
Belum juga Alvino mengeluarkan suaranya, Nathan dan Kenan datang bersama dua orang polisi yang barusan di dalam kantor. Sementara Tuan Sandi dan kedua putrinya hanya diam di tempatnya karena mereka tidak mengetahui apa yang di rencanakan oleh Alvino.
"Sudah cukup waktumu untuk bebas, Jack. Selamat menikmati dinginnya jeruji besi lagi!" Alvino bicara dengan penuh penekanan dan senyum seringai di sudut bibirnya.
"Apa maksudmu?!" tanya Jack berteriak.
"Transaksi narkoba berkali-kali di jalan yang sama dengan seorang lelaki yang hampir seumuranmu. Bahkan aku ingat kamu memakai sebuah topi bergambar naga," sahut Alvino, wajah Jack seketika menggeram kesal.
"Sial! Aku sangat membencimu, Al!" murka Jack, tetapi Alvino tetap bersikap biasa saja.
"Simpan amarahmu, jangan buang tenagamu dengan sia-sia," kata Alvino puas.
Namun, tanpa banyak bicara Jack segera menarik tubuh Rania yang berdiri tidak jauh darinya, dan menaruh lengannya melingkar di leher Rania. Semua terkejut melihat gerakan Jack yang tiba-tiba, Sementara Alvino mulai terlihat sangat khawatir.
"Lepaskan Rania!" perintah Alvino membentak, tetapi Jack hanya tersenyum tipis. Rania terlihat meronta, berusaha melepaskan lengan Jack tetapi dia kalah tenaga.
__ADS_1
"Tidak akan, Hahaha." Tawa Jack terdengar menggelegar. "Aku tahu, Al. Gadis ini sangat berarti untukmu dan aku ingin melihat bagaimana hancurnya kamu melihat orang yang kamu sayangi ini ...." Jack mendekatkan wajahnya ke wajah Rania yang terlihat ketakutan. "Mati! Hahaha," sambungnya.
Semua sangat khawatir kepada Rania setelah mendengar ucapan Jack, kedua tangan Alvino mengepal erat dengan rahang yang telah mengeras, tetapi dia tidak mau bertindak gegabah. Karena nyawa Rania sedang terancam saat ini.
Alvino mengangkat tangannya, menahan anggota polisi yang sudah menodongkan sejata mereka ke arah Jack dan Rania agar tidak menarik pelatuknya, karena Alvino khawatir jika Rania yang akan terluka.
"Lepaskan aku!" Rania masih meronta, berusaha menyingkirkan tangan Jack dari lehernya.
"Tidak akan, gadis cantik. Membunuhmu atau tidak, aku tetap akan masuk penjara. Jadi, lebih baik aku membunuhmu dan melihat Al hancur!" Tubuh Rania terlihat gemetar saat mendengar suara Jack yang terdengar memekik, dan telapak tangan Jack yang mengusap pipinya dengam sangat lembut.
"Tenang saja, Al. Aku akan membunuh gadis kesayanganmu ini dengan lembut dan penuh cinta. Hahaha." Mendengar tawa Jack yang kembali menggelegar, tubuh Rania meringsut takut bahkan kedua matanya telah berkaca-kaca.
"Aku mohon lepaskan aku," pinta Rania memelas. Alvino yang melihat Rania memohon seperti itu menjadi tidak tega. Dia melangkahkan kakinya mendekati Rania, sedangkan Jack semakin mengeratkan lengannya di leher Rania hingga membuat Rania memejamkan matanya karena merasakan napasnya yang begitu sesak. Alvino semakin khawatir saat melihat Rania yang mulai terengah-engah.
"Nat!" panggil Alvino berteriak bersamaan dengan Nathan yang memukul tengkuk Jack dengan keras.
__ADS_1
"Akh!" erang Jack kesakitan. Lengannya terlepas begitu saja dari leher Rania dan tubuhnya terjatuh karena serangan tiba-tiba dari arah belakang. Sementara Alvino yang melihat Rania hendak terjatuh, segera menangkap tubuh Rania yang sudah lemah dan memeluknya dengan sangat erat.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Alvino khawatir, dia mengecup puncak kepala Rania berkali-kali untuk memberikan ketenangan.
"Aku takut Kak." Suara Rania terdengar begitu bergetar, Alvino semakin mengeratkan pelukannya.
"Sial!" umpat Jack kesal saat Nathan sudah memegang kuat tangan kirinya yang sudah di tarik ke belakang dengan kaki kanan Nathan yang berada di atas tubuhnya yang masih terbaring. Tubuhnya benar-benar sudah terkunci, sedangkan kedua anggota kepolisian itu hanya diam menatap ke arah mereka.
"Pak polisi yang tampan, bisakah kalian meminjamiku sebuah borgol?" Nathan bertanya dengan bercanda, salah satu polisi itu maju memberikan borgol kepada Nathan dengan menahan tawanya. Setelah menerima borgol itu, Nathan segera memasangnya di kedua tangan Jack hingga Jack semakin tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
"Kamu tahu Tuan Jack! Setiap perbuatan pasti ada balasannya. Selamat menikmati hasil dari apa yang kamu tanam!" ledek Nathan.
"Nat, jangan terlalu banyak bicara!" sewot Alvino kesal. Nathan berbalik dan menatap malas ke arah Alvino dan Rania yang masih berpelukan.
"Al! Bisakah kamu tidak berpelukan mesra di depanku, kamu ini menodai mata suciku!" protes Nathan berpura-pura marah. Alvino segera menatap tajam ke arah Nathan yang sedang menunjukkan rentetan gigi putihnya dengan jari yang menunjuk tanda piece.
__ADS_1