Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
63


__ADS_3

Alvino berdiri dari duduknya, dia berjalan mendekati Rania yang juga sedang berjalan mendekat ke arahnya. Senyum kebahagiaan begitu terpancar dari raut wajah mereka berdua.


Suasana di tempat itu begitu haru, apalagi Kenan yang kini sedang menyanyikan lagu Shane Filan-Beauty in White. Alvino mengenggam tangan Rania dengan erat saat mereka sudah berdiri berhadapan. Alvino tersenyum simpul saat melihat wajah cantik istrinya yang sudah menampilkan semburat merah.


"So as long as I live I love you


Will haven and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight."


Kedua bola mata Rania basah saat Alvino menyanyikan lagu itu tepat di hadapannya. Tangan Alvino beralih menangkup kedua pipi istrinya dan mengusapnya dengan lembut. Mereka tidak peduli dengan semua pasang mata yang menatap ke arahnya. Senyum simpul terlihat jelas di sudut bibir Alvino.


"Aku mencintaimu, Ran. Sangat mencintaimu," ucap Alvino dengan sangat lembut.


"Aku juga mencintaimu, Kak," balas Rania dengan senyum cantik di wajahnya. Alvino mendaratkan banyak ciuman di seluruh wajah Rania, hingga membuat Rania merasa semakin bahagia. Dia menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapannya dan mencium puncak kepala istrinya berkali-kali.

__ADS_1


"Al sangat romantis, aku jadi teringat saat kita menikah dulu." Davin merangkul pundak Aluna dan mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Aku mencintaimu, Sayang."


"Ehem! Pengantin baru dan pengantin usang, sama-sama saling beradu kemesraan." Davin menoleh ke arah Jo yang sedang duduk santai.


"Mas, aku juga pengen di manjain gitu," ucap Mila sambil memeluk tubuh Jo yang duduk di sampingnya.


"Apakah kamu tidak malu?" tanya Jo dengan sedikit kesal.


"Untuk apa aku malu, Mas? Aku memeluk tubuh suamiku sendiri, kalau aku memeluk pria tampan lain, baru aku harus merasa malu. Auh!" Mila berteriak saat jari suaminya menyentil keningnya dengan cukup keras.


"Kamu masih saja menyebalkan!" Jo mencebik kesal.


"Bunda, jangan membuatku malu!" protes Cacha yang baru saja bergabung bersama mereka.


"Bunda bukan mau memalukanmu, Bunda hanya sedang menunjukkan rasa cinta bunda untuk Ayah Jo," ucap Mila dengan suara yang begitu manja dan sebuah kerlingan mata.


"Astaga Mila!" Jo mencubit pipi istrinya dengan cukup keras, karena dia sudah merasa begitu gemas. Mereka pun hanya tertawa melihat tingkah dua manusia yang berbeda kepribadian, tapi saling mencintai itu.


Para orang tua duduk bergabung dalam satu meja, sedangkan para anak muda juga duduk berada dalam satu meja yang lain termasuk dua sejoli yang baru saja menjadi pasangan yang sah.


"Ken, apa kamu sudah memasang kamera tersembunyi?" tanya Nathan saat mereka sedang menikmati makanan yang tersaji di meja itu.

__ADS_1


"Kamera tersembunyi untuk apa?" Kenan justru bertanya balik karena bingung.


"Tentu saja gaya belah duren, bukankah kamu sebentar lagi juga akan menjadi pengantin baru?"


"Astaga, Kak Nathan! Mulutmu kenapa seperti comberan sih!" Nadira berdiri dan membekap mulut Nathan dengan telapak tangannya.


Bukannya meronta, Nathan justru menyandarkan kepalanya di lengan Nadira dan mengusap lengan Nadira dengan lembut. Nadira segera melepas tangannya saat dia merasakan sebuah perasaan aneh menghinggapi hati dan tubuhnya.


"Kak Nathan kok nyebelin banget sih!" Nadira kembali duduk di kursinya tadi. Baru saja Nadira duduk, Febian sudah bangkit berdiri dari kursinya.


"Kamu mau ke mana, Bi?" tanya Nadira heran. Semua pun menatap ke arah Febian yang sedari tadi hanya diam memasang raut wajah datar.


"Nyari angin di luar, aku pergi dulu." Febian bergegas pergi dari ruangan itu tanpa menoleh ke arah Alvino maupun Rania.


"Kak," panggil Rania sambil menatap suaminya dalam. Alvino menggenggam tangan Rania dengan erat dan mengecup pipi istrinya dengan lembut.


"Kamu tenang saja, aku yakin semua pasti akan baik-baik saja. Bi hanya butuh waktu." Alvino berusaha menenangkan istrinya walaupun hatinya juga sedang gelisah saat ini. Nadira yang baru saja duduk, kembali bangkit berdiri dan mengejar Febian yang sudah berjalan keluar dari ruangan.


"Bi! Tunggu aku!" teriak Nadira saat melihat Febian yang hendak membuka pintu mobilnya. Febian menghentikan gerakannya dan terdiam saat Nadira memeluknya dengan sangat erat.


"Kamu hebat!" Suara Nadira terdengar bergetar, seketika Febian membalas pelukan Nadira di tubuhnya. "Kamu benar-benar adikku yang sangat hebat."


Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Davin dan Aluna sudah berdiri tidak jauh dari mobil Febian karena melihat mereka berdua yang lari dengan terburu-buru. Davin memeluk tubuh Aluna dengan erat saat dirinya mulai mendengar isakan lirih dari istrinya.

__ADS_1


__ADS_2