
Febian duduk di atas rerumputan di pinggiran Danau, matanya menatap langit senja warna merah jingga yang terpantul di atas air Danau yang begitu tenang. Hampir setengah jam dia menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda kehadiran orang yang di tunggunya.
"Aku tahu kamu pasti tidak akan datang," gumamnya lirih. Dia beranjak berdiri dan hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. Namun, saat dia berbalik, tubuhnya terpaku pada sosok gadis cantik yang berdiri di depannya.
Gadis yang terbiasa berpenampilan sedikit tomboy itu kini terlihat cantik dalam balutan gaun panjang yang sangat apik. Kacamata tebal yang setiap hari menghiasi wajahnya kini tidak berada di tempatnya, bahkan senyum manis yang terukir di bibirnya seolah mampu membuat jantung Febian berdebar-debar. Tatapan mata Febian terkunci kepada sosok yang sudah di kaguminya sejak kecil.
"Maaf Bi, aku terlambat." Febian tersadar dari keterdiamannya saat mendengar suara Rania.
"Tidak apa-apa, Ran. Kamu cantik sekali," puji Febian tanpa sadar, membuat pipi Rania merona merah. Rania berjalan mendekati Febian dan mereka berdua duduk berdampingan menatap ke arah Danau.
"Ada kejutan apa untukku, Bi?" tanya Rania tak sabar, senyum di bibir Rania masih tercetak jelas. Febian tidak menjawab, dia hanya merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak bludru berbentuk hati dari sana.
"Ran, aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tetapi aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Febian beralih berjongkok di depan Rania, dia menujukkan kotak itu dan membukanya, mata Rania menatap ke sebuah cincin yang berada di dalam kotak itu.
"Ran, maukah kamu menjadi kekasihku dan menjadi istri serta ibu dari anak-anakku kelak?" tanya Febian dengan senyum manis menghiasi bibirnya, Rania menatap lekat ke arah Febian. Dia melihat senyum Febian yang begitu menawan tetapi senyum itu tidak mampu membuat hatinya bergetar.
__ADS_1
"Maaf, Bi. Aku tidak bisa," sahut Rania lirih. Dia sedikit menunduk untuk menghindari tatapan matanya dari Febian.
"Kenapa?" Senyum di bibir Febian memudar terganti dengan raut wajah yang sangat kecewa.
"Bi, bagiku kamu hanyalah sebatas sahabatku dan aku tidak memiliki rasa lebih dari itu." Rania menatap Febian, agar dia yakin ucapannya tidaklah main-main.
"Ran, apa kamu yakin kamu tidak mencintaiku walau sedikit pun?" tanya Febian memastikan. Rania menggeleng dengan perlahan, manik matanya menatap air Danau yang begitu tenang.
"Maaf Bi, aku sudah memiliki seseorang yang sudah mencuri hatiku sejak dulu dan aku tidak bisa lagi memberi hatiku untuk orang lain lagi," sahut Rania getir. Bayangan malam itu saat bersama Alvino kembali terputar dari memori otaknya. "Walau aku tidak bisa memiliki dia, tetapi aku benar-benar sudah menaruh seluruh hatiku padanya," imbuhnya.
"Ran, apakah orang itu adalah Kak Al?" Bukan jawaban yang Febian dapatkan tetapi helaan napas panjang yang di dengarnya.
"Kamu tidak perlu tahu dia siapa, Bi." Febian menggenggam tangan Rania, sedangkan Rania hanya bisa terdiam.
"Tidakkah ada sedikit perasaanmu untukku, Ran."
__ADS_1
"Maaf, Bi. Bagiku kamu hanyalah sebatas sahabatku tidak lebih," sahut Rania tegas. Ya, memang benar apa yang di katakan Alvino waktu itu bahwa dirinya harus bisa tegas pada perasaannya sebelum dirinya melukai lebih banyak hati.
"Kalau begitu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya bisa mendoakan kebahagianmu, Ran. Terima kasih untuk semuanya." Febian bangkit berdiri dan hendak beranjak pergi dari tempat itu.
"Bi, bisakah kita tetap bersahabat seperti sebelum ini? Aku tidak mau kehilangan sahabat sepertimu," ucap Rania pelan, dia ikut berdiri dan menatap tubuh Febian yang berdiri tiga langkah di depannya.
"Aku akan mencobanya, Ran." Febian tidak berbalik sedikit pun, dia justru pergi begitu saja tanpa berpamitan. Rania menatap punggung Febian yang perlahan menjauh itu.
"Maafkan aku, Bi. Aku sudah sangat menyakitimu hatimu saat ini. Aku hanya tidak ingin cintamu padaku semakin dalam dan aku akan semakin dalam pula menyakitimu," gumam Rania.
Dia memejamkan kedua matanya, sekarang dia merasa sudah sangat melukai hati Febian. Rania tidak bisa berbuat dan berkata apa-apa lagi, tetapi kalau boleh jujur hatinya merasa lebih lega walaupun mungkin hubungan dirinya dengan Febian tidak akan seakrab dulu lagi.
Jangan lupa dukungan kalian untuk author buat penyemangat nulis yaa
bisa kasih like, komentar, hadiah, apalagi Vote.
__ADS_1
Author terima dengan senang hati