
Nathan mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya yang begitu menyilaukan. Tangannya memijat lembut pelipisnya, untuk mengurangi rasa pusing yang kembali menghampirinya.
"Apa aku benar-benar mati kelaparan? Memalukan sekali, seorang pengusaha muda mati hanya karena kelaparan," gerutu Nathan, ia membuka matanya saat mendapat tonyoran di kepala. "Ya Tuhan, di Surga saja bidadarinya mirip Anin."
"Nathan! Burungmu mau kupotong lagi? Aku bunuh kamu beneran deh, Nat." Anin mencubit perut Nathan, hingga Nathan menjerit kesakitan. Namun, setelah itu Nathan tergelak keras dan Anin hanya mencebikkan bibirnya kesal.
"Ingat, anak cantik tidak boleh marah-marah, kamu mau kecantikanmu luntur? Tidak papa sih, walaupun kecantikanmu luntur, tapi cintaku padamu tidak akan pernah luntur," rayu Nathan. Kedua pipi Anin terlihat merona merah.
"Nathan! Dasar buaya jantan!" umpat Anin kesal.
"Kamu buaya betina. Ya udah, kita pas nih. Jangan-jangan kita jodoh yang tertunda." Nathan kembali menjerit saat cubitan Anin mendarat di perutnya. Tanpa mereka sadari, Nadira sedari tadi sudah berdiri di ambang pintu sambil menatap mereka berdua yang nampak mesra. Nadira mencengkeram kuat baskom kecil di tangannya saat merasakan hatinya memanas.
"Kamu kenapa berdiri di sini, Nad?" Tubuh Nadira terjengkit kaget. Dia berbalik dan melihat Alvino yang sudah berdiri di belakangnya bersama dengan Rania.
"Em, tidak papa, Kak. Aku mau menaruh baskom ini untuk mengompres luka Kak Nathan, tapi perutku sangat mulas, Kak. Tolong, kamu saja yang bawakan masuk ya, Ran." Nadira menyerahkan baskom itu ke tangan Rania. Sebelum Alvino bertanya lebih lanjut, dia segera berlari kembali ke kamarnya.
"Dasar aneh, di kamar ini kan ada kamar mandinya, ngapain jauh-jauh balik kamar," gumam Alvino.
"Biarpun aneh begitu kan dia juga adikmu, Kak." Rania terlihat berusaha menahan tawanya. Alvino menoleh ke arah istrinya, dan mengambil alih baskom kecil itu.
__ADS_1
"Yang penting istriku tidak aneh." Alvino mengecup pipi Rani dengan lembut, seketika semburat merah terpancar jelas di wajah Rania. Mereka berdua masuk ke dalam kamar tamu, tempat Nathan istirahat saat ini. Satu tangan Alvino memegang baskom kecil, sementara satu tangannya merangkul pundak istrinya.
"Aku terharu sekali, Tuan Muda Alvino bersedia membawakan baskom kecil untuk aku si rakyat jelata," seloroh Nathan. Tak ayal, sebuah tonyoran kembali mendarat di kepalanya. "Anin! Daritadi kamu kok kasar banget sih. Aku kalau jadi suami kamu, bisa remuk semua badanku."
"Masa bodoh! Siapa juga yang mau jadi istri kamu. Laki kok mulutnya kaya emak-emak komplek. Lama-lama kugigit juga kamu, Nat." Anin bersungut-sungut.
"Jangan digigit! Dicium aja," timpal Nathan diiringi tawa yang menggema di kamar itu. Namun setelahnya, dia menjerit saat Anin benar-benar menggigit lengannya.
"Ya Tuhan, selain kasar kamu ternyata juga seorang kanibal," cibir Nathan sembari mengusap lengannya yang terdapat bekas gigi Anin di sana.
"Kalian berdua kenapa ribut-ribut sih. Nin, kamu obatin tuh muka si Nathan." Alvino meletakkan baskom itu di dekat Anin, dengan segera Anin mengambil kompres di dalam baskom dan mengompres luka lebam di wajah Nathan.
"Sebenarnya, Nadira yang membawa tadi, tapi dia kembali ke kamar karena perutnya mulas," jelas Alvino sambil mendudukkan tubuhnya di sebelah Nathan.
"Nadira?" Kedua alis Nathan terlihat saling bertautan.
"Ya, tadi dia makan pedas dengan kalap, mungkin sekarang dia terkena imbasnya."
"Bukankah perut Nadira paling tidak bisa menerima makanan yang sangat pedas?" Alvino hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Nathan. "Biar kulihat." Nathan menyingkirkan tangan Anin dan hendak turun dari kasur, tapi Alvino segera menahannya.
__ADS_1
"Jangan macam-macam, Nat." Sorot mata Alvino terlihat begitu menajam.
"Kamu suka sekali berprasangka buruk padaku, Al." Nathan pun mengurungkan niatnya yang hendak melihat keadaan Nadira. Setelah itu, mereka semua membicarakan tentang kejadian di restoran tadi.
Nadira tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia merasa gelisah saat ini, hembusan napas kasar terdengar berkali-kali keluar dari mulut Nadira. Dia meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya untuk menghubungi nomor ponsel kekasihnya.
"Hallo, Nad." Wajah Nadira begitu semringah saat Dion mengangkat panggilannya. "Maaf, Nad. Aku sedang sibuk sekali, aku sedang tidak bisa menghubungimu beberapa hari ke depan."
"Memang kamu sedang sibuk apa? Tumben sekali kamu memanggil namaku saja?" tanya Nadira curiga. Namun, tidak ada sedikitpun sahutan dari Dion.
"Tuan, ini cincin tunangan Anda dan saya jamin ukurannya sudah pas." Nadira terdiam saat mendengar suara seorang wanita dari seberang.
Bukan suara wanita itu yang membuatnya curiga, tapi tentang cincin tunangan yang membuat hati Nadira tidak tenang. Belum sempat Nadira bertanya lebih lanjut, panggilan itu terputus begitu saja. Nadira mencoba menghubungi nomor Dion lagi, tapi nomor itu tidak bisa dihubungi sama sekali. Nadira semakin gelisah, berbagai pikiran buruk datang menghampirinya.
...🍫🍫🍫🍫...
Hayoh loh. Siapa yang mau dilamar Dion?
gadis lain kah? atau malah Dion lagi bikin kejutan untuk Nadira?
__ADS_1
komen dong, biar rame 😂😂😂