Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
75


__ADS_3

Nadira yang baru saja pulang dari kantor, segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Meskipun pekerjaannya tidak berat, tapi entah mengapa dia merasa tubuhnya sangat lelah. Di saat dirinya baru saja memejamkan mata, Aluna masuk ke dalam kamar dan duduk di sampingnya, hingga Nadira kembali membuka kedua bola matanya.


"Kamu lelah, Nad?" tanya Aluna sambil mengusap puncak kepala putrinya.


"Yes, Mom. Rasanya tulangku mau patah." Nadira tidur menyamping dan merebahkan kepalanya di atas paha Aluna.


"Kamu hanya belum terbiasa, Nad. Bolehkah Mommy bertanya sesuatu?" Nadira mendongak, menatap raut wajah Aluna yang terlihat bimbang. "Apa kamu serius dengan Dion?"


"Kenapa Mommy bertanya seperti itu?" Nadira bertanya balik dengan malas.


"Tidak papa, kalau memang kalian serius dengan hubungan kalian, suruh dia datang ke sini untuk melamarmu dan setelah kalian lulus kuliah. Kalian berdua akan langsung menikah." Nadira langsung terduduk setelah mendengar ucapan Aluna yang memerintah.


"Mom, kenapa Mommy tiba-tiba menyuruh Dion melamarku?" tanya Nadira kesal. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa tidak ada angin ataupun hujan, sang mommy memberi perintah seperti itu.


"Nad, kamu ini anak perempuan Mommy, satu-satunya. Daddy dan Mommy benar-benar ingin menjaga kamu. Sebelum hal buruk terjadi, lebih baik kalian berdua terikat ke hubungan yang lebih serius lagi. Bahkan, kalau kamu mau, kalian bisa langsung menikah."


"Tidak, Mom! Nadira masih ingin fokus ke kuliah. Lagipula, Nadira dan Dion bisa menjaga kok, Mom. Selama kita pacaran juga kita tidak pernah melakukan macam-macam."

__ADS_1


"Ya, Mommy tahu dan percaya, tapi kamu harus ingat, Nad. Tidak semua manusia selalu di jalan yang benar, ada saatnya manusia tanpa sadar melakukan kekhilafan dan Mommy tidak mau kalau itu sampai terjadi diantara kalian."


"Pikiran Mommy terlalu jauh!" Nadira memunggunggi Aluna karena marah.


"Mungkin bagi kamu pikiran Mommy terlalu jauh, tapi kamu harus ingat. Batin seorang ibu itu sangat kuat, Nad. Mommy hanya ingin menjaga kamu sebaik mungkin, karena hanya kamu anak perempuan Mommy satu-satunya. Kalau Dion tidak mau melamar kamu, lebih baik hubungan kalian putus sampai di sini!"


"Mom! Nadira tidak mau! Sejak kapan Mommy jadi suka memerintah seperti ini?!" Suara Nadira terdengar meninggi.


"Percayalah, Mommy hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Lagian kamu tidak mau kan menikah dengan Nathan?"


"Tidak! Kak Nathan genit. Berbeda dengan Dion yang selalu sayang dan tidak pernah genit ke cewek manapun."


"Mommy kasih waktu satu minggu, kalau Dion tidak datang melamarmu. Maka hubungan kalian harus berakhir," perintah Aluna benar-benar tidak bisa di ganggu gugat. Aluna beranjak bangun dan berjalan keluar dari kamar Nadira, sedangkan Nadira hanya bergeming di posisinya.


Nadira segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Dion, hampir tiga kali dia menghubungi nomor kekasihnya, tapi tidak ada satupun panggilannya yang terangkat. Nadira membanting ponselnya di atas kasur.


"Nyebelin!" gerutu Nadira. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering, dengan kesal Nadira mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


"Sayang, kamu ke mana saja! Aku lagi kesal! Mommy menyuruhmu untuk melamarku, kalau dalam satu minggu kamu tidak datang melamarku maka hubungan kita harus berakhir!" Hening, Nadira menautkan kedua alisnya saat tidak mendapatkan sahutan dari seberang. "Sayang?"


"Aku akan datang melamarmu, Nat." Tubuh Nadira membeku saat mendengar sahutan dari seberang bukanlah suara kekasihnya. Dia menurunkan ponselnya, dan kedua matanya membola saat melihat nama Nathan yang tertera di ponselnya.


"Ish! Kenapa justru Kak Nathan yang meneleponku? Aku bukan bicara sama Kak Nathan!"


"Ya, aku tahu, tapi kalau Dion tidak mau melamarmu, maka aku akan datang melamarmu."


"Cih! Jangan terlalu percaya diri! Aku tidak mau sama cowok genit kaya Kak Nathan. Aku juga yakin kok, kalau Dion pasti mau melamarku. Dia baik dan setia, tidak seperti Kak Nathan yang buaya!" Tut tut tut. Nadira mematikan panggilan itu secara sepihak, dia kembali melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Namun, setelah itu dia meremas dadanya kuat, karena merasakan rasa sesak yang kembali terasa menghimpit.


"Kenapa aku merasa kalau aku sudah keterlaluan sama Kak Nathan?" gumam Nadira. Dia benar-benar merasa bingung dengan perasaannya. Dia sangat mencintai Dion, tapi kenapa dia tidak pernah merasakan perasaan aneh yang akhir-akhir ini datang menyergapi dirinya saat dia berdekatan dengan Nathan.


...🍫🍫🍫🍫...


Hayo loh, Nad. Siapa yang bakal datang melamarmu, Nathan atau Dion?


Ciee yang lagi dag dig dug 🙊🙊

__ADS_1


Ayo dong, kasih Author dukungan, biar semangat nulis Author yang lagi agak down bisa kembali membara 😂


__ADS_2