
Mansion Alexander
Alvino memakai jam di pergelangan tangannya sembari berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan untuk sarapan. Sesampainya di ruang makan, dia melihat seluruh anggota keluarganya sudah duduk di kursi mereka masing-masing.
"Selamat pagi Mom, Dad." Alvino mencium pipi Aluna lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang berada di samping Aluna.
"Kamu tidak mencium Daddy?" tanya Davin dengan suara ketus.
"No, Dad. Aku tidak suka mencium pria tampan."
"Al ...."
"Sudahlah, jangan saling memulai perdebatan. Saatnya kita sarapan sebelum kalian terlambat." Aluna mengambilkan nasi beserta sayur dan lauk untuk Davin, sedangkan ketiga anaknya mengambil sendiri sarapan mereka.
"Kak, nanti Kakak mau menjenguk Rania?" tanya Febian di sela kunyahannya. Davin, Aluna dan Nadira menghentikan sarapan mereka sesaat dan menatap ke arah Alvino dan Febian secara bergantian.
"Mungkin nanti sore sepulang kerja," sahut Alvino sembari tetap memakan sarapannya tanpa menoleh ke arah Febian. Senyum di wajah mereka bertiga terbit saat melihat Alvino dan Febian sudah saling bicara lagi.
"Rania dirawat di rumah sakit?" tanya Nadira memastikan.
"Ya, semalam dia demam jadi dia harus dirawat inap," sahut Alvino tanpa menoleh ke siapapun.
"Bi, kalau kamu mau jenguk Rania, aku ikut ya. Nanti aku ajak si Cacha Maricha Hehey juga." Nadira meletakkan sendoknya dan menggoyangkan lengan Febian dengan perlahan.
"Iya, nanti sepulang kuliah kita langsung ke sana sekalian sama si Anak Kambing."
"Bi!" Aluna menatap tajam ke arah Febian yang sedang tersenyum seolah tak berdosa.
"Apa yang salah, Mom? Bukankah semua memang benar?" Febian menunjukkan senyum meledeknya, membuat Aluna semakin terlihat kesal.
"Jangan bicaramu Bi atau kamu akan melihat kemarahan Uncle Jo."
"Sudah Sayang, jangan marah-marah. Nanti kecantikanmu berkurang." Kali ini Davin yang berusaha mencegah perdebatan antara Aluna dan Febian. Mereka semua pun terdiam dan kembali menghabiskan sarapan mereka.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Alvino segera berpamitan ke kantor sedangkan Nadira dan Febian berpamitan untuk berangkat kuliah karena hari ini mereka memiliki kelas pagi.
"Mas, bagaimana kalau kita menjenguk Rania?" ajak Aluna setelah ketiga anak mereka sudah keluar dari mansion.
"Boleh, mau sekarang?"
"Aku bersiap-siap dulu," kata Aluna sambil berjalan menuju ke kamarnya.
"Jangan berdandan terlalu cantik, aku tidak mau kecantikanmu di lihat banyak orang!" Aluna berbalik dan menatap malas ke arah Davin.
"Mas, kamu tenang saja. Tidak akan ada yang tergoda sama aku. Ingat! Sebentar lagi kita akan punya anak mantu." Davin terkekeh melihat wajah istrinya yang terlihat kesal sedangkan Aluna kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
🍀🍀🍀🍀🍀
Rumah Sakit Harapan.
"Selamat pagi menjelang siang," sapa Aluna saat dia memasuki ruangan VVIP di mana tempat Rania dirawat.
"Pagi juga." Tuan Sandi dan Rania yang sedang duduk berdua seketika terkejut melihat kedatangan Davin dan Aluna.
"Maaf sekali kedatangan kami mengganggu kalian, Tuan." Suara Aluna terdengar begitu ramah.
"Tidak, Tuan dan Nyonya. Kalian tidak mengganggu sama sekali."
"Hai Rania, apa kabar?" tanya Aluna sambil berjalan mendekati Rania yang sedari tadi memandanginya.
"Baik Nyonya." Suara Rania terdengar begitu lirih.
"Jangan panggil Nyonya. Aku akan senang kalau kamu mau memanggilku tante atau bahkan mommy sekalian." Aluna menarik senyumnya lebar tetapi Rania hanya tersenyum tipis sembari menundukkan kepalanya.
"Tuan Davin, mari duduk di sini." Tuan Sandi menunjuk sofa yang berada di ruangan itu tetapi Davin menggeleng perlahan.
"Terima kasih, Tuan. Bagaimana kalau kita mengobrol di luar saja sekalian ngopi, biar istri saya yang bergantian menemani Rania," ajak Davin. Tuan Sandi tidak langsung menjawab, dia menatap ke arah Rania terlebih dahulu untuk meminta izin. Setelah melihat Rania mengangguk perlahan, Tuan Sandi segera menyetujui ajakan Davin.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, Sayang." Davin mencium kening dan puncak kepala Aluna sebelum keluar dari ruangan bersama Tuan Sandi.
Selepas kepergian dua lelaki paruh baya itu, suasana di dalam ruangan menjadi hening karena Aluna maupun Rania tidak ada yang membuka suaranya. Kedua bola mata Aluna menatap lekat wajah cantik Rania, tangan Aluna memegang kedua pipi Rania dengan lembut.
"Kenapa sudut bibirmu membiru?" tanya Aluna sambil mengamati sudut bibir Rania yang membiru karena dua kali terkena tamparan.
"Tidak kenapa-kenapa, Nyonya."
"Kamu yakin?" Rania tidak menjawab, dia hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Oh iya, di mana Ana?" Aluna mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan karena dia tidak melihat keberadaan saudara kembar Rania.
"Dia sudah menyerahkan diri ke kantor polisi, Nyonya." Kedua alis Aluna saling menaut saat mendengar jawaban dari Rania, dia bisa melihat wajah Rania yang terlihat begitu sedih.
"Memang apa yang Ana lakukan?"
"Tidak ada, Nona. Maaf, saya tidak bisa menjawabnya."
"Ya sudah, tidak apa. Aku juga tidak akan memaksa kamu untuk menjawabnya. Istirahatlah supaya kamu lekas sembuh." Tanpa sadar Aluna memeluk tubuh Rania dengan erat, sedangkan Rania hanya terdiam dalam pelukan Aluna.
Aku rindu sekali dengan pelukan seorang mama. Batin Rania, tanpa sadar airmata Rania menetes saat teringat mamanya yang telah meninggalkan dia selamanya.
...🍫🍫🍫🍫🍫...
Selamat pagi! Semangat pagi!
Author minta maaf ya, sudah mengingkari janji Author kemarin karena Author enggak jadi up.
Karena sesuatu hal jadi Author gak bisa up.
Masih semangat kan baca cerita ini?
Yuk jangan lupa dukungannya dan tinggalkan jejak.kalian.
__ADS_1
Eh, gabung di Group Chat Author yuk, kita ramein GC Author yang sepi kaya kuburan 😂😂
Salam sayang dari Author recehan 😊