Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
84


__ADS_3

Setelah kepergian Jo, Mila dan Nathan, kini keluarga Alexander dan Dion duduk bersama di ruang tamu. Emosi Alvino mulai mereda setelah Rania berkali-kali menenangkannya. Davin dan Aluna menatap lekat ke arah Dion yang sedang duduk berdekatan dengan Nadira.


"Dion, apa kamu serius dengan Nadira?" tanya Aluna tanpa memutus pandangannya ke arah Dion.


"Iya Nyonya. Saya serius dengan Nadira," sahut Dion sopan. Aluna beralih menatap ke arah Nadira, ia bisa melihat kebimbangan di wajah putrinya itu.


"Nad, apa kamu sudah akan yakin memilih Dion?" Kali ini Davin yang mengeluarkan pertanyaan. Nadira masih terdiam, tidak menjawab sama sekali. Hanya hembusan napas kasar yang terdengar berkali-kali keluar dari mulut Nadira.


"Nadira," panggil Aluna penuh penekanan. Nadira menatap ke arah orang tuanya yang sedang menatapnya tajam.


"Iya Mom, Dad. Aku memilih Dion." Suara Nadira terdengar begitu berat.


"Baik, kalau kamu sudah memilih Dion. Karena keputusannya sudah kamu ambil, Mommy harap kamu tidak pernah menyesal dengan keputusanmu sendiri." Nadira menanggapi ucapan Aluna hanya dengan anggukan kepala.


"Dion. Aku memberimu waktu satu minggu. Kami sekeluarga menunggu kedatangan keluargamu. Jika lebih dari seminggu kamu tidak datang, walaupun kalian saling mencintai, hubungan kalian harus tetap berakhir," ucap Davin tegas.


"Baik Tuan, Nyonya. Saya dan keluarga akan datang sebelum satu minggu," sahut Dion sambil menatap mereka bergantian.


"Sekarang lebih baik pulanglah, ini sudah malam. Kami menunggu kedatangan keluargamu," usir Aluna secara halus. Dion yang sadar diri segera berpamitan pulang. Nadira pun mengantar kekasihnya sampai teras mansion.


"Dion, kamu akan datang 'kan?" tanya Nadira ragu. Dion mencium kening Nadira dan memeluknya erat.


"Pasti! Aku pasti akan datang," sahut Dion yakin.

__ADS_1


"Aku mau tanya, waktu aku meneleponmu aku dengar soal cincin pertunangan. Apa itu cincin pertunangan itu untukku?" tanya Nadira dengan tatapan menyelidik. Wajah Dion terlihat gugup, tapi dia tetap terlihat setenang mungkin.


"Tentu saja. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu. Kita lihat saja minggu depan. Aku pulang dulu, tidurlah yang nyenyak, Baby." Setelah berpamitan, Dion segera berjalan menuju ke mobilnya.


Nadira hanya memandang kepergian mobil Dion yang sudah keluar dari mansion. "Kenapa aku sekarang mulai ragu?" gumam Nadira sambil masuk ke dalam mansion lagi.


"Nadira! Kamu benar-benar sudah yakin dengan pilihanmu?" tanya Davin memastikan.


Nadira menatap keluarganya bergantian. "Ya, Nadira mau istirahat dulu." Nadira pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari keluarganya. Aluna pun menyuruh Alvino, Rania dan Febian untuk kembali ke kamar mereka.


"Kak," panggil Rania saat ia dan Alvino sudah masuk kamar. Alvino menatap wajah Rania dengan lekat. "Apa Kak Al tidak merasakan sesuatu atas apa yang Kak Nathan lakukan?" tanya Rania lirih. Dia takut suaminya akan tersinggung dengan pertanyaannya, mengingat bagaimana suaminya memukul Nathan dengan penuh amarah.


"Aku dan Nathan bersama sejak kecil. Aku sudah paham, Nathan itu orang yang seperti apa," sahut Alvino sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rania pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Nathan.


"Karena aku kecewa dia menyembunyikan sesuatu dariku," jawab Alvino sambil mencium puncak kepala Rania berkali-kali. "Kita ikuti saja alurnya, dan aku berharap Nadira tidak akan terluka ataupun kecewa. Lebih baik sekarang kita olahraga saja, biar emosiku sedikit mereda," goda Alvino sambil menciumi pipi Rania yang sudah terlihat merah merona.


"Kak, kalau kita sering melakukannya, aku takut hamil," ucap Rania lirih.


"Memang kenapa kalau kamu hamil? Kamu hamil karena suamimu sendiri, apa kamu malu?" Suara Alvino mulai terdengar sedikit meninggi.


"Tidak Kak, tapi kan aku masih kuliah." lirih Rania, dengan gemas Alvino memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Rania.


"Kamu tenang saja, walaupun kamu masih kuliah, pasti kita bisa mengatasinya. Kalau pun kamu tidak kuliah, aku masih bisa menghidupimu. Apa kamu tidak ingin punya anak yang lucu-lucu denganku?" Alvino menatap penuh harap ke arah Rania.

__ADS_1


"Tentu saja aku mau, Kak. Bisa menikah dengan Kak Al saja aku sudah bahagia apalagi bisa memiliki anak yang lucu dengan Kak Al. Aku yakin kebahagiaanku akan semakin sempurna." Rania terdiam saat Alvino menghujami banyak ciuman di seluruh wajahnya.


"Aku mencintaimu," ucap Alvino lembut dan Rania tersenyum bahagia saat mendengarnya. "Ayo kita berusaha mencetak anak yang lucu-lucu," ajak Alvino menggoda. Bibir mereka saling beradu dan setelahnya, ******* dan erangan terdengar memenuhi kamar Alvino.


***


"Mam, mereka memberi waktu satu minggu untuk kita. Kalau aku tidak datang, aku harus memutuskan hubunganku dengan Nadira."


"Baiklah, nanti Mama suruh papa pulang bersama Tante Evelyn. Biar mama angkatmu itu yang datang menemanimu."


"Baiklah. Aku tunggu, tapi kuharap kalian jangan terlalu menyakiti Nadira."


"Kamu benar-benar sudah jatuh cinta dengan Nadira?" tanyanya menyelidik. Dion hanya menghembuskan napasnya secara kasar.


"Baiklah. Kamu tenang saja."


Dion mematikan panggilan itu dan menaruh ponselnya ke sembarang tempat. "Maafkan aku, Nad." Dion mengacak-acak rambutnya secara kasar.


...🍫🍫🍫🍫...


Nih Othor Kalem kasih kode,


Ada yang bisa menebak selanjutnya? Ayo ingat-ingat, kira-kira siapa yang mau nyari masalah sama Keluarga Alexander.

__ADS_1


dukungannya jangan lupaaaa 😁


__ADS_2