum kamu minta maaf, Kakak sudah memaafkan kamu," kata Alvino dengan tersenyum tipis.


"Kak ...."


"Berjuanglah mendapatkan hati Rania, Bi. Kamu tahu, kemarin pesaingmu adalah Kenan, tapi ternyata yang di cintai Kenan adalah Ana jadi kamu harus bersemangat untuk menaklukan hati Rania." Febian sedikit mendongak, dia bisa melihat Alvino yang sedang memaksakan senyumnya.


"Kakak istirahat dulu, malam ini Kakak sangat lelah. Jangan lupa besok kamu jenguk Rania, dia sedang dirawat di rumah sakit sekarang."


"Kenapa Rania dirawat di rumah sakit?" tanya Febian khawatir.


"Dia demam. Kakak mau ke kamar dulu, ya." Alvino berbalik dan hendak melangkahkan kakinya menuju ke kamar tapi Febian segera menahannya.


"Kak, aku menyerah." Suara Febian terdengar begitu lirih. "Aku tidak memaksa atau mengejar cinta Rania lagi, Kak. Aku rasa perasaanku kepada Rania hanyalah sebuah perasaan kagum bukan cinta." Alvino bergeming di posisinya, dia hanya bisa diam membisu tanpa membalas perkataan adiknya. Erlando yang sedang duduk di sofa hanya melihat mereka berdua tanpa berani berkomentar.


"Aku sangat bangga mempunyai seorang Kakak sehebat Kak Al. Kakak selalu mengalah dan rela terluka demi adiknya, aku merasa sangat menyesal Kak." Suara Febian mulai terdengar parau dan Alvino tahu kalau adiknya akan menangis saat ini.


"Sudah kewajiban seorang kakak untuk melindungi dan memastikan kebahagiaan adiknya. Kakak tidak akan tega merebut apa yang menjadi sumber kebahagiaan kamu. Teruslah berjuang, Bi. Aku yakin kamu bisa menaklukan hati Rania dan kamu harus berjanji bisa membuatnya bahagia." Getir, itulah yang Alvino rasakan saat ini tapi mau bagaimanapun dia tidak akan tega menyakiti hati Febian.

__ADS_1


"Aku tidak akan menjadi luka di antara dua orang yang saling mencintai kak. Aku yakin hanya Kak Al yang bisa membuat Rania bahagia. Lebih baik aku pergi dari kalian daripada aku harus hidup dalam rasa penuh sesal." Hening. Suasana menjadi begitu hening karena Alvino tidak menanggapi ucapan adiknya." Kak ... Febian mohon." Suara Febian terdengar begitu pelan dan memohon membuat Alvino menghela napas panjangnya.


"Nanti akan Kakak pikirkan." Alvino segera pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Febian yang hanya berdiri mematung menatap kepergian kakaknya.


Sesampainya di dalam kamar, Alvino merebahkan tubuhnya secara kasar di atas kasurnya. Dia menghela napas panjangnya berkali-kali sembari memejamkan kedua bola matanya. Bayangan semua kejadian tadi kembali menghantui pikirannya.


"Aku mencintaimu, Ran," gumamnya sebelum dia tertidur lelap karena tubuhnya yang sudah sangat lelah.


🍀🍀🍀🍀🍀


"Ran, Kakak mau minta maaf untuk semuanya." Ana menatap genggaman tangannya bersama Rania yang begitu erat.


"Aku sudah memaafkan Kakak. Lagipula semua bukan salah Kakak sepenuhnya," sahut Rania, dia menatap kedua bola mata kakaknya yang terlihat begitu sedih.


"Kakak mau ke mana?"


"Kakak yakin, besok pasti akan ada anggota kepolisian yang datang kesini dan menangkap Kakak karena rekaman percakapan Kakak dan Jack sudah sampai di tangan mereka." Ana merebahkan kepalanya di samping genggaman tangan mereka berdua.


"Kakak benar-benar sangat menyesal, Ran. Entah kenapa Kakak bisa sejahat itu kepada kamu. Kamu mau kan berjanji untuk tetap tersenyum bahagia," pinta Ana. Tanpa sadar, airmata Ana keluar dari kedua sudut matanya.


"Aku tidak akan membiarkan Kakak tinggal di balik jeruji besi."

__ADS_1


"Tapi Ran ...."


"Kak, aku yang jadi korban di sini. Jadi, aku yakin bisa menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan."


"Jangan Ran," cegah Ana. "Kalau aku tidak jadi ditahan itu artinya Jack juga tidak akan ditahan dan justru itu yang membuat aku sangat khawatir dia akan melukai kamu. Dia mengincar kamu karena dia ingin menghancurkan Al lewat kamu."


"Hahaha." Ana mengangkat kepalanya saat melihat Rania yang justru tertawa. "Kak, semua tidak ada hubungannya dengan Al, kalau pun Jack akan menyakitiku aku yakin Al akan tetap bersikap biasa saja." Suara Rania terdengar di buat seolah dia baik-baik saja tapi Ana bisa menangkap sebuah kesedihan dan luka dari raut wajah Rania.


"Ran, Al juga mencintaimu." Rania menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ana.


"Tidak, hanya aku yang mencintai Al tapi dia tidak mencintaiku. Bukankah Kakak tadi mendengar kalau dia meminta maaf saat aku mengatakan sudah jatuh cinta padanya sejak lama? Bahkan dia pergi begitu saja tanpa berpamitan lagi." Rania mengalihkan pandangannya, dia tidak berani menatap ke arah Ana karena dia takut Ana akan mengetahui kalau dia sedang terluka saat ini.


"Sudahlah, Ran. Jangan bahas ini dulu, kalau memang kalian berdua berjodoh pasti akan ada jalan untuk kalian bersama." Rania mengangguk, dia berusaha memejamkan matanya meski pikirannya masih saja memikirkan Alvino, sedangkan Ana berjalan menuju ke sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.


...🍫🍫🍫🍫🍫...


Mau double up lagi malah kesiangan.


Aduh, bab selanjutnya nanti yaa


🙊🙊🙊

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.


__ADS_2