Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
42


__ADS_3

"Maksud kamu?" tanya Ana belum paham.


"Sebenarnya yang akan ku lamar satu bulan lagi bukan Rania tetapi kamu An. Namun, sekarang kamu membuatmu sangat kecewa dengan niat busukmu yang ingin mencelakai Rania!"


"Apa?!" Tuan Sandi berteriak tidak percaya dengan ucapan Kenan, dia melangkahkan kakinya mendekati tempat Ana berdiri.


"Papa," panggil Ana dan Rania bersamaan.


"Apa maksud pertanyaan Kenan? Kamu berniat mencelakai Rania?!" tanya Tuan Sandi membentak.


"Maafkan Ana, Pa." Ana menundukkan kepalanya karena takut dengan amarah sang papa.


"Dasar anak tidak tahu di untung!" Plak! Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Rania hingga luka di sudut bibir Rania yang telah mengering kembali mengalirkan darah. Tuan Sandi begitu terkejut melihat gerakan cepat Rania yang menghalangi wajah Ana dari tamparan tangannya hingga wajah Rania sendiri yang terkena tamparan itu.


Rania memejamkan matanya sambil memegangi hidung dan pipinya yang terasa memanas. Dia yakin ada darah yang keluar dari bekas tamparan yang sangat keras dari tangan papanya karena dia merasakan ada yang mengalir keluar dari hidungnya.

__ADS_1


"Pa, semua bukan salah Kak Ana, tetapi salah Rania yang sudah hadir di antara kalian." Rania masih memejamkan kedua bola matanya saat merasakan kepalanya berdenyut sakit.


"Sayang, maafkan Papa sudah menyakitimu." Tuan Sandi terlihat begitu menyesal, dia memegang wajah Rania dan terkejut saat melihat darah keluar dari hidung dan sudut bibir Rania.


"Luka ini tidak sebanding dengan rasa sakit hati kak Ana karena kehadiranku, Pa. Aku sayang Papa dan Kak Ana," ucap Rania lirih sebelum tubuhnya jatuh terkulai. Tubuh Rania hampir saja terjatuh di atas aspal jika Tuan Sandi tidak segera menahannya.


Raut wajah semua orang menjadi begitu khawatir termasuk Ana, dia merasakan hatinya seolah diremas dengan sangat kuat saat melihat Rania yang pingsan dengan darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya.


Tuan Sandi segera membopong tubuh Rania dan membawanya ke rumah sakit, sedangkan Ana segera naik ke atas motor dan melajukan dengan kencang motornya mengikuti mobil Tuan Sandi dari belakang. Sementara yang lainnya hanya berdiri di posisinya melihat kepergiaan Tuan Sandi. Ingin sekali Alvino mengikuti mereka tetapi dia harus menyelesaikan Jack terlebih dahulu.


"Al! Aku sangat membencimu! Kenapa kamu selalu saja bisa mengalahkanku?!" teriak Jack sebelum dia di seret ke kantor polisi.


"Kamu harus tahu Jack, semua kecurangan tidak akan pernah bisa menang! Aku tahu kamu sengaja memanasi Ana agar dia iri dengan Rania, karena kamu tahu Rania adalah orang yang aku sayang, jadi kamu ingin menghancurkanku lewat Rania," ucap Alvino dengan seringai tipis di sudut bibirnya, sedangkan Jack menggeram kesal karena Alvino bisa menebak segala rencananya.


"Aku membencimu Al!" teriak Jack, dia meronta berusaha melepaskan tangannya dari Max, tetapi dia kalah tenaga.

__ADS_1


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rania, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!" ancam Alvino.


"Hahaha." Tawa Jack terdengar begitu menggelegar. "Aku justru berharap semoga Rania itu mati! Aku ingin melihat kamu hancur, Tuan Muda Alvino! Hahaha." Semua bergidik ngeri saat mendengar suara tawa yang keluar dari mulut Jack.


"Dasar bede*ah!!" umpat Alvino marah. Dia hendak mendekati Jack tetapi Kenan segera menahan tubuh Alvino.


"Sabar Al, kamu harus bisa mengontrol emosimu." Kenan berusaha menenangkan Alvino dan sekuat tenaga menahan Alvino yang terus meronta.


"Beri dia hukuman seberat-beratnya, Pak. Soal Ana, kalian bisa menangkapnya besok." Ketiga anggota kepolisian itu mengangguk paham, mereka mengambil alih cekalan tangan Max dan segera membawa Jack ke kantor.


"Aku harus menyusul Rania!" Wajah Alvino berubah sangat khawatir setelah mobil kepolisian sudah pergi dari tempat itu, dia segera mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku celana dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.


"Tuan, biar saya saja yang menyetir," tawar Max menahan tubuh Alvino yang hendak duduk di kursi kemudi. "Saya tidak ingin Anda menyetir dalam keadaan cemas seperti ini Tuan, saya khawatir dengan keselamatan Anda." Alvino hanya mengiyakan, dia berpindah duduk di kursi penumpang. Nathan dan Kenan juga ikut masuk ke dalam mobil. Setelah semua duduk di posisinya, Max segera melajukan mobil itu menuju ke rumah sakit untuk menyusul Rania.


Semoga kamu baik-baik saja. Kalau sampai ada hal buruk yang terjadi padamu, maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2